I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam dunia pendidikan untuk mengukur tingkat ketuntasan kompetensi siswa dalam menerima pembelajaran, adalah dengan melaksanakan evaluasi pembelajaran. salah satu tugas Direktorat Pembinaan SMK- Subdirektorat Pembelajaran adalah melakukan penyiapan bahan kebijakan, standar, kriteria, dan pedoman serta pemberian bimbingan teknis, supervisi, dan evaluasi pelaksanaan kurikulum, Yaitu sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 14 tahun 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional. Lebih lanjut dijelaskan dalam Permendiknas Nomor 25 tahun 2006 tentang Rincian Tugas Unit Kerja di Lingkungan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah bahwa rincian tugas Subdirektorat Pembelajaran – Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas antara lain melaksanakan penyiapan bahan penyusunan pedoman dan prosedur pelaksanaan pembelajaran, termasuk penyusunan pedoman pelaksanaan kurikulum.
Kebijakan pemerintah Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan mengamanatkan kepada setiap satuan pendidikan dasar dan menengah untuk mengembangkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang mengacu pada Standar Nasional Pendidikan.
Pada kenyataannya dalam dunia pendidikan untuk melaksanakan KTSP termasuk sistem penilaiannya, banyak pendidik yang masih mengalami kesulitan untuk menyusun tes dan mengembangkan butir soal yang valid dan reliabel. Oleh karena itu, Direktorat Pembinaan SMA membuat berbagai panduan pelaksanaan KTSP yang salah satu di antaranya adalah panduan penyusunan butir soal.

B. Tujuan

Setelah guru dapat menyusun kisi-kisi dengan benar dan mengembangkan butir soal yang valid dan reliabel. Diharapkan dapat mengukur tingkat ketuntasan kompetensi siswa SMK dalam menerima pembelajaran.

C. Ruang Lingkup
Ruang lingkup yang dibahas dalam makalah ini meliputi penilaian berbasis kompetensi, teknik, alat penilaian dan prosedur pengembangan tes, penyusunan kisi- isi, dan penyusunan butir soal.

II. PENILAIAN BERBASIS KOMPETENSI

A. Pengertian
Penilaian berbasis kompetensi merupakan teknik evaluasi yang harus dilakukan guru dalam pembelajaran di sekolah guna mengukur tingkat ketuntasan kompetensi siswa. Teknik dan pelaksanaannya diatur di dalam:
• Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
• Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
• Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi
• Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan
• Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan
Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar di dalam Standar Isi menjadi fokus perhatian utama dalam penilaian.

B. Bentuk dan Proses Penilaian
Guru dapat mengetahui tingkat pencapaian kompetensi siswa, dengan melakukan penilaian melalui tes dan non tes. Tes yang akan diujikan meliputi tes lisan, tertulis (bentuk uraian, pilihan ganda, jawaban singkat, isian, menjodohkan, benar-salah), dan tes perbuatan yang meliputi: kinerja (performance), penugasan (projek) dan hasil karya (produk). Penilaian non-tes contohnya seperti penilaian sikap, minat, motivasi, penilaian diri, portfolio, life skill. Tes perbuatan dan penilaian non tes dilakukan melalui pengamatan (observasi). Langkah-langkah pengembangan tes meliputi
(1) menentukan tujuan penilaian,
(2) menentukan kompetensi yang diujikan
(3) menentukan materi penting pendukung kompetensi (urgensi, kontinuitas, relevansi, keterpakaian),
(4) menentukan jenis tes yang tepat (tertulis, lisan, perbuatan),
(5) menyusun kisi-kisi, butir soal, dan pedoman penskoran,
(6) melakukan telaah butir soal.

Penilaian non tes dilakukan melalui pengamatan dengan langkah-langkah
(1) menentukan tujuan penilaian,
(2) menentukan kompetensi yang diujikan,
(3) menentukan aspek yang diukur,
(4) menyusun tabel pengamatan dan pedoman penskorannya,
(5) melakukan penelaahan.

C. Kriteria Bahan Ulangan/Ujian
Bahan ulangan/ujian yang akan digunakan hendaknya menenuhi dua kriteria dasar berikut ini :
1. Adanya kesesuaian materi yang diujikan dan target kompetensi yang harus dicapai melalui materi yang diajarkan. Hal ini dapat memberikan informasi tentang siapa atau peserta didik mana yang telah mencapai tingkatan pengetahuan tertentu yang disyaratkan sesuai dengan target kompetensi dalam silabus/kurikulum dan dapat memberikan informasi mengenai apa dan seberapa banyak materi yang telah dipelajari peserta didik. Berdasarkan ilmu pengukuran pendidikan, ujian yang bahannya tidak sesuai dengan target kompetensi yang harus dicapai bukan saja kurang memberikan informasi tentang hasil belajar seorang peserta didik, melainkan juga tidak menghasilkan umpan balik bagi penyempurnaan proses belajar-mengajar.
2. bahan ulangan/ujian hendaknya menghasilkan informasi atau data yang dapat dijadikan landasan bagi pengembangan standar sekolah, standar wilayah, atau standar nasional melalui penilaian hasil proses belajar- mengajar.

D. Soal yang Bermutu
Bahan ujian atau soal yang bermutu dapat membantu pendidik meningkatkan pembelajaran dan memberikan informasi dengan tepat tentang peserta didik mana yang belum atau sudah mencapai kompetensi. Salah satu ciri soal yang bermutu adalah bahwa soal itu dapat membedakan setiap kemampuan peserta didik. Semakin tinggi kemampuan peserta didik dalam memahami materi pembelajaran, semakin tinggi pula peluang menjawab benar soal atau mencapai kompetensi yang ditetapkan. Makin rendah kemampuan peserta didik dalam memahami materi pembelajaran, makin kecil pula peluang menjawab benar soal untuk mengukur pencapaian kompetensi yang ditetapkan. Syarat soal yang bermutu adalah bahwa soal harus sahih (valid), dan handal. Sahih maksudnya bahwa setiap alat ukur hanya mengukur satu dimensi/aspek saja. Mistar hanya mengukur panjang, timbangan hanya mengukur berat, bahan ujian atau soal PKn hanya mengukur materi pembelajaran PKn bukan mengukur keterampilan/kemampuan materi yang lain. Handal maksudnya bahwa setiap alat ukur harus dapat memberikan hasil pengukuran yang tepat, cermat, dan ajeg. Untuk dapat menghasilkan soal yang sahih dan handal, penulis soal harus merumuskan kisi-kisi dan menulis soal berdasarkan kaidah penulisan soal yang baik (kaidah penulisan soal bentuk objektif/pilihan ganda, uraian, atau praktik).

III. TEKNIK PENILAIAN DAN PROSEDUR PENGEMBANGAN TES

A. Teknik Penilaian
Para pendidik dapat menggunakan beberapa cara atau teknik untuk memperoleh informasi tentang keberhasilan belejar peserta. Penggunaan berbagai teknik itu harus disesuaikan dengan tujuan penilaian, waktu yang tersedia, sifat tugas yang dilakukan peserta didik, dan banyaknya/jumlah materi pembelajaran yang sudah disampaikan.
Teknik penilaian adalah metode atau cara penilaian yang dapat digunakan guru untuk rnendapatkan informasi. Teknik penilaian yang memungkinkan dan dapat dengan mudah digunakan oleh guru, misalnya: (1) tes (tertulis, lisan, perbuatan), (2) observasi atau pengamatan, (3) wawancara.
1. Teknik penilaian melalui tes
a. Tes tertulis
Tes tertulis adalah tes yang soal-soalnya harus dijawab peserta didik dengan memberikan jawaban tertulis. Jenis tes tertulis secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu:
1) tes objektif, misalnya bentuk pilihan panda, jawaban singkat atau isian, benar salah, dan bentuk menjodohkan;
2) tes uraian, yang terbagi atas tes uraian objektif (penskorannya dapat dilakukan secara objektif) dan tes uraian non-objektif (penskorannya sulit dilakukan secara objektif).
b. Tes lisan
Tes lisan yakni tes yang pelaksanaannya dilakukan dengan mengadakan tanya jawab secara langsung antara pendidik dan peserta didik. Tes ini memiliki kelebihan dan kelemahan. Kelebihannya adalah:
(1) dapat menilai kemampuan dan tingkat pengetahuan yang dimiliki peserta didik, sikap, serta kepribadiannya karena dilakukan secara berhadapan langsung;
(2) bagi peserta didik yang kemampuan berpikirnya relatif lambat sehingga sering
mengalami kesukaran dalam memahami pernyataan soal, tes bentuk ini dapat menolong sebab peserta didik dapat menanyakan langsung kejelasan pertanyaan yang dimaksud;
(3) hasil tes dapat langsung diketahui peserta didik.
Kelemahannya adalah
(1) subjektivitas pendidik sering mencemari hasil tes,
(2) waktu pelaksanaan yang diperlukan relatif cukup lama.
c. Tes perbuatan
Tes perbuatan yakni tes yang penugasannya disampaikan dalam bentuk lisan atau tertulis dan pelaksanaan tugasnya dinyatakan dengan perbuatan atau unjuk kerja. Penilaian tes perbuatan dilakukan sejak peserta didik melakukan persiapan, melaksanakan tugas, sampai dengan hasil yang dicapainya. Untuk menilai tes perbuatan pada umumnya diperlukan sebuah format pengamatan, yang bentuknya dibuat sedemikian rupa agar pendidik dapat menuliskan angka-angka yang diperolehnya pada tempat yang sudah disediakan. Bentuk formatnya dapat disesuaikan menurut keperluan. Untuk tes perbuatan yang sifatnya individual, sebaiknya menggunakan format pengamatan individual. Untuk tes perbuatan yang dilaksanakan secara kelompok digunakan format tertentu yang sudah disesuaikan untuk keperluan pengamatan kelompok.

2. Teknik penilaian melalui observasi atau pengamatan
Observasi adalah suatu kegiatan yang dilakukan pendidik untuk mendapatkan informasi tentang peserta didik dengan cara mengamati tingkah laku dan kemampuannya selama kegiatan observasi berlangsung. Observasi dapat ditujukan kepada peserta didik secara perorangan atau kelompok. Dalam kegiatan observasi perlu disiapkan format pengamatan. Format pengamatan dapat berisi: (1) perilaku-perilaku atau kemampuan yang akan dinilai, (2) batas waktu pengamatan.

3. Teknik penilaian melalui wawancara
Teknik wawancara pada satu segi mempunyai kesamaan arti dengan tes lisan yang telah diuraikan di atas. Teknik wawancara ini diperlukan pendidik untuk tujuan mengungkapkan atau menanyakan lebih lanjut hal-hal yang kurang jelas informasinya. Teknik wawancara ini dapat pula digunakan sebagai alat untuk menelusuri kesukaran yang dialami peserta didik tanpa ada maksud untuk menilai.
Setiap teknik penilaian harus dibuatkan instrument penilaian yang sesuai.

B.Prosedur Pengembangan Tes
Sebelum menentukan teknik dan alat penilaian, penulis soal perlu
menetapkan terlebih dahulu tujuan penilaian dan kompetensi dasar yang
hendak diukur. Adapun proses penentuannya secara lengkap dapat dilihat
pada bagan berikut ini.

Langkah-langkah penting yang dapat dilakukan sebagai berikut.
1. Menentukan tujuan penilaian.
Tujuan penilaian sangat penting karena setiap tujuan memiliki penekanan yang berbeda-beda. Misalnya untuk tujuan tes prestasi belajar, diagnostik, atau seleksi. Contoh untuk tujuan prestasi belajar, lingkup materi/kompetensi yang ditanyakan/diukur disesuaikan seperti untuk kuis/menanyakan materi yang lalu, pertanyaan lisan di kelas, ulangan harian, tugas individu/kelompok, ulangan semester, ulangan kenaikan kelas, laporan kerja praktik/laporan praktikum, ujian
praktik.
2. Memperhatikan standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD)
Standar kompetensi merupakan acuan/target utama yang harus dipenuhi atau yang harus diukur melalui setiap kompetensi dasar yang ada atau melalui gabungan kompetensi dasar.
3. Menentukan jenis alat ukurnya, yaitu tes atau non-tes atau mempergunakan keduanya.
Untuk penggunaan tes diperlukan penentuan materi penting sebagai pendukung kompetensi dasar. Syaratnya adalah materi yang diujikan harus mempertimbangkan urgensi (wajib dikuasai peserta didik), kontinuitas (merupakan materi lanjutan), relevansi (bermanfaat terhadap mata pelajaran lain), dan keterpakaian dalam kehidupan sehari-hari tinggi (UKRK). Langkah selanjutnya adalah menentukan jenis tes dengan menanyakan apakah materi tersebut tepatdiujikan secara tertulis/lisan. Bila jawabannya tepat, maka materi yang bersangkutan tepat diujikan dengan bentuk soal apa, pilihan ganda atau uraian. Bila jawabannya tidak tepat, maka jenis tes yang tepat adalah tes perbuatan: kinerja (performance), penugasan (project), hasil karya
(product), atau lainnya.
4. Menyusun kisi-kisi tes dan menulis butir soal beserta pedoman penskorannya. Dalam menulis soal, penulis soal harus memperhatikan kaidah penulisan soal.

C. Penentuan Materi Penting
Langkah awal yang harus dilakukan dalam menyiapkan bahan ulangan/ujian adalah menentukan kompetensi dan materi yang akan diujikan. Setelah menentukan kompetensi yang akan diukur, maka langkah berikutnya adalah menentukan materi yang akan diujikan. Penentuan materi yang akan diujikan sangat penting karena di dalam satu tes tidak mungkin semua materi yang telah diajarkan dapat diujikan dalam waktu yang terbatas, misalnya satu atau dua jam. Oleh karena itu, setiap guru harus menentukan materi mana yang sangat penting dan penunjang, sehingga dalam waktu yang sangat terbatas, materi yang diujikan hanya menanyakan materi-materi yang sangat penting saja. Materi yang telah ditentukan harus dapat diukur sesuai dengan alat ukur yang akan digunakan yaitu tes atau non-tes.

Penentuan materi penting dilakukan dengan memperhatikan kriteria:
1. Urgensi, yaitu materi secara teoritis mutlak harus dikuasai oleh peserta didik,
2. Kontinuitas, yaitu materi lanjutan yang merupakan pendalaman dari satu atau lebih materi yang sudah dipelajari sebelumnya,
3. Relevansi, yaitu materi yang diperlukan untuk mempelajari atau
memahami, mata pelajaran lain,
4. Keterpakaian, yaitu rnateri yang memiliki nilai terapan tinggi dalam kehidupansehari-hari.

III. PENYUSUNAN KISI-KISI DAN BUTIR SOAL

A. Jenis Perilaku yang Dapat Diukur
Dalam menentukan perilaku yang akan diukur, penulis soal dapat mengambil atau memperhatikan jenis perilaku yang telah dikembangkan oleh para ahli pendidikan, di antaranya seperti Benjamin S. Bloom, Quellmalz, R.J. Mazano dkk, Robert M. Gagne, David Krathwohl, Norman E. Gronlund dan R.W. de Maclay, Linn dan Gronlund.

B. Penentuan Perilaku yang Akan Diukur

Setelah kegiatan penentuan materi yang akan ditanyakan selesai dikerjakan, maka kegiatan berikutnya adalah menentukan secara tepat perilaku yang akan diukur. Perilaku yang akan diukur, pada Kurikulum Berbasis Kompetensi tergantung pada tuntutan kompetensi, baik standar kompetensi maupun kompetensi dasarnya. Setiap kompetensi di dalam kurikulum memiliki tingkat keluasan dan kedalaman kemampuan yang berbeda. Semakin tinggi kemampuan/perilaku yang diukur sesuai dengan target kompetensi, maka semakin sulit soal dan semakin sulit pula menyusunnya. Dalam Standar Isi, perilaku yang akan diukur dapat dilihat pada “perilaku yang terdapat pada rumusan kompetensi dasar atau pada standar kompetensi”. Bila ingin mengukur perilaku yang lebih tinggi, guru dapat mendaftar terlebih dahulu semua perilaku yang dapat diukur, mulai dari perilaku yang sangat sederhana/mudah sampai dengan perilaku yang paling sulit/tinggi, berdasarkan rumusan kompetensinya (baik standar kompetensi maupun kompetensi dasar). Dari susunan perilaku itu, dipilih satu perilaku yang tepat diujikan kepada peserta didik, yaitu perilaku yang sesuai dengan kemampuan peserta didik di kelas.
D. Penyusunan Kisi-kisi
Kisi-kisi (test blue-print atau table of specification) merupakan deskripsi kompetensi dan materi yang akan diujikan. Tujuan penyusunan kisi-kisi adalah untuk menentukan ruang lingkup dan sebagai petunjuk dalam menulis soal. Kisi-kisi dapat berbentuk format atau matriks
Kisi-kisi yang baik harus memenuhi persyaratan berikut ini.
1. Kisi-kisi harus dapat mewakili isi silabus/kurikulum atau materi yang telah diajarkan secara tepat dan proporsional.
2. Komponen-komponennya diuraikan secara jelas dan mudah dipahami.
3. Materi yang hendak ditanyakan dapat dibuatkan soalnya.

E. Perumusan Indikator Soal
Indikator dalam kisi-kisi merupakan pedoman dalam merumuskan soal yang dikehendaki. Kegiatan perumusan indikator soal merupakan bagian dari kegiatan penyusunan kisi-kisi. Untuk merumuskan indikator dengan tepat, guru harus memperhatikan materi yang akan diujikan, indicator pembelajaran, kompetensi dasar, dan standar kompetensi. Indikator yang baik dirumuskan secara singkat dan jelas. Syarat indikator yang baik:
1. menggunakan kata kerja operasional (perilaku khusus) yang tepat,
2. menggunakan satu kata kerja operasional untuk soal objektif, dan satu
atau lebih kata kerja operasional untuk soal uraian/tes perbuatan,
3. dapat dibuatkan soal atau pengecohnya (untuk soal pilihan ganda).
Penulisan indikator yang lengkap mencakup A = audience (peserta didik) , B =
behaviour (perilaku yang harus ditampilkan), C = condition (kondisi yang
diberikan), dan D = degree (tingkatan yang diharapkan). Ada dua model
penulisan indikator. Model pertama adalah menempatkan kondisinya di awal
kalimat. Model pertama ini digunakan untuk soal yang disertai dengan dasar pernyataan (stimulus), misalnya berupa sebuah kalimat, paragraf, gambar, denah, grafik, kasus, atau lainnya, sedangkan model yang kedua adalah menempatkan peserta didik dan perilaku yang harus ditampilkan di awal kalimat. Model yang kedua ini digunakan untuk soal yang tidak disertai dengan dasar pertanyaan (stimulus).

F. Langkah-langkah Penyusunan Butir Soal
Agar soal yang disiapkan oleh setiap guru menghasilkan bahan ulangan/ujian yang sahih dan handal, maka harus dilakukan langkah-langkah berikut, yaitu:
(1) menentukan tujuan tes,
(2) menentukan kompetensi yang akan diujikan,
(3) menentukan materi yang diujikan,
(4) menetapkan penyebaran butir soal
berdasarkan kompetensi, materi, dan bentuk penilaiannya (tes tertulis:bentuk pilihan ganda, uraian; dan tes praktik),
(5) menyusun kisi-kisinya,
(6)menulis butir soal,
(7) memvalidasi butir soal atau menelaah secara kualitatif,
(8) merakit soal menjadi perangkat tes,
(9) menyusun pedoman penskorannya
(10) uji coba butir soal,
(11) analisis butir soal secara kuantitatif dari data empirik hasil uji coba, dan
(12) perbaikan soal berdasarkan hasil analisis.

G. Penyusunan Butir Soal Tes Tertulis
Penulisan butir soal tes tertulis merupakan suatu kegiatan yang sangat penting dalam penyiapan bahan ulangan/ujian. Setiap butir soal yang ditulis harus berdasarkan rumusan indikator soal yang sudah disusun dalam kisi-kisi dan berdasarkan kaidah penulisan soal bentuk obyektif dan kaidah penulisan soal uraian. Penggunaan bentuk soal yang tepat dalam tes tertulis, sangat tergantung
pada perilaku/kompetensi yang akan diukur. Ada kompetensi yang lebih tepat diukur/ditanyakan dengan menggunakan tes tertulis dengan bentuk soal uraian, ada pula kompetensi yang lebih tepat diukur dengan menggunakan tes tertulis dengan bentuk soal objektif. Bentuk tes tertulis pilihan ganda maupun uraian memiliki kelebihan dan kelemahan satu sama lain. Keunggulan soal bentuk pilihan ganda di antaranya adalah dapat mengukur kemampuan/perilaku secara objektif, sedangkan untuk soal uraian di antaranya adalah dapat mengukur kemampuan mengorganisasikan gagasan dan menyatakan jawabannya menurut kata-kata atau kalimat sendiri. Kelemahan soal bentuk pilihan ganda di antaranya adalah sulit menyusun pengecohnya, sedangkan untuk soal uraian di antaranya adalah sulit menyusun pedoman penskorannya.

H. Penulisan Soal Bentuk Uraian
Menulis soal bentuk uraian diperlukan ketepatan dan kelengkapan dalam merumuskannya. Ketepatan yang dimaksud adalah bahwa materi yang ditanyakan tepat diujikan dengan bentuk uraian, yaitu menuntut peserta didik untuk mengorganisasikan gagasan dengan cara mengemukakan atau mengekspresikan gagasan secara tertulis dengan menggunakan kata-katanya sendiri. Adapun kelengkapan yang dimaksud adalah kelengkapan perilaku yang diukur yang digunakan untuk menetapkan aspek yang dinilai dalam pedoman penskorannya. Hal yang paling sulit dalam penulisan soal bentuk uraian adalah menyusun pedoman penskorannya. Penulis soal harus dapat merumuskan setepat-tepatnya pedoman penskorannya karena kelemahan bentuk soal uraian terletak pada tingkat subyektivitas penskorannya. Berdasarkan metode penskorannya, bentuk uraian diklasifikasikan menjadi 2, yaitu uraian objektif dan uraian non-objektif. Bentuk uraian objektif adalah suatu soal atau pertanyaan yang menuntut sehimpunan jawaban dengan pengertian/konsep tertentu, sehingga penskorannya dapat dilakukan secara objektif. Artinya perilaku yang diukur dapat diskor secara dikotomus (benar – salah atau 1 – 0). Bentuk uraian non-objektif adalah suatu soal yang menuntut sehimpunan jawaban dengan pengertian/konsep menurut pendapat masing-masing peserta didik, sehingga penskorannya sukar untuk dilakukan secara objektif. Untuk mengurangi tingkat kesubjektifan dalam pemberian skor ini, maka dalam menentukan perilaku yang diukur dibuatkan skala. Contoh misalnya perilaku yang diukur adalah “kesesuaian isi dengan tuntutan pertanyaan”, maka skala yang disusun disesuaikan dengan tingkatan kemampuan peserta didik yang akan diuji.

I. Penulisan Soal Bentuk Pilihan Ganda
Menulis soal bentuk pilihan ganda sangat diperlukan keterampilan dan ketelitian. Hal yang paling sulit dilakukan dalam menulis soal bentuk pilihan ganda adalah menuliskan pengecohnya. Pengecoh yang baik adalah pengecoh yang tingkat kerumitan atau tingkat kesederhanaan, serta panjang- pendeknya relatif sama dengan kunci jawaban. Oleh karena itu, untuk memudahkan dalam penulisan soal bentuk pilihan ganda, maka dalam penulisannya perlu mengikuti langkah-langkah berikut, langkah pertama adalah menuliskan pokok soalnya, langkah kedua menuliskan kunci jawabannya, langkah ketiga menuliskan pengecohnya. Untuk memudahkan pengelolaan, perbaikan, dan perkembangan soal, maka soal ditulis di dalam format kartu soal. Setiap satu soal ditulis di dalam satu format

Kaidah penulisan soal pilihan ganda adalah seperti berikut ini.
1. Materi
a. Soal harus sesuai dengan indikator. Artinya soal harus menanyakan perilaku dan materi yang hendak diukur sesuai dengan rumusan indikator dalam kisi-kisi.
b. Pengecoh harus bertungsi
c. Setiap soal harus mempunyai satu jawaban yang benar. Artinya, satu soal hanya mempunyai satu kunci jawaban.

2. Konstruksi
a. Pokok soal harus dirumuskan secara jelas dan tegas. Artinya, kemampuan/ materi yang hendak diukur/ditanyakan harus jelas, tidak menimbulkan pengertian atau penafsiran yang berbeda dari yang dimaksudkan penulis. Setiap butir soal hanya mengandung satu persoalan/gagasan
b. Rumusan pokok soal dan pilihan jawaban harus merupakan pernyataan yang diperlukan saja. Artinya apabila terdapat rumusan atau pernyataan yang sebetulnya tidak diperlukan, maka rumusan atau pernyataan itu dihilangkan saja.
c. Pokok soal jangan memberi petunjuk ke arah jawaban yang benar. Artinya, pada pokok soal jangan sampai terdapat kata, kelompok kata, atau ungkapan yang dapat memberikan petunjuk ke arah jawaban yang benar.
d. Pokok soal jangan mengandung pernyataan yang bersifat negative ganda. Artinya, pada pokok soal jangan sampai terdapat dua kata atau lebih yang mengandung arti negatif. Hal ini untuk mencegah terjadinya kesalahan penafsiran peserta didik terhadap arti pernyataan yang dimaksud. Untuk keterampilan bahasa, penggunaan negatif ganda diperbolehkan bila aspek yang akan diukur
e. Pilihan jawaban harus homogen dan logis ditinjau dari segi materi. Artinya, semua pilihan jawaban harus berasal dari materi yang sama seperti yang ditanyakan oleh pokok soal, penulisannya harus setara, dan semua pilihan jawaban harus berfungsi.
f. Panjang rumusan pilihan jawaban harus relatif sama. Kaidah ini diperlukan karena adanya kecenderungan peserta didik memilih jawaban yang paling panjang karena seringkali jawaban yang lebih panjang itu lebih lengkap dan merupakan kunci jawaban.
g. Pilihan jawaban jangan mengandung pernyataan “Semua pilihan jawaban di atas salah” atau “Semua pilihan jawaban di atas benar”. Artinya dengan adanya pilihan jawaban seperti ini, maka secara materi pilihan jawaban berkurang satu karena pernyataan itu bukan merupakan materi yang ditanyakan dan pernyataan itu menjadi tidak homogen.
h. Pilihan jawaban yang berbentuk angka atau waktu harus disusun berdasarkan urutan besar kecilnya nilai angka atau kronologis. Artinya pilihan jawaban yang berbentuk angka harus disusun dari nilai angka paling kecil berurutan sampai nilai angka yang paling besar, dan sebaliknya. Demikian juga pilihan jawaban yang menunjukkan waktu harus disusun secara kronologis. Penyusunan secara unit dimaksudkan untuk memudahkan peserta didik melihat pilihan jawaban.
i. Gambar, grafik, tabel, diagram, wacana, dan sejenisnya yang terdapat pada soal harus jelas dan berfungsi. Artinya, apa saja yang menyertai suatu soal yang ditanyakan harus jelas, terbaca, dapat dimengerti oleh peserta didik. Apabila soal bisa dijawab tanpamelihat gambar, grafik, tabel atau sejenisnya yang terdapat pada
soal, berarti gambar, grafik, atau tabel itu tidak berfungsi.
j. Rumusan pokok soal tidak menggunakan ungkapan atau kata yang bermakna tidak pasti seperti: sebaiknya, umumnya, kadang-kadang.
k. Butir soal jangan bergantung pada jawaban soal sebelumnya. Ketergantungan pada soal sebelumnya menyebabkan peserta didik yang tidak dapat menjawab benar soal pertama tidak akan dapat menjawab benar soal berikutnya.

3. Bahasa/budaya
a. Setiap soal harus menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Kaidah bahasa Indonesia dalam penulisan soal di antaranya meliputi: a) pemakaian kalimat: (1) unsur subyek, (2) unsure predikat, (3) anak kalimat; b) pemakaian kata: (1) pilihan kata, (2) penulisan kata, dan c) pemakaian ejaan: (1) penulisan huruf, (2) penggunaan tanda baca.
b. Bahasa yang digunakan harus komunikatif, sehingga pernyataannya
mudah dimengerti warga belajar/peserta didik.
c. Pilihan jawaban jangan yang mengulang kata/frase yang bukan
merupakan satu kesatuan pengertian. Letakkan kata/frase pada
pokok soal.

KESIMPULAN
Untuk mengukur tingkat ketuntasan siswa dalam menerima pembelajaran, terutama siswa SMK perlu diadakan penilaian berbasis kompetensi. Dengan pelaksanaannya sudah diatur dalam Undang – Undang. Untuk memperoleh hasil tes yang maksimal perlu dilakukan beberapa jenis tes dengan pelaksanaanya melalui beberapa metode yang telah di syaratkan sebelumnya. Semua itu dilakukan untuk tujuan memajukan kwalitas peserta didik.

PENUTUP

Demikian makalah dari kami, tentang penulisan butir – butir soal kompetensi. Yang menguraikan tata cara penulisan dan pelaksanaan soal berbasis kompetensi. Semoga makalah ini berguna baik bagi diri kami sendiri maupun bagi seluruh mahasiswa FKIP Universitas Sebelas Maret juga Seluruh masyarakat yanga berkecimpung di dunia pendidikan
Kami sadar bahwa makalah kami belum sempurna dan masih banyak kekurangan. Untuk itu kami meminta maaf sebesar – besarnya jika terjadi kesalahan dalam penulisannya. Sekian dari kami, dan kami ucapkan banyak terima kasih.

SUMBER REFERENSI

 www.google.co.id
 www.indowebster.com
 www.pdfsearchengine.com
 www.wikipedia.com

MAKALAH
PENILAIAN BERBASIS KOMPETENSI SMK
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Evaluasi Pengajaran
Yang Diampu Oleh : AG Thamrin SPd. MSi

PENDIDIKAN TEHNIK DAN KEJURUAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2009

MODULPEMBELAJARAN
MATA KULIAH UTILITAS
“INSTALASI LISTRIK”

Disusun Oleh : Drs. Agus Efendi, M.Pd

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIKI DAN KEJURUAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNIK BANGUNAN
FKIP UNS
2010

BAB I
INSTALASI LISTRIK

A. Simbol Instalasi Listrik
Simbol teknik listrik bertujuan untuk menyingkat keterangan-keterangan dengan menggunakan gambar. Simbol listrik sangat penting untuk dipelajari dipahami karena hampir semua rangkaian listrik menggunakan simbol-simbol.
Gambar simbol untuk teknik telah diatur oleh lembaga normalisasi atau standarisasi. Beberapa lembaga yang menormalisasi simbol-simbol listrik antara lain :
1. ANSI : American National Standard Institute
2. JIC : Joint International Electrical Association
3. NMEA : National Manufacturer Electrical Assotiation
4. DIN : Deutche Industrial Norm
5. VDE : Verband Deutcher Elektrotechniker
6. NEC : National Electrical Code
7. IEC : International Electrical Commission.
Meskipun banyak lembaga yang mengeluarkan simbol listrik, namun dalam normalisasinya telah diatur sedemikian rupa sehingga suatu simbol tidak mungkin mempunyai dua maksud atau dua arti, begitu sebaliknya dua gambar simbol mempunyai satu maksud ( interpretasi ).

1. Instalasi Penerangan
a. Simbol-simbol Umum
Simbol umum terutama yang berkaitan dengan instalasi penerangan. Tabel berikut menunjukkan simbol listrik yang dipakai pada instalasi penerangan.

Simbol Arti

Sistem berfasa tiga dalam hubungan , Delta atau segitiga

Sistem berfasa dalam hubungan Y atau bintang

Sistem berfasa tiga dalam hubungan bintang dengan titik nol yang dibawa keluar. Pada umumnya tanda ini dipakai untuk menyatakan : Hubungan Gulungan motor-motor arus putar, transformator dan sebagainya. Misalnya pada plat-plat motor/dynamo listrik (lihat contoh) :
Volt : 380/220 Y / 

Simbol Arti

Gulungan mesin-mesin dan pesawat-pesawat. Tanda ini umum untuk kumparan, misalnya gulungan magnit dinamo, gulungan elektromagnit dan sebagainya.

“Tahanan OHM”
tanda disamping ini menunjukkan tahanan bebas induksi atau tahanan OHM biasanya dipakai dalam teknik arus kearah/arus lemah khususnya dalam teknik penerima/pemancar

Kondensator
Tanda umum untuk kondensator yang :
mempunyai nilai tetap atau istilah yang lain fixed capasitor
Tanda umum untuk kondensator yang nilainya dapat diubah-ubah (variable capasitor).

Hubungan Tanah
Tanda umum untuk hubungan tanah bagi semua peralatan listrik misalnya tiap motor listrik, tahanan asut, lemari penghubung logam, kompor listrik dsb, haus dihubungkan dengan tanah – untuk mencegah bahaya bagi pegawai yang melayani pada kesalahan isolasi yang mungkin timbul.

Tegangan Tinggi
Tanda tegangan tinggi ini biasanya dipasang pada tiang-tiang jarring jaring tegangan tinggi dan rendah maupun pada pintu-pintu sari gardu-gardu transformator.

Hantaran yang terdiri atas dua penghantar dengan fasa atau polaritet yang berlaianan.
Tanda ini umum untuk hantaran listrik biasanya tanda ini terdapat pada gambar-gambar, instalasi.

Hantaran berkutub dua, beserta penghantar.

Persilangan dua buah hantaran

Sambungan atau percabangan hantaran listrik.

Simbol Arti
¾ (o) Hantaran di dalam pipa
Tanda ini menyatakan bahwa hantaran tersebut diletakkan di dalam pipa yang berdiameter ¾ “ ( o )

Hantaran di dalam pipa diatas sela yang ditinggikan
Apabila para instalateur (pelaksana) sedang melakukan pemasangan di dalam ruang yang lembab dan berdebu maka hantaran pipa ini harus tahan air dan ditempatkan diatas sela-sela (tumpuan) yang ditinggikan.

Tanda ini menyatakan di mana hantaran itu naik.

Tanda ini menyatakan di mana hantaran itu turun ke bawah.

Hantaran terus menerus.
Tanda ini menyatakan dimana hantaran itu mendaki, menurun dan terus menerus

Penghubung berkutub satu untuk nominal 10 A.
Keterangan :
10 A ini menunjukkan bahwa kuat arus nominal yang mengalir secara terus menerus dapat dibebankan pada penghubung itu, yang tidak menimbulkan bahaya misalnya panas atau terbakarnya penghubung itu.

Penghubung berkutub ganda

Penghubung tarik berkutub satu

Penghubung kelompok (golongan)

Simbol Arti

Penghubung Tukar

Penghubung seri (deret)

Tanda untuk penghubung silang

Penghubung Kotak Maksimum
Tanda ini untuk penghubung kotak maksimum, dilengkapi dengan sebuah pemutus arus elektro-magnit dan ada kalanya dipakai sebagai pengganti sekering.

)
Kotak-kontak dinding (stop contact)
Tanda ini untuk stop contact dan dipakai sebagai penghubung pesawat-pesawat pemakai-pemakaian yang dapat dipindah-pindahkan tempatnya, misalnya lampu senja, seterika listrik, penghisap debu dan lain sebagainya.
) )
Kotak-kontak dinding majemuk
Kotak-kontak dinding majemuk, seperti dua, tiga atau empat buah stop contact dihubungkan menjadi satu.

Keamanan sekerup (sekering)
Tanda umum untuk keamanan lebur atau keamanan patron (sekering). Dengan menempatkan garis-garis lintang pada hantaran-hantaran kutub banyak dinyatakan dalam beberapa urat ditempatkan keamanan itu.
Sekering yang terkenal dalam dunia perdagangan yaitu patron diazed. (oleh siemens Schukert-Werke S.S.W.).
Adapun batas-batas amperenya :
6, 10, 15, 20, 25, 35, 50, 60, 80, 100, 125, 160, 200, 225, 260, 300 dan 350 A.
Bila kita lihat sebelah atas dari patron terdapat tanda-tanda pengenal dengan bermacam-macam warna yakni menurut kuat arus dari patron tersebut.
Misalnya : Hijau 6A, Merah 10A, Kelabu 16A dan lain sebagainya.

Papan pembagi atau Papan penghubung.
Tanda ini umum untuk papan pembagi pada gambar instalasi.

Lemari penghubung instalasi.
Lemari penghubung instalasi ini biasanya terbuat dari besi tuang atau bahan isolasi (misalnya bakelit) di mana di dalam lemari tersebut ditempatkan keamanan lebur (sekering) dan sebuah penghubung utama

Lemari baterai
Tanda ini umum untuk sebuah lemari baterai. Biasanya lemari baterai ini terdiri dari sejumlah lemari dari besi tuang (bahan isolasi bakelit) dimana ditempatkan keamanan-keamanan lebur. Dan ini kita namakan lemari pembagi cahaya.

Lampu 100 W, disambung pada golongan 2.
Tanda umum untuk suatu titik cahaya tiap-tiap tititk sambungan pada gambar instalasi harus diberi nomor golongan, dimana titik cahaya ini disambung serta pemakaian tenaga dinyatakan dalam Watt.
Dari tanda-tanda instalasi di atas dapat diberikan penjelasan tentang penggunaan dari masing-masing penghubung yang dihubungkan dengan sebuah beban.

1) Penghubung Deret (Seri)
Penghubung seri ini gunanya untuk memutuskan dan menghubungkan dua kelompok lampu secara bergantian misalnya seperti terdapat pada kerona-cahaya dengan tiga buah lampu atas (penerangan langit-langit) dan sebuah lampu bawah.
Demikianlah jalannya penghubung itu sehingga lampu yang di bawah dan lampu-lampu atas dapat menyala sendiri-sendiri, dan seluruhnya dapat pula dihidupkan pada waktu yang bersamaan.
Perlu diingat oleh para instalateur bahwa pengertian dari penghubung seri ini bukanlah berarti Lampu-lampu itu dihubungkan dalam keadaan seri. Tetapi kita mengadakan hubungan dalam seri (kelompok-kelompok lampu).
2) Penghubung Tukar
Apabila kita menghendaki melayani satu lampu atau satu golongan lampu dari dua tempat, misalnya dalam gang-gang, dalam kamar-kamar dengan dua pintu, maka kita pakai dua hubungan bertukar.
3) Penghubung Silang
Apabila kita harus dapat melayani satu lampu atau satu golongan lampu yang lebih dari dua tempat, maka kita pakai penghubung silang, waktu hendak memasang diingat, bahwa penghubung yang pertama dan penghasilan haruslah penghubung-penghubung tukar, penghubung-penghubung diantaranya adalah hubungan silang.

b. Macam-acam Hubungan Saklar
Selanjutnya untuk gambar macam-macam sambungan saklar yang banyak digunakan dalam Instalasi penerangan dapat dilihat pada tabel berikut :

B. Bahan Instalasi Listrik
Bahan instalasi listrik dapat dibedakan atas:
1. Konduktor; bahan yang dapat menghantarkan arus listrik contoh : tembaga, kuningan, perak, emas, benda cair, larutan elektrolit, tubuh manusia, tanah basah.
2. Isolator (bahan penyekat); bahan yang tidak dapat menghantarkan aliran listrik contoh bahan isolator dalam instalasi listrik : porselin, kaca, kertas, keramik dll.
3. Semi konduktor; bahan bersifat setengah menghantarkan arus listrik. Banyak dipakai untuk membuat bahan komponen elektronika : diode, transistor dan IC (Integrated Circuit)

Gambar 1, Bahan Isolator dalam Instalasi Listrik

1. Klasifikasi Macam Kabel Menurut Bahan Isolasi
Pada umumnya kabel-kabel yang banyak kila jumpai di pasaran memiliki isolasi baik yang terbuat dari karet maupun plastik dengan berbagai bentuk dan ukurannya. Selain isolasi ada juga kabel-kabel yang dilengkapi dengan semacam perisai dan bentuk pengaman lainnya. Jenis dan macam penghantar yang akan dibahas di sini adalah jenis penghantar yang sering dipakai pada jaringan instalasi rumah tinggal, kantor dan bangunan sejenisnya dengan pasangan tetap. Di antara jenis kabel tersebut adalah Snur, NGA, NYA, NYM.
Sebelum kita membahas kabel-kabel tersebut perhatikan daftar seperti di bawah ini:
Nomenklatur Kabel menurut SPLN.

Huruf Keterangan Kabel

N : Kabel standar dengan inti tembaga.
NA : Kabel standar dengan aluminium sebagai penghantar.
Y : Isolasi PVC.
G : Isolasi karet.
A : Kawat berisolasi.
Y : Selubung PVC Y pada akhir Nomenklalur.
M : Selubung PVC.
R : Kawat baja bulat (perisai).
Gb : Kawat pipa baja (perisai).
B : Pipa baja.
I : Untuk isolasi tetap di luar jangkauan tangan.
Re : Penghanlar padat bulat.
Rm : Penghantar bulat berkawat banyak.
Se : Penghantar bentuk pejal (padat).
Sm : Penghanlar dipilin bentuk sektor.
F : Penghantar halus dipintal bulat.
Ff : Penghantar sangat fleksibel.
Z : Penghantar z.
D : Penghantar 3 jalur yang di lengah sebagai pelindung.
H : Kabel untuk alat bergerak.
Rd : Inti dipilih bentuk bulat.
Fe : Inti pipih.
-1 : Kabel dengan sistern pengenal warna urat dengan hijau-kuning.
-0 : Kabel dengan sistem pengenal warna urat tanpa hijau-kuning.
Sebagai contoh :
Sebuah penghantar/ kabel mempunyai spesifikasi.

NYHGbY 4×100 mm/0,6/1KV
Artinya kabel tersebut memiliki ketentuan sebagai berikut :
N : Kabel jenis standar dengan penghantar tembaga
Y : Mempunyai isolasi PVC
H : Kabel alat bergerak
Gb : Kawat pita baja perisai
Y : Berisolasi PVC bagian luar
4x : Mempunyai 4 saluran merah – kuning – biru – hitam
100 mm2 : Tiap saluran berpenampang masinbg-masing 100 mm2
0,6 / 1 KV : Arus yang diijinkan 600 amper, tegangan maksimal 1000 volt
2. Kabel NGA
Kabel NGA termasuk jenis kabel yang banyak dipergunakan sebagai penghantar dalam instalasi listrik. Arti NGA adalah sebagai berikut:
N : Normal artinya penghantar terbuat dari tembaga
G : Gummi artinya penyekat atau isolasinya terbuat dari karet
A : Ader artinya terdiri dari satu penghantar
Jenis kabel NGA saat ini sudah jarang dipakai, hal ini disebabkan karena daya tahannya tidak tahan lama, selain harganya mahal, sehingga tidak diproduksi lagi. Kabel NGA seperti terlihat pada gambar berikut :

Gambar 2, Kabel NGA

3. Kabel NYA
Kabel NYA adalah jenis kabel yang banyak dipergunakan dalam pemasangan instalasi karena selain harganya murah juga mudah dalam pengerjaannya dan berperan mengganti kabel NGA yang sudah tidak diproduksi lagi. Istilah NYA memiliki arti sebagai berikut :
N : Normal artinya penghantar terbuat dari tembaga
Y : Isolasi PVC yaitu Pollyvinyl Chlorida
A : Ader artinya terdiri dari satu penghantar
Seperti juga kabel lainnya, kabel NYA tersedia di pasaran dalam berbagai bentuk dan ukuran. Bentuk fisik dari kabel NYA adalah seperti pada gambar di bawah ini.

Gambar 3, Kabel NYA

4. Kabel NYM 3 x 2,5 mm2
Kabel NYM berisi dua atau tiga kabel jenis NYA. Pengertian istilah NYM sebagai berikut :
N : Normal artinya penghantar dari tembaga.
Y : Isolasi PVC yaitu polyvynyl chlorida
M : Selubung kabel terbuat dari PVC
3 x 2,5 mm2: Kabel tersebut mempunyai 3 penghantar yang masing-masing berukuran 2,5 mm2.
C. Jenis Sakelar
Dalam prakteknya kita mengenal bermacam-macam jenis sakelar yang biasa dipakai pada instalasi listrik penerangan rumah, bangunan sekolah atau sejenisnya.
Jenis-jenis sakelar tersebut adalah :
1. Sakelar tunggal
2. Sakelar berkutub ganda
3. Sakelar berkutub tiga
4. Sakelar kelompok
5. Sakelar deret (seri)
6. Sakelar tukar
7. Sakelar silang

1. Sakelar Tunggal
Sesuai dengan namanya sakelar ini berfungsi tunggal artinya hanya dapat menyalakan dan memadamkan sebuah lampu. Pada sakelar tunggal hanya terdapat 2 titik hubung yang menghubungkan penghantar fasa dan beban atau lampu. Gambar sakelar tunggal seperti gambar di bawah ini.

Gambar 4, Sakelar Tunggal

Dipasaran dapat dijumpai bentuk sakelar tunggal atau ganda yang pemasangannya dikombinasikan dengan stop-kontak disesuaikan dengan kebutuhan pada saat ini,seperti garnbar di bawah ini :

Gambar 5, Kombinasi Sakelar dan Stop-Kontak
2. . Sakelar Berkutup Ganda
Sakelar ini dilengkapi dengan empat titik hubung untuk menbghubungkan penghantar fasa dan nol. Sakelar ini digunakan untuk memutuskan dan menghubungkan fasa dan nol secara bersama-sama sehingga memberikan factor keamanan bagi pemakai.. Sakelar ini sering digunakan pada box sekering / fasa.

Gambar 6, Sakelar Berkatup Ganda

3. Sakelar Berkutub Tiga
Sakelar jenis ini memiliki enam titik hubung yang berfungsi menghubungkan fasa ke beban. Pada umumnya sakelar ini digunakan sebagai sakelar untuk saluran tiga fasa.

Gambar 7, Sakelar Berkutub Tiga
4. Sakelar Kelompok
Sakelar kelompok pemasangannya harus disesuaikan dengan kebutuhan misalnya mematikan dan menghubungkan dua atau tiga buah lampu namun lampu tersebut tidak dapat dinyalakan bersamaan.

Gambar 8, Sakelar Kelompok
5. Sakelar Deret (Seri)
Sakelar deret adalah sakelar yang dapat berfungsi ganda yaitu dapat memutuskan dan menghubungkan sebuah lampu atau lebih secara bergantian atau bersama-sama. Lampu jenis ini banyak digunakan dalam ruang tamu, ruang tidur atau lampu gang.
Sakelar seperti ini pada saat sekarang sudah sangat sulit dijumpai, seandainyapun ada, bentuknya sudah lain yaitu berupa sakelar yang terdiri dari dua buah sakelar tunggal yang dikemas dalam satu kotak.

6. Sakelar Tukar
Sekelar tukar biasanya disebut juga sakelar hotel. Sakelar jenis ini banyak dipergunakan di hotel-hotel sehingga Sakelar hotel ini hanya dapat menghubungkan lampu atau kelompok lampu secara bergantian.sakelar ini disebut sakelar hotel.

Gambar 9, Sakelar Tukar

7. Sakelar Silang
Seandainya kita ingin melayani satu lampu atau golongan lampu yang ada di dua tempat, maka kita gunakan sakelar silang.
Pada waktu memasang supaya diingat bahwa penghubung pertama dan terakhir dihubungkan dengan penghubung seperti gambar di bawah ini:

Gambar 10, Sakelar Silang
D. Klasifikasi Sakelar
Yang dimaksud dengan klasifikasi di sini adalah klasifikasi dalam hal pemasangan dan cara bekerjanya sakelar.

1. Klasifikasi Sakelar Berdasarkan Pemasangan
Kalau kita perhatikan dalam kehidupan sehari-hari kita dapat melihat bermacam-macam pemasangan sakelar. Di antaranya ada sakelar yang dipasang di dalam tembok dan sakelar yang dipasang di luar tembok.

a. Pemasangan Di Luar Tembok atau Out Bow
Bila kita hendak memasang sakelar di luar tembok, rnaka terlebih dahulu kita harus memasang reset atau tempat dudukan sakelar. Pada umumnya roset dibuat dari bahan kayu dan bentuknya bulat disesuaikan dengan bentuk sakelar. Dalam pemasangan harus betul-betul diperhatikan kelurus-annya karena hal ini akan menambah keindahan ruangan.

Gambar 11, Saklar Out Bow

b. Pemasangan di Dalam Tembok atau In Bow
Pemasangan sakelar di dalarn tembok memerlukan bahan tambahan yaitu mangkuk sakelar yang terbuat dari bahan PVC. Sakelar jenis ini banyak dijual di pasaran dengan berbagai macam bentuk dan selera dari pemakai. Kebanyakan orang cenderung menggunakan sakelar ini sebab dalam pemasang-annya selain pipanya tidak kelihatan juga akan memberikan keindahan pada ruang di mana sakelar tersebut dipasang.

Gambar 12, Saklar In Bow

2. Klasifikasi Sakelar Berdasarkan Prinsip Kerjanya
Seperti telah dijelaskan di atas fungsi sakelar adalah untuk memutuskan dan menghubungkan arus listrik dari fasa ke beban. Berdasarkan alal penghubungnya maka sakelar dapat dibagi menjadi :
a. Sakelar putar
b. Sakelar jungkit
c. Sakelar tarik
d. Sakelar tekan
e. Sakelar tuas

a. Sakelar Putar
Sakelar putar termasuk sakelar jenis lama di mana cara menggunakannya diputar pada bagian tombol pemutarnya. Pada saat sekarang sakelar jenis ini sudah jarang dipakai lagi, baik pada instalasi rumah tunggal maupun bangunan umum lainnya. Pemakaian sakelar putar biasanya digunakan pada box sekering dan pemasangannya biasanya dipasang di luar tembok. Bentuk sakelar putar adalah seperti tergambar di bawah ini:

Gambar 13, Saklar Putar
b. Sakelar Jungkit
Perlu diketahui bahwa sakelar jenis ini banyak dipakai dalam instaiasi masa sekarang dan banyak digemari pemakai karena bentuknya beraneka ragam dan dibuat dengan penampilan yang indah dan mungil. Selain daripada itu sakelar jungkit sangat mudah dafam pemakaiannya. Dalam pemakaian-nya ada yang dipasang di luar tembok dan ada juga yang dipasang di dalam tembok.
Untuk yang ditanam dalam tembok diperlukan kornponen tambahan yaitu semacam mangkuk yang terbuat dari bahan PVC, sedangkan untuk yang dipasang di luar tembok diperlu¬kan alat tambahan yang dipakai sebagai dudukan yang disebut reset. Roset ini dibuat dari kayu yang bentuknya disesuaikan dengan bentuk sakelar yang dipasang.

Bentuk sakelar jungkit seperti dalam gambar di bawah ini:

Gambar 14, Saklar Jungkit

c. Sakelar Tarik
Dalam kehidupan sehari-hari barangkali suatu waktu kita memerlukan dua macam jenis penerangan yaitu penerangan terang dan penerangan redup yang dapat dinyalakan secara bergantian. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut diperlukan alat yang disebut sakelar tarik. Jenis sakelar ini biasanya terdapat pada fitting lampu yang dapat digerakkan dengan cara menariknya dengan seutas tali.

E. Kotak Sambung
Dalam pekerjaan instalasi, untuk suatu keperluan tertentu biasanya ada pemasangan kawat yang harus disambung atau dicabangkan. Kawat yang disambung menurut ketentuan peraturan instalasi tidak diijinkan berada di dalam pipa karena dikhawatirkan sambungan akan putus pada waktu kawat direntang pada waktu dimasukkan dalam pipa, sebab bila hal ini terjadi maka akan berakibat timbulnya hubungan pendek atau bahaya kebakaran.
Untuk menghindari hal ini maka penyambungan._kawat harus dilakukan dalam kotak yang disebut kotak hubung. Bentuk sambungan kawat ada beberapa macam, misalnya sambungan lurus, sambungan cabang dan sambungan cross. Untuk memenuhi kebutuhan sambungan tersebut, maka perlu disediakan beberapa macam jenis kotak sambung.
Jenis kotak sambung yang sering kita jumpai dalam instalasi listrik adalah :
1. Kotak sambung cabang dua
2. Kotak sambung cabang tiga
3. Kotak sambung cabang empat

1. Kotak Sambung Cabang Dua
Dalam prakteknya kotak sambung cabang _dua digunakan untuk penyambungan lurus. Bentuk kotak sambung cabang dua seperti pada gambar di bawah ini :

Gambar 15, Kotak Sambung Cabang Dua

2. Kotak Sambung Cabang Tiga
Jenis kotak sambung cabang tiga pada umumnya dipergunakan untuk sambungan cabang atau percabangan. Percabangan biasanya dilakukan bita akan memasang stop kontak atau sakelar.

Gambar 16, Kotak Sambung Cabang Tiga

3. Kotak Sambung Cabang Empat
Kotak sambung cabang empat biasanya dipergunakan untuk sambungan bentuk cross atau cabang empat. Bentuk kotak sambung cabang empat seperti gambar dibawah ini :

Gambar 17, Kotak Sambung Cabang Empat
F. Teknik Penyambungan Kabel Listrik
Dalam pemasangan instalasi listrik biasanya banyak pekerjaan yang berhubungan dengan sambung menyambung kabel. Yang perlu diperhatikan pada waktu menyambung kabel adalah hasil penyambungan harus kuat, rapih dan balk ditinjag dari segi teknisnya.
Dalam menyambung kabel, sebelum kabel disambung biasanya kabel dikupas dulu. Pengupasan kabel perlu dilakukan dengan cara yang baik dan benar. Pengupasan kabel dapat dilakukan seperti pada gambar di bawah ini :

Gambar 18, Teknik Penyambungan Kabel Listrik

Setelah kabel dikupas barulah dilakukan pekerjaan pe-nyambungan. Cara penyambungan kabel dapat dilakukan dengan bermacam-macam cara dan berdasarkan teknisnya ada beberapa macam cara penyambungan kabel di antaranya: Sambungan ekor babi, sambungan punter, sambungan bolak-balik, sambungan bercabang

1. Sambungan Ekor Babi
Sambungan seperti ini merupakan teknik penyambungan yang paling sederhana dan mudah dikerjakan. Sambungan seperti ini pada umumnya banyak dilakukan pada penyambungan langsung yang dilakukan pada kotak sambung dan hasil penyambungannya diisolasi dengan lasdop. Caranya adalah seperti pada gambar di bawah ini;

Gambar 19, Sambungan Ekor Babi
Seperti terlihat pada gambar kedua ujung kabel yang akan disambungkan dijadikan satu, kemudian diputar dengan tang kombinasi sampai kuat. Untuk merapikan hasil sambungan potonglah ujung sambungan yang tidak diperlukan. Selanjutnya ujung yang sudah rapih ditutup dengan lasdop.

2. Sambungan Puntir
Sambungan puntir pada umumnya dilakukan untuk me-nyambung dua buah kabel yang akan direntang. Dalam pekerjaan instalasi adakalanya terpaksa menyam¬kabet yang akan direntang karena adanya pertimbangan tertentu seperti untuk penghernatan bahan atau karena adanya ‘solasi kabel yang cacat yang terpaksa kabel tersebut harus untuk kemudian disambung kembali. Penyambungannya adalah seperti gambar di bawah ini.

Gambar 20, Sambungan Puntir

Seperti terlihat pada gambar di atas, untuk mendapatkan hasil puntiran yang baik, sebaiknya dilakukan dengan meng-gunakan tang kombinasi agar hasilnya kuat dan tidak longgar. Setelah penyambungan selesai. selanjutnya hasil penyam¬bungan tersebut kemudian diisolasi dengan seal tape (isolasi band).

3. Sambungan Bolak-Balik
Tujuan dari penyambungan bolak-balik pada dasarnya sama dengan penyambungan puntir yaitu untuk menghubungkan 2 kabel yang akan direntang. Cara penyambungan ini akan menghasilkan sambungan yang lebih kuat terhadap gaya rentang dan tarikan. Sambungan diberi isolasi seal tape. Cara penyambungannya dilakukan seperti gambar di bawah ini :

Gambar 21, Sambungan Bolak-Balik

4. Sambungan Bercabang
Dalam jaringan listrik sering kita temukan dalarn peng-hantar yang panjang, selain sambungan lurus juga ditemukan sambungan cabang. Sambungan cabang biasanya dilakukan dengan maksud untuk mengambil jalan pintas agar menghemat penggunaan kabel dan praktis dalam pengerjaannya. Dalam membuat sambungan cabang harus dilakukan dengan baik dan benar agar hasil penyambungan terjamin kekuatannya. Cara mengerjakan penyambungan percabangan dapat di-lakukan seperti pada gambar di bawah ini :

Gambar. Sambungan bercabang

Gambar 22, Sambungan Bercabang

G. Alat Perkakas Instalasi Listrik
Peralatan yang sering diguinakan dalam instalasi listrik meliputi:

1. Obeng
Berdasarkan kegunaannya terdapat beberapa macam obeng di antaranya; Obeng biasa, Obeng offset, Obeng listrik, Obeng tekan, Obeng kembang, Obeng trimmer, Obeng kayu. Berikut ini adalah gambar salah satu dari macam obeng biasa:

Gambar 23, Obeng Biasa

2. Palu Paku
Dalam pekerjaan instalasi listrik peranan palu tidak kalah pentingnya dibanding dengan peralatan lainnya. Fungsi palu jenis ini dapat untuk memukul paku dan sekaligus membenamkannya. Bentuk palu paku seperti pada garnbar di bawah ini:

Gambar 24, Palu Paku

Seperti terlihat pada gambar di atas, untuk memukul paku dapat digunakan bagian mukanya dan sebaliknya untuk mencabut paku digunakan bagian cakarnya. Perlu diketahui bahwa pekerjaan instalasi Iistrik banyak berhubungan dengan kayu sehingga mau tidak mau harus meng¬gunakan paku sebagai contoh misalnya memasang palang kayu untuk dudukan kawat penghantar, memasang dudukan kotak sekering, memasang roset kayu pada dinding tembok dan Iain-lain. Untuk melaksanakan pekerjaan tersebut perlu digunakan palu kayu.
3. Palu Bulat
Palu jenis ini pada umumnya dipergunakan pada pekerjaan kerja bangku atau pekerjaan pandai besi. Bentu palu bulat seperti pada gambar di bawah ini:

Gambar 25, Palu Bulat

Seperti terlihat pada gambar di atas, pada palu bulat bagian puncaknya berbentuk bulat, dengan maksud agar palu tersebut dapat dipakai untuk membuat bentuk cekungan atau bentuk tidak rata, misalnya membuat tangki atau membuai perabot dapur dan Iain-lain.
Kemudian bentuk bagian bawahnya adalah seperti kebanyakan bentuk palu lainnya yaitu berbentuk bulat dan datar. Bentuk seperti ini dapat dipakai untuk pekerjaan memukul atau meratakan pelat-peiat pada bengkel pelat dan sejenisnya. Dalam pekerjaan memasang instalasi Iistrik palu jenis ini banyak dipakai misalnya untuk memasang paku, menarik kabel dan macam-macam pekerjaan lainnya.

4. Palu Keling
Palu keling biasanya banyak dipakai dalam pekerjaan yang berhubungan dengan pekerjaan pelat. Sesuai dengan namanya palu jenis ini dapat dipakai untuk mengeling yaitu pekerjaan waktu menyambung pelat dengan menggunakan paku keling. Sebelum paku keling dipasang kedua permukaan pelat dilubangi dengan menggunakan bor dengan ukuran yang sesuai dengan ukuran paku keling. Setelah dilubangi barulah paku keling dimasukkan dalam lubang tersebut dan kemudian paku keling bagian belakangnya dipukul dengan palu sampai seluruh permukaan kedua pelat tersebut kuat. dengan adanya perkembangan teknologi seperti sekarang ini pekerjaan keling-mengeling, dapat dilakukan dengan peralatan yang modern yaitu menggunakan alat keling yang disebut Riveting Machine. Dengan menggunakan alat rivet hasil kelingan kelihatan lebih baik daripada dengan menggunakan alat keling biasa dan permukaannya tidak ada goresan bekas terpukul palu.

Gambar 26, Palu Keling

5. Palu Karet
Sesuai dengan namanya palu karel bagian kepalanya dibuat dari bahan karet yang keras dan kenyal. Palu karet ini pada umumnya banyak dipergunakan dalam pekerjaan bengkel pelat. Dengan menggunakan palu karet yang keras dan kenyal ini, hasil pemukulannya tidak meninggalkan bekas atau gores¬an pada benda kerjanya. Bentuk palu karet seperti pada gambar di bawah ini:

Gambar 27, Palu Karet
6. Palu Plastik
Palu jenis ini banyak dipergunakan pada bengkel-bengkel motor atau sejenisnya. Sesuai dengan namanya palu plastik pada bagian kepalanya dibuat dari plastik yang sifatnya keras dan kenyal hampir sama dengan palu karet. Dengan menggunakan palu plastik ini pekerjaan-pekerjaan seperti mengeluarkan komponen-komponen mesin tidak akan mengalami kerusakan akibat kena pukulan.

7. Jenis Tang
a. Tang Kombinasi
Bentuk tang kombinasi seperti gambar di bawah ini

Gambar 29, Tang Kombinasi

Seperti terlihat pada gambar di atas tang kombinasi terdiri dari beberapa bagian yaitu :
1) Bagian depan atau bagian mulut dapat dipergunakan untuk memegang benda, untuk memuntir kabel/kawat dan menarik kabel.
2) Bagian tengah samping yaitu bagian yang tajam menye-rupai gunting dapat dipergunakan untuk memotong kabel, kawat atau isolasi.
3) Bagian belakang yaitu bagian pemegang. Biasanya bagian ini dilapisi dengan bahan isolasi yang terbuat dari karet atau plastik dengan maksud agar para pemakainya tidak terkena aliran listrik.
Catatan :
Untuk menjaga agar tidak tersengat aliran listrik dan menjaga keselamatan kerja dalam melakukan pekerjaan instalasi listrik hendaknya aliran listrik yang berada pada instalasi tersebut dimatikan dulu melalui kontak sekeringnya.

b. Tang Biasa
Tang jenis ini pada umumnya dipergunakan hanya untuk memegang benda di saat tangan kita sudah tidak mampu memegangnya atau untuk memuntir kawat pada pekerjaan instalasi.

Gambar 30, Tang Biasa

Seperti terlihat pada gambar di atas, tang tersebut biasanya terdapat-dalam suatu kemasan perkakas listrik yang disebut tool-kit atau tool-set seperti pada gambar di bawah ini.

Gambar. Tool-kit

Gambar 31, Tool-Kit

Semua perkakas seperti pada gambar di atas selain dapat digunakan dalam pekerjaan instalasi juga dapat digunakan dalarn pekerjaan elektronika.

8. Alat Megger
Selain multimeter dalam pekerjaan instalasi diperlukan jenis alat ukur lain yang disebut Megger seperti pada gambar di bawah ini :

Gambar 32, Megger
Megger termasuk alat ukur presisi yang dapat digunakan untuk mengukur tahanan dalam batas tidak terhingga. Dengan menggunakan megger, pengukuran suatu instalasi hasilnya akan lebih baik daripada dengan menggunakan multi¬meter sebab selain dapat mengetahui adanya hubungan singkat, juga dapat mengetahui adanya suatu kebocoran yang terjadi pada penghantar ataupun pipa pelindung. Hal ini tidak dapat dilakukan apabila menggunakan alat ukur multimeter.

a. Cara Menggunakan Megger
Dimisalkan kita akan mengukur hubungan antara dua peng-hantar yaitu penghantar fasa dan penghantar nol seperti pada gambar di bawah ini:

.

Gambar 33, Cara Menggunakan Megger

b. Cara Pengukuran
• Hubungkan probe A dari megger pada penghantar fasa dan probe B pada penghantar nol. Sesudah itu megger diputar.
• Kemudian perhatikan skala meter, bila megger diputar jarum penunjuk diam dan tidak bergerak, berarti kedua
penghantar tersebut baik dan aman atau dengan kata lain tidak terjadi hubungan singkat.
• Sebaliknya bila megger diputar jarum penunjuk bergerak mendekati harga nol berarti pada kedua penghantar ter¬sebut terjadi hubungan singkat.
• Untuk lebih jelasnya klasifikasi pengukuran dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Bila jarum penunjuk bergerak dan penyimpangannya besar berarti pada kedua penghantar tersebut terdapat hubungan singkat.
2) Bila jarum penunjuk bergerak dan penyimpangannya sedikit berarti pada kedua penghantar tersebut terjadi kebocoran. Kebocoran tersebut bisa saja terjadi akibat isolasi dari penghantar yang kurang baik. Kebocoran akan mengakibatkan cepat terjadinya panas yang bila dibiarkan lama-lama akan menimbulkan kebakaran.
3) Bila jarum penunjuk diam atau tidak bergerak sama sekali berarti kedua penghantar tersebut baik dan aman.

H. Instalasi dan Pemasangan
Dalam memasang instalasi listrik rumah tinggal diperlukan pengamanan instalasi yang sesuai dengan peraturan-peraturan umum instalasi listrik yang berlaku. Untuk pengamanan instalasi listrik diperlukan komponen alat pengamanan seperti : sekering, MCB (Magnetic Contactor Break). Sekering berfungsi membatasi arus listrik yang mengalir atau pengaman terhadap adanya hubungan singkat dalam instalasi listrik. MCB pada prinsipnya sama dengan sekering berfungsi sebagai pembatas daya yang terpasang dalam jaringan instalasi listrik.Ukuran sekering dinyatakan dalam Amper (A). Sedangkan MCB dinyatakan dalam VA (Volt Ampere) misal kan : 450 VA, 900 VA, 1300 VA sampai 2200VA dan seterusnya.
Secara keseluruhan komponen pendukung dalam pemasangan instalasi listrik diperlukan :
• Meter Kwh atau Kilowattjammeter yang digunakan untuk mengukur jumlah energi listrik yang digunakan pelanggan selama suatu periode waktu,
• MCB
• Sekering dan Sakelar Putar
• Kotak box pelindung
• Kawat Arde (Ground) atau kawat hubungan tanah
Berikut ini komponen yang digunakan dalam instalasi listrik :

Meter Kwh Sekering dan Sakelar Putar MCB

Gambar 34, Komponen Instalasi Listrik

Untuk memahami jalur instalasi secara lebih detail digambarkan sebagai berikut :

Gambar 35, Bagan Pelayanan Listrik Rumah Tinggal

Gambar 36, Bentuk Pelayanan Listrik Rumah Tinggal

Berikut ini digambarkan susunan masuknya listrik ke rumah tinggal :

Gambar 37, Susunan Masuknya Listrik Rumah Tinggal

Contoh pemasangan instalasi listrik;

Gambar 38, Contoh Instalasi Listrik Rumah Tinggal (A)

Gambar 39, Contoh Instalasi Listrik Rumah Tinggal (B)

I. Instalasi Penangkal Petir
Petir adalah salah satu fenomena alam yang paling kuat dan menghancurkan. Kekuatan petir yang pernah tercatat adalah mulai dari ribuan amper sampai 200.000 amper atau sama dengan kekuatan yang dibutuhkan untuk menyalakan 500 ribu lampu bohlam 100w.
Meskipun arus petir hanya sesaat kira-kira selama 200 micro-detik tapi hasil kerusakan yang ditimbulkan sangat luar biasa. Effek dari serangan langsung sangat jelas terlihat, mulai dari kerusakan bangunan, kebakaran sampai bahaya kematian bagi manusia.
Selain itu, pada saat petir menyambar akan ada loncatan muatan listrik ke benda yang bersifat konduktor disekitar pusat hantaman. Loncatan ini bahkan bisa mengalir kemana-mana hingga puluhan kilometer Untuk itu, diperlukan penangkal petir yang sangat handal terutama untuk gedung, fasilitas umum dan pusat bisnis yang mengandalkan komputer atau peralatan elektronik untuk seluruh kegiatan bisnisnyanya.
Ada 4 kriteria yang harus diperhatikan dalam sistim penangkal petir untuk dapat mengikuti standar dunia yang telah teruji:
1. Jaringan “Air Termination”,
2. Penghantar/down conductors ,
3. Jaringan pembumian,
4. Bonding untuk mengindari “side flashing” .
Berikut disajikan gambaran pemasangan instalasi penangkal petir dengan system “Rein Power Protection System (RPPS)”.

Gambar 40, Instalasi Penangkal Petir Sistem RPPS

BAB I PEMBAHASAN
KONSEP DASAR ADMINISTRASI PENDIDIKAN

1.1 PENGERTIAN ADMINISTRASI PENDIDIKAN, SCOPE DAN FUNGSIFUNGSI POKOK ADMINISTRASI PENDIDIKAN
A. Konsep dasar administrasi pendidikan
Dalam pembahasan ini, konsep administrasi dipandang sama dengan konsep Manajemen. Manajemen Pendidikan terdiri dari dua kata yaitu manajemen dan pendidikan, secara sederhana manajemen pendidikan dapat diartikan sebagai manajemen yang diterapkan dalam bidang pendidikan dengan spesifikasi dan ciri-ciri khas yang berkaitan dengan pendidikan. Oleh karena itu pemahaman tentang manajemen pendidikan menuntut pula pemahaman tentang manajemen secara umum. Berikut ini akan dikemukakan tentang makna manajemen.

B. Manajemen dan Administras pendidikan
Istilah lain yang hamper sama artinya dengan administrasi pendidikan ialah manajemen. Hanya dewasa ini, manajemen lebih terkenal dan umum dipakai didalam dunia perusahaan atau ekonomi dari pada didalam dunia pendidikan. dari segi bahasa management berasal dari kata manage (to manage) yang berarti “to conduct or to carry on, to direct” (Webster Super New School and Office Dictionary), dalam Kamus Inggeris Indonesia kata Manage diartikan “Mengurus, mengatur, melaksanakan, mengelola”(John M. Echols, Hasan Shadily, Kamus Inggeris Indonesia) , Oxford Advanced Learner’s Dictionary mengartikan Manage sebagai “to succed in doing something especially something difficult….. Management the act of running and controlling business or similar organization”
sementara itu dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Manajemen diartikan sebagai “Prose penggunaan sumberdaya secara efektif untuk mencapai sasaran”(Kamus Besar Bahasa Indonesia). Adapun dari segi Istilah telah banyak para ahli telah memberikan pengertian manajemen, dengan formulasi yang berbeda-beda, berikut ini akan dikemukakan beberapa pengertian manajemen guna memperoleh pemahaman yang lebih jelas.

Pendapat Pakar tentang Manajemen/Administrasi

No Pengertian manajemen Pendapat
1. 1 The most comporehensive definition views management as an integrating process by which authorized individual create, maintain, and operate an organization in the selection an accomplishment of it’s aims (Lester Robert Bittel (Ed), 1978 : 640)
2. 2 Manajemen itu adalah pengendalian dan pemanfaatan daripada semua faktor dan sumberdaya, yang menurut suatu perencanaan (planning), diperlukan untuk mencapai atau menyelesaikan suatu prapta atau tujuan kerja yang tertentu (Prajudi Atmosudirdjo,1982 : 124)
3. 3 Management is the use of people and other resources to accomplish objective ( Boone& Kurtz. 1984 : 4)
4. 4 .. management-the function of getting things done through people (Harold Koontz, Cyril O’Donnel:3)
5. 5 Manajemen merupakan sebuah proses yang khas, yang terdiri dari tindsakan-tindakan : Perencanaan, pengorganisasian, menggerakan, dan poengawasan, yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang telah ditetapkan melalui pemanfaatan sumberdaya manusia serta sumber-sumber lain (George R. Terry, 1986:4)
6. 6 Manajemen dapat didefinisikan sebagai ‘kemampuan atau ketrampilan untuk memperoleh sesuatu hasil dalam rangka pencapaian tujuan melalui kegiatan-kegiatan orang lain’. Dengan demikian dapat pula dikatakan bahwa manajemen merupakan alat pelaksana utama administrasi (Sondang P. Siagian. 1997 : 5)
7. 7 Management is the process of efficiently achieving the objectives of the organization with and through people De Cenzo&Robbin
1999:5

dengan memperhatikan beberapa definisi di atas nampak jelas bahwa perbedaan formulasi hanya dikarenakan titik tekan yang berbeda namun prinsip dasarnya sama, yakni bahwa seluruh aktivitas yang dilakukan adalah dalam rangka mencapai suatu tujuan dengan memanfaatkan seluruh sumberdaya yang ada, sementara itu definisi nomor empat yang dikemukakan oleh G.R Terry menambahkan dengan proses kegiatannya, sedangkan definisi nomor lima dari Sondang P Siagian menambah penegasan tentang posisi manajemen hubungannya dengan administrasi.
Sedangkan Pendapat lain dikemukakan oleh Liang Gie dalam Ali Mufiz (2004:1.4) menyebutkan bahwa Administrasi adalah suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok orang dalam bentuk kerjasama untuk mencapai tujuan tertentu. Sehingga dengan demikian Ilmu Administrasi dapat diartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari proses, kegiatan dan dinamika kerjasama manusia.
Terlepas dari perbedaan tersebut, berdasarkan pengertian administrasi atau manajemen dari beberapa pendapat terdapat beberapa prinsip yang nampaknya menjadi benang merah tentang pengertian administrasi/manajemen yakni :
1. Manajemen merupakan suatu kegiatan
2. Manajemen menggunakan atau memanfaatkan pihak-pihak lain
3. Kegiatan manajemen diarahkan untuk mencapai suatu tujuan tertentu
Sehingga dapat disimpulkan pengertian administrasi dan manajemen dalam pendidikan sama,hanya pengertian manajemen sering dipakai pada dunia perusahaan dan ekonomi. Dengan demikian manajemen itu sendiri adalah intinya dari administrasi.sebagaimana dapat diasumsikan segenap proses pengarahan dan pengintegrasian segala sesuatu, baik personal, spiritual maupun material yang bersangkut paut dengan pencapaian tujuan.
Setelah melihat pengertian manajemen, maka nampak jelas bahwa setiap organisasi termasuk organisasi pendidikan seperti Sekolah akan sangat memerlukan manajemen untuk mengatur/mengelola kerjasama yang terjadi agar dapat berjalan dengan baik dalam pencapaian tujuan, untuk itu pengelolaannya mesti berjalan secara sistematis melalui tahapan-tahapan dengan diawali oleh suatu rencana sampai tahapan berikutnya dengan menunjukan suatu keterpaduan dalam prosesnya, dengan mengingat hal itu, maka makna pentingnya manajemen semakin jelas bagi kehidupan manusia termasuk bidang pendidikan.

C. Pengertian Administrasi Pendidikan
Setelah memperoleh gambaran tentang manajemen secara umum maka pemahaman tentang manajemen pendidikan akan lebih mudah, karena dari segi prinsip serta fungsi-fungsinya nampaknya tidak banyak berbeda, perbedaan akan terlihat dalam substansi yang dijadikan objek kajiannya yakni segala sesuatu yang berkaitan dengan masalah pendidikan.
Oteng Sutisna (1989:382) menyatakan bahwa Administrasi pendidikan hadir dalam tiga bidang perhatian dan kepentingan yaitu : (1) setting Administrasi pendidikan (geografi, demograpi, ekonomi, ideologi, kebudayaan, dan pembangunan); (2) pendidikan (bidang garapan Administrasi); dan (3) substansi administrasi pendidikan (tugas-tugasnya, prosesnya, asas-asasnya, dan prilaku administrasi), hal ini makin memperkuat bahwa manajemen/administrasi pendidikan mempunyai bidang dengan cakupan luas yang saling berkaitan, sehingga pemahaman tentangnya memerlukan wawasan yang luas serta antisipatif terhadap berbagai perubahan yang terjadi di masyarakat disamping pendalaman dari segi perkembangan teori dalam hal manajemen/administrasi.
Dalam kaitannya dengan makna manajemen/Administrasi Pendidikan berikut ini akan dikemukakan beberapa pengertian manajemen pendidikan yang dikemukakan para ahli. Dalam hubungan ini penulis mengambil pendapat yang mempersamakan antara Manajemen dan Administrasi terlepas dari kontroversi tentangnya, sehingga dalam tulisan ini kedua istilah itu dapat dipertukarkan dengan makna yang sama.
Pendapat Pakar tentang Administrasi/manajemen Pendidikan:
No Pengertian Administrasi/manajemen Pendidikan Pendapat
1. 1 Administrasi pendidikan dapat diartikan sebagai keseluruhan proses kerjasama dengan memanfaatkan semua sumber personil dan materil yang tersedia dan sesuai untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien… Djam’an Satori, (1980: 4)
2. 2 Dalam pendidikan, manajemen itu dapat diartikan sebagai aktivitas memadukan sumber-sumber pendidikan agar terpusat dalam usaha mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan sebelumnya Made Pidarta, (1988:4)
4. 3 educational administration is a social process that take place within the context of social system Castetter. (1996:198)
5. 4 Manajemen pendidikan dapat didefinisikan sebagi proses perencanaan, pengorganisasian, memimpin, mengendalikan tenaga pendidikan, sumber daya pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan… Soebagio Atmodiwirio. (2000:23)
6. 5 Manajemen pendidikan ialah suatu ilmu yang mempelajari bagaimana menata sumber daya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara produktif dan bagaimana menciptakan suasana yang baik bagi manusia yang turut serta di dalam mencapai tujuan yang disepakati bersama Engkoswara (2001:2)

Pendapat lain dikemukakan Pengertian Administrasi Pendidikan Berdasarkan etimologi “administrasi” berasal dari bahasa latin yang terdiri dari “ad” artinya intensif dan “ministrare” artinya melayani, membantu atau mengarahkan. Jadi pengertian administrasi adalah melayani secara intensif. Dari perkataan “administrare” terbentuk kata benda “administrario” dan kata “administrauus” yang kemudian masuk ke dalam bahasa Inggris yakni “administration” (DR. Hadari Nawawis, 1982). Selain itu dikenal juga kata “administratie” yang berasal dari kata belanda, namun memilki arti yang lebih sempit, sebab terbatas pada aktivitas ketatatusahaan yaitu kegiatan penyusunan dan pencatatan keterangan yang diperoleh secara sistematis. Administrasi sering dikaitkan dengan aktivitas administrasi perkantoran yang hanya merupakan salah satu bidang dari aktivitas adminstrasi yang sebenarnya.
Ditinjau dari katanya, administrasi mempunyai arti sempit dan arti luas. Dalam arti sempit diartikan sebagai kegiatan pencatatan data, surat-surat informasi secara tertulis serta penyimpanan dokumen sehingga dapat dipergunakan kembali bila diperlukan. Dalam hal ini kegiatan administrasi meliiputi pekerjaan tata usaha. Dalam arti luas, administrasi menyangkut kegiatan manajemen/pengelolaan terhadap keseluruhan komponen organisasi untuk mewujudkan tujuan/program organisasi.
Sedangkan administrasi pendidikan merupakan perpaduan dari dua kata, yakni “administrasi” dan “pendidikan”. Pada hakekatnya administrasi pendidikan adalah penerapan ilmu administrasi dalam dunia pendidikan atau dalam pembinaan, pengembangan dan pengendalian usaha praktek-praktek pendidikan. Administrasi sekolah merupakan salah satu bagian dari administrasi pendidikan, yaitu administrasi pendidikan yang dilaksanankan di sekolah. Salah satu alat administrasi sekolah adalah tata usaha.
berdasarkan pendapat beberapa pakar tentang pengertian aministrsi dapat di simpulkan bahwa pekerjaan administrasi merupakan pekerjaan operatif dan manajemen.dengan demikian pengertian administrasi pendidikan adalah segenap teknik dan prosedur yang digunakan dalam penyelenggaraan hubungan pendidikan sesuai dengan kebijakan yang telah ditetapkan guna untuk mencapai tujuan pendidikan .
Dalam batasan tersebut di atas, makna administrasi dapat di urai paling tidak menjadi lima pengertian pokok, yaitu :
1. Administrasi merupakan kegiatan atau kegiatan manusia
2. Rangkaian kegiatan itu marupakan suatu proses/pengelolaan dari suatu kegiatan yang kompleks, oleh sebab itu bersifat dinamis
3. Prose situ dilakukan bersama oleh sekelompok manusia yang tergabung dalam suatu organisasi
4. Proses itu dilakukan dalam rangka mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya
5 Proses pengelolaan itu dilakukan agar tujuannya dapat dicapai secara efektif dan efisien.(Tsauri:2:2007)
administrasi pendidikan mempunyai pengertian kerja sama untuk mencapai tujuan pendidikan. Seperti kita ketahui, tujuan pendidkan itu merentang dari tujuan yang sederhana sampai dengan tujuan yang kompleks, tergantung lingkup dan tingkat pengertian pendidikan yang dimaksud
D. Ruang Lingkup (Bidang Garapan) Administrasi Pendidikan
Administrasi pendidikan mempunyai ruang lingkup/bidang garapan yang sangat luas. Secara lebih rinci ruang lingkup adcministrasi pendidikan dapat diuraikan sebagai berikut :
a. Administrasi tata laksana sekolah, Hal ini meliputi :
1. Organisasi dan struktur pegawai tata usaha
2. Otorosasi dan anggaran belanja keuangan sekolah
3. Masalah kepegawaian dan kesejahteraan personel sekolah
4. Masalah perlengkapan dan perbekalan
5. Keuangan dan pembukuannya
b. Administrasi personel guru dan pegawai sekolah, hal ini meliputi :
1. Pengangkatan dan penempatan tenaga guru
2. Organisasi personel guru-guru
3. Masalah kepegawaian dan kesejahteraan guru
4. Rencana orientasi bagi tenaga guru yang baru
5. Inservice training dan up-grading guru-guru
c. Administrasi peserta didik, Hal ini meliputi :
1. Organisasi dan perkumpulan peserta didik
2. Masalah kesehatan dan kesejahteraan peserta didik
3. Penilaian dan pengukuran kemajuan peserta didik
4. Bimbingan dan penyuluhan bagi peserta didik (guidance and counseling)

d. Supervisi pengajaran, Hal ini meliputi :
1. Usaha membangkitkan dan merangsang semangat guru-guru dan pegawai tata usaha dalam menjalankan tugasnya masing-masing sebaik-baiknya.
2. Usaha mengembangkan, mencari, dan menggunakan metode-metode baru dalam mengajar dan belajar yang lebih baik
3. Mengusahakan cara-cara menilai hasil-hasil pendidikan dan pengajaran.
e. Pelaksanaan dan pembinaan kurikulum
Hal ini meliputi :
1.Mempedomani dan merealisasikan apa yang tercantum di dalam kurikulum sekolah yang bersangkutan dalam usaha mencapai dasar-dasar dan tujuan pendidikan dan pengajaran
2 .menyusun dan melaksanakan organisasi kurikulum beserta materi-materi, sumber-sumber dan metode-metode pelaksanaanya, disesuaikan dengan pembaharuan pendidikan dan pengajaran serta kebutuhan mesyarakat dan lingkungan sekolah
3. kurikulum bukanlah merupakan sesuatu yang harus didikuti dan diturut begitu saja dengan mutlak tanpa perubahan dan penyimpangan sedikitpun.
4. Kurikulum merupakan pedoman bagi para guru dalam menjalankan tugasnya.
f. Pendirian dan perencanaan bangunan sekolah, Hal in meliputi :
1.Cara memilih letak dan menentukan luas tanah yang dibutuhkan
2.Mengusahakan, merencanakan dan menggunakan biaya pendirian gedung sekolah
3.Menentukan jumlah dan luas ruangan-ruangan kelas, kantor, gudang, asrama, lapangan olah raga,dan sebagainya.
4.Cara-cara penggunaan gedung sekolah dan fasilitas-fasilitas lainyang efektif dan produktif, serta pemeliharaannya secara kontinyu.
5. Alat-alat perlengkapan sekolah dan alat-alat pelajaran yang dibutuhkan
g. Hubungan sekolah dengan masyarakat
Hal ini mencakup hubungan sekolah dengan sekolah-sekolah lain, hubungan sekolah dengan instansi-instansi dan jawsatan-jawatan lain dan hubungan sekolah dengan masyarfakat pada umumnya. Hendaknya semua hubungan itu merupakan hubungan kerjasama yang bersifat pedagogis, sosiologis dan produktif yang dapat mendatangkan keuntungan dan perbaikan serta kemajuan bagi kedua belah pihak.
Dari apa yang telah diuraikan di atas, ruang lingkup yang tercakup di dalam administrasi pendidikan dapat dikelompokkan sebagai berikut :
1. Administrasi material,yaitu kegiatan administrasi yang menyangkut bidang-bidang materi/benda-benda seperti :ketatausahaan sekolah, administrasi keuangan, dan lain-lain.
2. Administrasi personel,mencakup didalamnya administrasi personel guru dan pegawai sekolah, dan juga administrasi peserta didik.
3. Administrasi kurikulum,yang mencakup didalamnya penyusunan kurikulum, pembinaan kurikulum, pelaksanaan kurikulum, seperti pembagian tugas mengajar pada guru-guru, penyusunan silabus,dan sebagainya.(Tsauri:13-16:2007)
E.Masalah fukos dan lokus dari administtrasi pendidikan

1 Pendekatan proses administrasi memandang administrasi sebagai satu proses kerja yang dipergunakan untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi. Pendekatan ini juga seringkali disebut dengan pendekatan operasional.
2 Pendekatan empiris hendak melakukan generalisasi atas kasus-kasus yang telah secara sukses. Pendekatan ini seringkali disebut juga sebagai pendekatan pengalaman.
3. Pendekatan perilaku manusia memandang bahwa pencapaian tujuan-tujuan organisasi tergantung pada penerapan prinsip-prinsip psikologis. Pendekatan ini telah menampilkan aspek manusia sebagai elemen utama administrasi.
4. Pendekatan sistem sosial memandang administrasi sebagai satu sistem sosial. Kesadaran akan berbagai keterbatasan organisasi dapat menumbuhkan semangat kerjasama di antara anggota-anggota organisasi.
5. Pendekatan matematik memandang model-model matematik dapat diterapkan pada administrasi, dengan tujuan untuk melakukan peramalan.
6. Pendekatan teori keputusan memandang pembuatan keputusan sebagai fungsi utama administrasi. Semula pendekatan ini hanya membahas dan melakukan evaluasi terhadap alternatif-alternatif dalam memilih tindakan yang akan diambil, tetapi kemudian pendekatan ini juga mengkaji semua aktivitas organisasi.
F .PENTINGYA STUDY ADMINISTRASI DALAM PENDIDIKAN
Administrasi dalam pendidikan yang tertib dan teratur, sangat diperlukan untuk meningkatkan kemampuan pengelolaan pendidikan bagi Kepala Sekolah dan Guru. Peningkatan kemampuan tersebut akan berakibat positif, yaitu makin meningkatnya efisiensi, mutu dan perluasan pada kinerja di dunia pendidikan tersebut. Untuk memperlancar kegiatan di atas agar lebih efektif dan efisien perlu informasi yang memadai. Sistem informasi di dunia pendidikan ini menyangkut dua hal pokok yaitu kegiatan pencatatan data(recording system) dan pelaporan (reporting system). Administrasi suatu lembaga pendidikan merupakan suatu sumber utama manajemen dalam mengatur proses belajar mengajar dengan tertib sehingga tercapainya suatu tujuan terpenting pada lembaga pendidikan tersebut. Yang sangat diperlukan oleh para pelaku pendidikan untuk melakukan tugas dan profesinya. Kepala Sekolah dan guru disekolah sangat memerlukan data-data tentang siswa, kurikulum, sarana dan sebagainya untuk pengelolaan sekolah sehari-hari.
Pengawas pendidikan di semua tingkat memerlukan data-data tersebut sebagai bahan sarana supervisi. Untuk tingkat yang lebih tinggi misalnya Dinas Penididikan mulai tingkat kecamatan sampai propinsi memerlukan data untuk pelaporan yang lebih tinggi, untuk melakukan pembinaan, serta untuk menyusun rencana atau program pendidikan pada masa mendatang. Di tingkat pusat (nasional) data pendidikan diperlukan untuk perencanaan yang lebih makro, melakukan pembinaan, pengawasan, penilaian (evaluasi), dan keperluan administrasi lainnya.
Data pendidikan yang terdapat disekolah sangat banyak macam dan jenisnya. Ada yang bersifat relatif tetap dan ada yang selalu berubah. Untuk mendapatkan gambaran perubahan data dari waktu ke waktu, perlu dilakukan pencatatan yang teratur dan berkelanjutan dengan menggunakan sistem yang baku dalam satu sistem. Agar pencatatan data lebih akurat dan benar sesuai yang diharapkan tenaga administrasi yang terampil dan mengetahui apa yang menjadi tugasnya.
Di lembaga pendidikan tingkat menengah hampir sebagian besar belum ada tenaga administrasi sesuai yang diharapkan. Kepala Sekolah sebagai administrator di lingkungan sekolah yang dipimpinnya, dalam melaksanakan tugas administrasi dibantu oleh guru dengan cara membagi tugas administrasi mereka. Agar dalam melaksanakan tugas administrasi dan pelaporan, cepat dan benar diperlukan pedoman administrasi di tingkat sekolah.
G. Tujuan Administrasi Pendidikan
Tujuan adminitstrasi pada umumnya adalah agar semua kegiatan mandukung tercapainya tujuan pendidikan atau dengan kata lain administrasi yang digunakan dalam dunia pendidikan diusahakan untuk mencapai tujuan pendidikan.Sergiovanni dan carver (1975)(dalam burhanuddin:2005) menyebutkan empat tujuan administrasi :
1. efektifitas produksi
2. efesiensi
3. kemampuan menyesuaikan diri (adaptivenes)
4. kepuasan kerja
keempat tujuan tersebut digunakan sebagai kriteria untuk menentukan keberhasilan dalam penyelenggaraan sekolah. Sebagai contoh: sekolah mempinyai fungsi untuk mencapai efektivitas produksi, yaitu menghasilkan lulusan yang sesuai dengan tuntutan kurikulum. Dalam pencapaian tujuan tersebut harus dilakukan usaha seefisien mungkin, yaitu menggunakan kepuan dana, dan tenaga seminimal mungkin,tetapi memberikan hasil sebaik mungkin, sehingga lulusan tersebut dapat melanjutkan ketingkat berikutnya dan dapat menyesuaikan dirinya dengan lingkunganya yang barudan selanjutnya lulusan ini akan mencari kerja pada perusahaan yang memberikan kepuasan kerja kepada mereka.

H. Dasar dan Prinsip Administrasi Pendidikan
Berikut ini merupakan dasar yang perlu diperhatikan agar administrator dapat mencapai sukses dalam tugasnya. Beberapa dasar dalam administrasi antara lain :
1. Prinsip Efisiensi
Administrator akan berhasil dalam tugasnya bila dia menggunakan semua sumber, tenaga, dana, dan fasilitas yang ada secara efisien.
2. Prinsip Pengelolaan
Administrator akan memperoleh hasil yang paling efektif dan efisien dengan cara melakukan pekerjaan manejemen, yakni merencanakan, mengorganisasikan, mengarahkan dan melakukan pemeriksaan (pengontrolan).
3. Perinsip Pengutamaan Tugas Pengelolaan Bila diharuskan untuk memilih pekerjaan manajemen dan pekerjaan operatif dalam waktu yang sama, seorang administrator cenderung memprioritaskan pekerjaan operatif. Namun ia sebaiknya tidak memfokuskan perhatiannya pada pekerjaan operatif saja karena bila ia hanya berkecimpung dalam tugas-tugas operatif saja, maka pekerjaan pokoknya akan terbengkalai.
4. Prinsip Kepemimpinan yang Efektif
Seorang administrator akan berhasil dalam tugasnya apabila ia memiliki gaya kepemimimpinan yang efektif, yakni memperhatikan hubungan antar manusia (human relationship), Pelaksanaan tugas serta memperhatikan situasi dan kondisi (sikon) yang ada.
Adapun tentang gaya kepemiminan yang efektif adalah mampu memelihara hubungan baik dengan bawahannya. Di samping itu ia juga harus memperhatikan pembagian dan penyelesaian tugas bagi setiap anggota organisasi yang sesuai dengan jenis pekerjaanya.
5. Prinsip Kerjasama
Administrator dikatakan berhasil dalam melakukan tugasnya bila ia mampu mengembangkan kerjasma antara seluruh anggota baik secara horizontal maupun secara vertikal.
Adapun prinsip-prinsip yang digunakan dalam kurikulum 1975 sebagai landasan operasional kegiatan administrasi di sekolah adalah berikut ini:
1. Prinsip Fleksibilitas
Penyelenggaraan pendidikan di sekolah harus memperhatikan faktor-faktor ekosistem dan kemampuan menyediakan fasilitas untuk pelaksanaan pendidikan sekolah.
2. Prinsip Efisien dan Efektivitas
Efisiensi tidak hanya dalam penggunaan waktu secara tepat, melainkan juga dalam pendayagunaan tenaga secara optimal.
3. Prinsip berorientasi pada Tujuan Semua kegiatan pendidikan harus beriorientasi untuk mencapai tujuan. Administrasi pendidikan di sekolah merupakan komponen dalam sistem pendidikan maka untuk menjamin tercapainya tujuan tersebut, tujuan operasional yang sudah dirumuskan harus menjadi sandaran orientasi bagi pelaksanaan kegiatan administrasi pendidikan di sekolah.
4. Prinsip Kontinuitas
Prinsip kontinuitas ini merupakan landasan operasional dalam melaksanakan kegiatan administrasi di sekolah. Karena itu, dalam tiap jenjang pendidikan harus memiliki hirarki yang saling berhubungan.
5. Prinsip Pendidikan Seumur Hidup
Setiap manusia Indonesia diharapkan untuk selalu berkembang. Karena itu masyarakat ataupun pemerintah diharapkan dapat menciptakan situasi yang dapat mendukung dalam proses belajar mengajar. Dalam pelaksanaan administrasi pendidikan, prinsip tersebut perlu digunakan sebagai landasan operasional.
Ada sebuah prinsip-prinsip administrasi yang menyinggung organisasi, diantara prinsip-prinsip tersebut adalah :
1. Memiliki tujuan yang jelas .
2. Tiap anggota dapat memahami dan menerima tujuan tersebut
3. Adanya kesatuan arah sehingga dapat menimbulkan kesatuan tindakan dan pikiran
4. Adanya kesatuan perintah (Unity of command); para bawahan hanya mempunyai seorang atasan langsung dari padanya menerima perintah atau bimbingan dan kepada siapa ia harus mempertanggung jawabkan hasil pekerjaannya.
5. Koordinasi tentang wewenang dan tanggung jawab, maksudnya ada keseimbangan antara wewenang dan tanggung jawab masing-masing anggota
6. Adanya pembagian tugas atau pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan, keahlian dan bakat masing-masing, sehingga dapat menimbulkan kerjasama yang harfmonis dan kooperatif.(Tsauri:22:2007)
I. Fungsi –fungsi Administrasi Pendidikan / sekolah
Fungsi Umum Administrasi Pendidikan dan Penerapannya di Sekolah :
Fungsi dari administrasi pendidikan yaitu pengarahan tenaga baik jasmaniah maupun rohaniah untuk melaksanakan tugas atau memecahkan masalah guna mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapka secara efektif dan efisien.
Agar kegiatan dalam komponen administrasi pendidikan dapat berjalan dengan baik dan mencapai tujuan,kegiatan tersebut harus dikelola melalui suatu tahapan proses yang merupakan daur (siklus). Adapun proses administrasi pendidikan itu meliputi fungsi-fungsi perencanaan, pengorganisasian, koordinasi, komunikasi, supervise kepegawaian dan pembiayaan dan evaluasi. Semua fungsi tersebut satu sama lain bertalian sangat erat. Untuk menadapat gambaran yang lebih jelas tentang fungsi-fungsitersebut di bawah ini akan diuraikan secara lebih rinci.
Bahwa administrasi sekolah memiliki fungsi :
a. Perencanaan ( Planning )
b. Pengorganisasian ( Organizing )
c. Pengoordinasian ( Coordinating )
d. Komunikasi
e. Supervisi
f. Kepegawaian ( Staffing )
g. Pembiayaan ( Budgeting )
h. Penilaian ( Evaluating )
a. Perencanaan (Planning)
Perencanaan merupakan salh satu syarat mutlak bagi setiap kegiatan administrasi. Tanpa perencanaan,pelaksanaan suatu kegiatan akan mengalami kesulitan dan bahkan kegagalan dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Perencanaan merupakan kegiatan yang harus dilakukan pada permulaan dan selama kegiatan administrasi itu berlangsung. Di dalam setiap perencanaan ada dua faktor yang harus diperhatikan,yaitu faktor tujuan dan faktor sarana, baik sarana personel maupun material.
Langkah-langkah dalam perencanaan meliputi hal-hal sebagai berikut :
1. Menentukan dan merumuskan tujuan yang hendak dicapai
2. Meneliti masalah-masalah atau pekerjaan-pekerjaan yang akan dilakukan
3. Mengumpulkan daa dan informasi-informasi yang diperlukan
4. Menentukan tahap-tahap dan rangkaian tindakan
5. 5. Merumuskan bagimana masalah-masalah itu akan dipecahkan dan bagaimana pekerjaan-pekerjaan itu akan diselesaikan
Syarat-syarat perencanaan
Dalam menyusun perencanaan syarat-syarat berikut perlu diperhatikan :
1. perencanaan harus didasarkan atas tujuan yang jelas
2. bersifat sederhana, realistis dan praktis
3. terinci, memuat segala uraian serta klarifikasi kegiatan dan rangkaian tindakan sehingga mudah di pedomani dan dijalankan
4. memiliki fleksibilitas sehingga mudah disesuaikan dengan kebutuhan serta kondisi dan situasi sewaktu-waktu
5. terfdapat perimbangan antara bermaca-macam bidang yang akan digarap dalam perencanaan itu, menurut urgensinya masing-masing
6. 6. diusahakan adanya penghematan tenaga, biaya dan waktu serta kemungkinan penggunaan sumber-sumber daya dan dana yang tersedia sebaik-baiknya diusahakan agar sedapat mengkin tidak terjadi adanya duplikasi pelaksanaan
Merencanakan berarti pula memikirkan tentang penghematan tenaga, biaya dan waktu, juga membatasi kesalahan-kesalahan yangmungkin terjadi dan menghindari adanya duplikasi-duplikasiatau tugas-tugas/pekerjaan rangkap yang dapat menghambat jalannyapenyelesaian.
Jadi, perencanaan sebagai suatu fungus administrasi pendidikan dapat disimpulkan sebagai berikut :“perencanaan(planning) adalah aktivitas memikirkan dan memilih rangkaian tindakan-tindakan yang tertuju pada tercapainya maksu-maksud dan tujuan pedndidikan”.
b. Pengorganisasian (Organizing)
Pengorganisasian merupakan aktivitas menyusun dan membentuk hubungan-hubungan kerja antara orang-orang sehingga terwujud suatu kesatuan usaha dalam mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. Di dalam pengorganisasian terdapatadanya pembagian tugas-tugas, wewenang dan tanggung jawab secara terinci menurut bidang-bidang dan bagian-bagian, sehingga dari situ dapat terciptalah adanya hubungan-hubungan kerjasama yang harfmonis dan lancar menuju pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.
Pengorganisasian sebagai fungsi administrasi pendidikan menjadi tugas utama bagi para pemimpin pendidikan termasuk kepala sekolah. Kita mengetahui bahwa dalam kegiatan sekolah sehari-sehari terdapat bermacam-macam jenis pekerjaan yang memerlukan kecakapandan keterampilan dan tanggung jawab yang berbeda-beda. Keragaman tugas dan pekerjaan semacam itu tidak mungkin dilakukan dan dipikul sendiri oleh seoran pemimpin. Dlam hal inilah terletak bagaimana kecakapan kepala sekolah mengorganisasi guru-guru dan pegawai sekolah lainnya dalam menjalankan tugasnya sehari-hari sehingga tercipta adanya hubungan kerja sama yang harmonis dan lancar.
Yang perlu diperhatikan dalam pengorganisasian antara lain ialah bahwa pembagian tugas, wewenang dan tanggung jawab hendaknya disesuaikan dengan penglaman,bakat, minat, pengetahuan dan kepribadian masing-masing prang yang dikperlukan dalam menjalankan tugas-tigas tersebut.
Dengan demikian ,pengorganisasian sebagai salah satu fungsi administrasi pendidikan dapat disimpulkan sebagai berikut :
“pengorganisasian adalah aktivitas-aktivitas menyusun dan membentuk hubungan-hubungan sehingga terwujudlah kesatuan usaha dealam mencapai maksud-maksud dan tujuan-tujuan pendidikan”.
c. Pengkoordinasian (Coordinating)
Adanya bermacam-macam tugas/pekerjaan yang dilakukan oleh banyak orang, memerlukan adanya koordinasi dari seorang pemimpin. Adanya koordinasi yang baik dapat menghindarkan kemungkinan terjadinya persaingan yang tidak sehat dan atau kesimpangsiuran dalam tindakan. Dengan adanya koordinasi yang baik, semua bagian dcan personel dapat bekerja sama menuju ke satu arah tujuan yang telah ditetapkan.
Pengkoordinasian diartikan sebagai usaha untuk menyatu padukan kegiatan dari berbagai individu agar kegiatan mereka berjalan selarfas dengan anggota dalam usaha mencapai tujuan. Usayha pengkoordinasian dapat dilakukan melalui berbagai cara,seperti:(a)melaksanakan penjelasan singkat (briefing);(b)mengadakan rapat kerja;(c) memberikan unjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis,dan (d) memberikan balikan tentang hasil sutu kegiatan.(Soetjipto:137:2004)
Dengan demikian,koordinasi sebagai salah satu fungsi administrasi pendidikan dapat disimpulkan sebagi berikut :
“koordinasi adalah aktivitas membawa orang-orang, material, pikiran-pkiran, teknikk-teknik dan tujuan-tujuan kedalam hubungan yang harmonis dan produktif dalam mencapai suatu tujuan”.
d. Komunikasi
Dalam melaksanakan suatu program pendidikan, aktivitas menyebarkan dan menyampaikan gagasan-gagasan dan maksud-maksud ke seluruh struktur organisasi sanat penting. Proses menyampaikan atau komunikasi ini meliputi lebih dari pada sekedar menyalurkan pikiran-pikiran, gagasan-gagasan dan maksud-maksud secara lisan atau tertulis.
Komunikasi secara lisan pada umumnya lebih mendatangkan hasil dan pengertian yang jelas dari pada secara tertulis. Demikian pula komunikasi yang dilakukan secara informal dan secara formal mendatangkan hasil yang berbeda pengaruh dan kejelasannya.
Menurut sifatnya, komunikasi ada dua macam yaitu komunikasi bebas dan komunikasi terbatas. Dalam komunikasi bebas, setiap anggota dapat berkomunikasi dengan setiap anggota yang lain. sedangkan dalam komunikasi terbatas, setiap anggota hanya dapat berhubungan dengan beberapa anggota tertentu saja.
Dengan demikian, organisasi sebagai salah satu fungsi administrasi pendidikan dapat disimpulkan sebagai berikut :
“komunikasi dalam setiap bentuknya adalah suatu proses yang hendak mempengaruhi sikap dan perbuatan orang-orang dalam struktur organisasi”.
e. Supervisi
Setiap pelaksanaan program pendidikan memerlukan adanya pengawasan atau supervise. Pengawasan bertanggung jawab tentang keefektifan program itu. Oleh karena itu, supervise haruslah meneliti ada atau tidaknya kondisi-kondisi yang akan memungkinkan tercapainya tujuan-tujuan pendidikan.

Jadi, fungsi supervisi yang terpentig adalah :
1. menentukan kondisi-kondisi/syarat-syarat apakah yang diperlukan
2. memenuhi/mengusahakan syarat-syarat yang diperlukan itu.
Dengan demikian , supervisi sebagai salah satu fungsi administrasi pendidikan dapat disimpulkan sebagai berikut :
“supervise sebagai fungsi administrasi pendidikan berarti aktivitas-aktivitas untuk menentukan komdisi-kondisi/syarat-syarat yang esensial yang akan menjamin tercapainya tujuan-tujuan pendidikan”.
f. Kepegawaian (Staffing)
Sama halnya dengan fungsi-fungsi administrasi pendidikan yang telah diuraikan terdahulu kepegawaian merupakan fungsi yang tidak kalah pentingnya. Agak berbeda dangan fungsi-fungsi administrasi yang telah dibicarakan, dalam kepegawaian yang menjadi titik penekanan ialah personal itu sendiri. Aktivitas yang dilakukan di dalam kepegawaian antara lain : menentukan, memilih, menempatkan dan membimbing personel.
Sebenarnya fungsi kepegawaian ini sudah dijalankan sejak penyusunan perencanaan dan pengorganisasian. Di dalam pengorganisasian telah dipikirkan dan diusahakan agar untuk personel-personel yang menduduki jabatan-jabatan tertentu di dalam struktur organisasi itu dipilih dan di angkat orang-orang yang memiliki kecakapan dan kesanggupan yang sesuai dengan jabatan yang di pegangnya. Dalam hal ini prinsip the right man in the right place selalu di perhatikan.
g. Pembiayaan
Biaya/pambiayaan merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam sebuah organisasi karena biaya ini sangat menentukan bagi kelancaran jalannya sebuah organisasi, tanpa biaya yang mencukupi tidak mungklin terjamin kelancaran jalannya suatu organisasi.
Setiap kebutuhan organisasi, baik personel maupun material, semua memerlukan adanya biaya., itulah sebabnya masalah pembiayaan ini harus sudah mulai dipikirkan sejak pembuatan planning sampai dengan pelaksanaannya.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam fungsi pembiayaan, antara lain :
1. perencanaan tentang berapa biaya yang diperlukan
2. dari mana dan bagaimana biaya itu dapat diperoleh/diusahakan
3. bagaimana penggunaanya
4. siapa yang akan melaksanakannya
5. bagaimana pembukuan dan pertangung jawabannya
6. bagaimana pengawasannya,dll.
h. Penilaian (Evaluating)
Evaluasi sebagai fungsi administrasi pendidikan adalah aktivitas untuk meneliti dan mengetahui sampai di mana pelaksanaan yang dilakukan di dalam proses keseluruhan organisasi mencapai hasil sesuai denhan rencana atau program yang telah di tetapkan dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan. Setiap kegiatan, baik yang dilakukan oleh unsure pimpinan maupun oleh bawahan, memerlukan adanya evaluasi. Dengan mengetahui kasalahan-kasalahan atau kekurangan-kekurangan serta kemacetan-kemacetan yang diperoleh dari tindakan evaluasi itu, selanjutnya dapat di usahakan bagaimana cara-cara memperbaikinya.(Purwanto:15-22:2007)
Secara lebih rinci maksud penilaian (evaluasi) adalah : Memperoleh dasar bagi pertimbangan apakah pada akhir suatu periode kerja , pekejaan tersebut berhasil Menjamin cara bekerja yang efektif dan efisien Memperoleh fakta-fakta tentang kesukaran-kesukaran dan untuk menghindari situasi yang dapat merusak Memajukan kesanggupan para personel dalam mengembangkan organisasi.(Soetjipto:138:2004) Perlu ditekankan disini bahwa fungsi-fungsi pokok yang telah dibicarakan di atas satu sama lain sangat erat hubungannya, dan kesemuanya merupakan suatu proses keseluruhan yang tidak terpisahkan satu sama lain dan merupakan rangkaian kegiatan yang kontinyu.
Berdasarkan fungsi-fungsi pokok administrasi pendidikan dapat perincikan dimulai dari perencanaan hingga akhir atau evaluasi, sehingga dapat disimpulkan administrasi harus memiliki visi dan misi yang baik atau mutu yang baik. Dengan demikian inovasi dan motivasi dalam administrasi dapat dikoordinasi dengan bijaksana dan komunikasi atau gagasan dapat diberikan secara terbuka, dan dalam kepemilihan atau diangkat harus memiliki kecakapan dan kesanggupan yang sesuai dengan pegangan-nya.
mestinya juga tidak lepas dari supervise atau pengawasan sehingga dalam menentukan kondisi atau syarat yang akan menjamin tercapainya suatu tujuan dapat berjalan dengan baik, hal ini juga tidak terlpas dari adanya pembiayaan terhadap keseluruhan dalam pembentukan administrasi,adapun tindakan terakhir adalah mengevaluasi sejauh mana pelaksanaan yang dilakukan di dalam proses keseluruhan organisasi sesuai dengan perencanaan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.
Dengan demikian berdasarkan perincian diatas fungsi pokok administrasi satu sama lain sangat erat hubungannya dan kesemuanya merupakan suatu proses keseluruhan yang tidak bias dipisahkan dan merupakan rangkaian kegiatan yang kontinyu.
I.2 . FUNGSI HUKUM ADMINISTRASI PENDIDIKAN
• Undang-undang administrasi pendidikan
Dalam Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, jelas disebutkan pada Bab XI pasal 39 ayat (1) menyatakan tenaga kependidikan bertugas melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan.
Fungsi hukum administrasi pendidikan mengandung pengertian proses untuk mencapai tujuan pendidikan. Proses itu dimulai dari perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, pengarahan, pemantauan dan penilaian. Perencanaan meliputi kegiatan menetapkan apa yang ingin dicapai, bagaimana mencapainya, berapa lama, berapa orang yang diperlukan, dan berapa banyak biayanya. Perencanaan ini dibuat sebelum suatu tindakan dilaksanakan. Pengorganisasian yang mempunyai arti suatu kegiatan menyusun atau membagi tugas-tugas kepada orang yang terlibat dalam kerja sama pendidikan.
Berdasarkan dari undang-undan nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dapat disimpulkan bahwa hokum administrasi pendidikan adalah suatu tindakan atau tatanan dalam dalam suatu instansi pendidikan yang dikoordinasi oleh pimpinan-nya untuk mencapai tujuan pendidikan agar tida lepas dari jalur-jalur dalam mengambil tindakan dan mempunyai batasan- batasan terhadap bidang nya masing-masing atau ketentuan-ketentuan yang harus disepakati.
I.3. KONSEP PENERAPAN ADMINISTRASI DI SEKOLAH

Administrasi merupakan bagian dari pendidikan yang mempunyai peran sebagai sarana untuk mempermudah pelaksanaan suatu pendidikan agar teratur dalam pelaksanaan-nya . karena pendidikan merupakan proses agar mecapai tingkat hidup yang lebih baik.
Dalam pengertian pendidikan GBHN dan UU Sisdiknas tahun 1988 pendidikan mempunyan pengertian :
a. Pasal 1 (1) pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar perserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan ,ahklak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya masyarakat dan bangsa negara.
b. Pasal 1 ( 2 ) pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan pancasila dan UUD 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan dan tanggap terhadap tuntutan perubahan jaman.
c. Pasai (3 ) system pendidikan nasional adalah keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan nasional.
Berdasarkan pengertian pendidikan diatas dapat disimpukan bahwa pendidikan perlu adanya administrasi pendidikan yang nantinya akan menjadi alat sebagai tindakan agar pendidikan dapat berjalan dengan baik.
Berikut ini merupakan suatu penerapan administrasi disekolah yang merupakan struktur dari organisasi sekolah adalah sebagai berikut :

a .Sistem dan Struktur Organisasi
Pengertian Sistem dan Organisasi Sekolah
kesimpulan yang didapat maka,
Sistem adalah merupakan serangkaian unsur-unsur yang berkaitan satu sama lain, yang memperoleh masukan dari lingkungan, merubah masukan tersebut dan menhasilkan produk untuk lingkungan luar.
Organisasi sekolah adalah sekelompok orang yang tergabung menjadi satu kesatuan yang secara sadar membentuk struktur sistem kerja sama melaksanakan tugas pendidikan sekolah dengan mendayagunakan sumber potensi mencapai tujuan pendidikan sekolah secara efektif dan efisien.
Unsur-unsur penting dari organisasi yaitu :
a.Sekelompok orang
b.Struktur Sistem kerja sama
c .Pendayagunaan sumber potensi
d.Pecapaian tujuan pendidikan sekolah secara efektif dan efisien
b.Fungsi dan Tujuan organisasi Sekolah
Fungsi organisasi sekolah dapat dirinci sbb :
a.Berfungsi untuk mengatur , mengarahkan dan mengkoordinasikan personel.
a .Berfungsi untuk mengatur , mengarahkan dan mengkoordinasikan strategi, pendekatan, metode, dan teknik. Agar semua unit dan anggota organisasi sekolah dapat menjalankan tugasnya masing-masing secara berdaya guna dan berhasil
b.Berfungsi untuk mengatur , mengarahkan dan mengkoordinasikan sumber materiil dan dana.
c.Berfungsi mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara efektif dan efieien.
Tujuan organisasi sekolah yang tidak terlepas dari fungsinya yaitu sbb :
a.Pembagian wewenang dan tugas yang jelas dan tegas batas-batasnya yang disertai dengan arah pemberian perintah, konsultasi, koordinasi dan pertanggungjawaban.
b.Semua unit atau personel benar-benar memahami strategi, pendekatan, metode dan teknik yang digunakan untuk melaksanakan tugasnya.
c.Semua personel memahami peralatan dan dana yang digunakan serta cara penggunaannya dalam rangka melaksanakan tugas-tugasnya.
d.Semua personel memahami tujuan atau sasaran yang ingin dicapai beserta kriteria keberhasilannya.
c.Bentuk dan Struktur Organisasi Sekolah
a.organisasi sekolah
Dibedakan menjadi 2 yaitu organisasi pendidikan makro dan organisasi pendidikan mikaro.
Secara makro di negara indonesia akan ada struktur hirarki organisasi pendidikan sbb :
1.Organisasi Departemen Pendidikan Nasional di tingkat pusat, sebagai organisasi pendidikan tingkat atas
2.Organisasi Departemen Pendidikan Nasional Di tingkat propinsi
3.Organisasi Departemen Pendidikan Nasional Ditingkat kabupaten
4.Organisasi Departemen Pendidikan Nasional Di tingkat sekolah
5Organisasi Departemen Pendidikan Nasional di tingkat kelas
d.Ogranisasi mikro adalah organisasi sekolah.
Dilihat dari jenisnya menurut Wijono (1989) organisasi dapat dibedakan menjadi 3 yaitu :
1.Organisasi formal adalah organisasi yang tujuannya secara tertulis berdasarkan peraturan yang berlaku, menetapkan pada pola kegiatan dengan menekankan pada koordinasi dan hirarki kewenangan.
2.Organisasi sosial adalah organisasi yang dibentuk berdasarkan tujuan yang tidak dinyatakan secara tertulis tetapi implisit dengan pola kerja yang longgar dan tidak ada struktur kewenangan secara hirarki.
3.Organisasi informal adalah organisasi yang terbentuknya dalam bentuk formal, tetapi tidak termasuk kedalam struktur organisasi seperti yang digariskan dalam organisasi formal.
Jadi dilihat dari jenisnya maka organisasi sekolah termasuk dalam organisasi formal, karena tujuan, struktur dan pola kegiatan ditentukan secara formal.
7.Struktur Organisasi Sekolah
Secara teoritik berdasarkan hirarki organisasi, menurut Engkoswara (1987) struktur organisasi dibedakan menjadi 3 yaitu :
1.Struktur organisasi pipih yaitu stuktur organisasi yang menggunakan jenjang organisasi antara 2 sampai dengan 3 tingkatan.
2.Stuktur organisasi datar yaitu struktur organisasi yang melaksanakan jenjang organisasi sampai dengan 4 tingkatan.
3Struktur organisasi curam yaitu struktur organisasi yang melaksanakan jenjang organisasi sampai dengan 5 tingkatan.
Jadi apabila dilihat dari sekolah yang berdiri sendiri maka struktur organisasi sekolah dikategorikan berstruktur datar, dan bila sekolah sebagian dari organisasi departemen pendidikan dan kebudayaan maka akan berstruktur organisasi curam

Penerapan administrasi dalam penerimaan siswa baru :

Contoh administrasi organisasi sekolah sebagai tujuan pendidikan dalam struktur organisasi sekolah :
struktur organisasi sekolah :
1. Kepala Sekolah (pimpinan)

Dengan berjalan-nya otonomi sekolah, maka peran seorang pimpinan dalam suatu organisasi akan semakin dominan, sehingga seorang pimpinan dituntut untuk dapat menggerakkan bawahannya agar mau dan mampu bekerja keras dalam mewujudkan tujuan organisasi, salah satunya dengan komunikasi yang efektif dan efisien. Hal ini yang diterapkan oleh pihak kepala sekolah SD Al-Kautsar Bandar Lampung.
Berkenaan dengan hal tersebut Masmuh (2008:279), mengatakan bahwa komunikasi kepemimpinan merupakan aktivitas penyampaian pesan, informasi, dan tugas (secara verbal ataupun non verbal) melalui media tertentu yang dilakukan oleh seorang pemimpin kepada bawahannya dengan tujuan tertentu.

a. Peranan dan Tugas Kepala Sekolah
Kemampuan kepemimpinan kepala sekolah merupakan faktor penentu utama pemberdayaan guru dan peningkatan mutu proses dan produk pembelajaran. Kepala sekolah adalah orang yang bertanggung jawab apakah guru dan staf sekolah dapat bekerja secara optimal. Kultur sekolah dan kultur pembelajaran juga dibangun oleh gaya kepemimpinan kepala sekolah dalam berinteraksi dengan komunitasnya (Kepala sekolah, guru, dan staf).
Besarnya tanggung jawab kepala sekolah digambarkan oleh Sergiovani, Burlingame, Coombs, dan Thurston (1987) dalam Danim (2003:197), bahwa kepala sekolah untuk jenjang dan jenis sekolah apapun, merupakan orang yang memiliki tanggung jawab utama, yaitu apakah guru dan staf dapat bekerja sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. Tugas-tugas kepala sekolah bersifat ganda, yang satu sama lain memiliki kaitan erat, baik langsung atau tidak langsung.
Tugas-tugas kepala sekolah di SD Al-Kautsar yang dimaksud adalah mengkoordinasi, mengarahkan, dan mendukung hal-hal yang berkaitan dengan tugas pokoknya yang sangat kompleks, yaitu :
1. merumuskan tujuan dan sasaran-sasaran sekolah.
2. mengevaluasi kinerja guru.
3. mengevaluasi kinerja staf sekolah.
4. menata dan menyediakan sumber-sumber organisasi sekolah.
5. membangun dan menciptakan iklim psikologis yang baik antar komunitas sekolah.
6. menjalin hubungan dan ketersentuhan kepedulian terhadap masyarakat.
7. membuat perencanaan bersama staf dan komunitas sekolah.
8. menyusun penjadwalan kerja.
9. mengatur masalah-masalah pembukuan.
10. melakukan negosiasi dengan pihak eksternal.
11. memecahkan konflik antarsesama guru dan antarpihak pada komunitas sekolah.
12. merima referal dari guru-guru dan staf sekolah untuk persoalan-persoalan yang tidak dapat mereka selesaikan.
13. memotivasi guru dan karyawan untuk tampil optimal.
14. melakukan fungsi supervisi pembelajaran atau pembinaan profesional.
15. melaksanakan kegiatan lain yang mendukung operasi sekolah.
Kepala sekolah berfungsi dan bertugas sebagai edukator, manajer, administrator dan supervisor, pemimpin / leader inovator, motivator.
b. Kepala Sekolah selaku Edukator
Kepala sekolah selaku educator bertugas melaksanakan proses belajar mengajar efektif dan efisien ( lihat tugas guru ).

c. Kepala sekolah selaku manajer :
1) Menyusun perencanaan
2) Mengorganisasikan kegiatan
3) Mengarahkan kegiatan
4) Melaksanakan pengawasan
5) Melakukan evaluasi terhadap kegiatan
6) Melakukan evaluasiterhadap kegiatan
7) Menentukan kebijaksanaan 8) Mengadakan rapat
9) Mengambil keputusan
10) Mengatur proses belajar mengajar
11) Mengatur administrasi : ketatausahaan; siswa; ketenagaan; sarana prasarana; keuangan /RAPBS
12) Mengatur organisasi siswa intra sekolah (OSIS)
13) Mengatur hubungan sekolah dengan masyarakat dan instansi terkait.

d. Kepala sekolah selaku administrator bertugas menyelenggarakan administrasi :
1) Perencanaan
2) Pengorganisasian
3) Pengarahan
4) Pengkoordinasian
5) Pengawasan
6) Kurikulum
7) Kesiswaan 8) Ketatausahaan
9) Ketenagaan
10) Kantor
11) Keuangan
12) Perpustakaan
13) Laboratorium
14) Ruang Ketrampilan/Kesenian
15) Bimbingan Konseling
16) UKS
17) Gedung Serbaguna
18) OSIS
19) Media
20) Gudang
21) 7K

e. Kepala sekolah selaku supervisor bertugas menyelenggarakan supervise mengenai :
1) Proses belajar mengajar
2) Kegiatan bimbingan dan konseling
3) Kegiatan ekstrakurikuler
4) Kegiatan kerjasama dengan masyarakat dan instansi terkait
5) Sarana dan prasarana
6) Kegiatan OSIS
7) Kegiatan 7K

f. Kepala sekolah selaku pemimpin/leader
1) Dapat dipercaya, jujur dan bertanggungjawab
2) Memahami kondisi guru, karyawan dan siswa
3) Memiliki visi dan memahami visi sekolah
4) Mengambil keputusan urusan intern dan ekstern sekolah
5) Membuat, mencari dan memilih gagasan baru

g. Kepala sekolah selaku inovator
1) Melakukan pembaharuan di bidang :
a. KBM
b. BK
c. Ekstrakurikuler
d. Pengadaan
2) Melaksanakan pembinaan guru dan karyawan
3) Melakukan pembaharuan dalam menggali sumber daya di komite sekolah dan masyarakat

h. Kepala sekolah selaku motivator
1) Mengatur ruang kantor yang kondusif untuk bekerja
2) Mengatur ruang kantor yang kondusif untuk KBM dan BK
3) Mengatur ruang laboratorium yang kondusif untuk praktikum
4) Mengatur ruang perpustakaan yang kondusif untuk belajar
5) Mengatur halaman / lingkungan sekolah yang sejuk dan teratur
6) Menciptakan hubungan kerja yang harmonis sesama guru dan karyawan
7) Menciptakan hubungan kerja yang harmonis antar sekolah dan lingkungan 8) Menerapkan prinsip penghargaan dan hukuman

Dalam melaksanakan tugasnya kepala sekolah dapat mendelegasikan kepada wakil kepala sekolah :
Kepala Sekolah adalah seorang manager, yaitu orang yang melaksanakan/mengelola management sekolah. Kepala sekolah harus mampu memanage (meminit) unsur manusia dengan sebaik-baiknya untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah. Dalam hal ini, kepala sekolah tidak melaksanakan sendiri tindakan-tindakan yang bersifat operasional sekolah, tetapi mengambil keputusan menentukan kebijaksanaan dan menggerakkan orang lain untuk melaksanakan keputusan kepala sekolah yang telah diambil sesuai dengan kebijakkan yang telah digariskan dalam program kerja.Seorang Kepala Sekolah sebagai pengelola management sekolah harus memahami Fungsi-Fungsi Dasar Management, yang meliputi :
1.Planning(Perencanaa)
2.Organizing(Pengorganisasian)
3.Actuating(Penggerakan)
4.Controlling(Pengontrollan)
5.Evaluation(Evaluasi)

.1 Planning (Perencanaan )
Menetapkan rencana apa yang harus dilaksanakan sekolah untuk menyelesaikan proram-program yang telah dibuat. Fase pertama perlu ditetapkan : “ Apa, kapan dan bagaimana” pekerjaan harus dilakukan. Dalam fase ini disebut “Perencanaan” (Planning).

.2 Organizing ( Pengorganisasian )
Mendistribusikan atau mengalokasikan tugas-tugas pada orang-orang yang diberi kewenangan yang dituangkan dalam SK.Tugas, Kepala Sekolah mendelegasikan kekuasaan dan menetapkan hubungan kerja antara anggota kelompok kerja dengan delegir. Fase ini disebut “Pengorganisasian” (Organizing)
3 Actuating ( Penggerakkan )
Kepala Sekolah menggunakan sarana-sarana, seperti komunikasi,pemberian instruksi,saran,teguran,pujian, sehingga para pelaku tenaga kependidikan tergerak untuk melaksanakan tugas yang telah diemban dengan secara ikhlas dan dengan kerjasama yang baik sebagai partner kerja kepala sekolah. Kegiatan ini menyebabkan kegiatan operasional sekolah menjadi bergerak dan berjalan. Fase ini lazim disebut “Penggerakkan” (Actuating).

4 Controlling (Pengawasan )
Pada saat kegiatan sekolah sedang bergerak atau berjalan, kepala sekolah harus selalu mengadakan pengawasan atau pengendalian agar gerakkan atau jalannya kegiatan operasional sekolah sesuai dengan planning yang telah digariskan. Fase ini disebut “Pengawasan atau Pengendalian” (Controlling).
5. Evaluatiom ( Evaluasi)
Hasil kerja yang telah dicapai dalam program yang telah digariskan dibuat prosentase realisasi pencapaian sasaran/target. Dalam hal ini kepala sekolah dapat mengevaluasi kekurangan-kekurangan yang ada, penyebab timbulnya hambatan/kendala, sehingga dapat untuk memperbaiki kinerja mendatang. Fase ini disebut “Evaluasi” (Evaluation).

2. Wakil Kepala Sekolah
Wakil Kepala Sekolah merupakan kepanjangan tangan kerja kepala sekolah
yang membantu tugas-tugas kepala sekolah sesuai dengan pembagian tugas masing-masing, yang meliputi :
1. Wakil Kepala Sekolah Urusan Kurikulum
2.Wakil Kepala Sekolah Urusan Kesiswaan
3.Wakil Kepala Sekolah Urusan Sarana dan Prasarana
4.Wakil Kepala Sekolah Urusan Hubungan Masyarakat.
Wakil kepala sekolah harus membuat suatu perencanaan didalam melaksanakan tuagas selama tahun ajaran berlangsung bisa selama satu semester setiap wakil masing-masing mempunyai perencanaaan sesuai dengan urusan masing-masing.Uraian tugas yang telah digariskan melalui SK.Tugas, Wakil Kepala Sekolah mengkoordinasikan anggota kelompok kerjanya, sehingga antara wakil kepala sekolah yang satu dengan yang lain tidak tumpang tindih pelaksanaan operasionalnya.
Wakil kepala Sekolah Urusan Kurikulum berkoordinasi dengan semua guru mata pelajaran dan wali kelas, bertanggungjawab atas terselenggaranya Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Wakil Kepala Sekolah Urusan Kesiswaan berkoodinasi dengan Guru Pembina OSIS dan seluruh Pembina seksi-seksi kegiatan Ekstra Kurikuler. Menyusun Program Kerja kegiatan OSIS, menegakkan disiplin dan tata tertip siswa.
Adapun tugas umum dari wakil kepala sekolah adalah :
1) Mewakili kepala sekolah jika tidak ada di tempat atau berhalangan hadir pada kegiatan di dalam / luar sekolah (sesuai penunjukan oleh kepala sekolah).
2) Melaksanakan pembinaan sesuai bidangnya
3) Membantu kepala sekolah dibidang humas
4) Membantu kepala sekolah menentukan pembagian tugas dilingkungan sekolah dan kegiatan ekstrakurikuler
5) Membantu kepala sekolah melaksanakan 7 K
6) Membantu kepala sekolah menegakkan disiplin dan efektifitas kegiatan guru, siswa dan siswa serta membantu kepala sekolah mendata kegiatan wali kelas dan guru lainnya.
Wakil kepala sekolah di SD Al-Kautsar memiliki tugas membantu kepala sekolah dalam kegiatan – kegiatan sebagai berikut :
1)Menyusun perencanaan, membuat program kegiatan dan pelaksanaan program
2)Pengorganisasian
3)Pengarahan
4)Ketenagaan
5)Pengkoordinasian
6)Pengawasan
7)Penilaian
8)Identifikasi dan pengumpulan data
9)Penyusunan laporan

Wakil kepala sekolah bertugas membantu kepala sekolah dalam urusan – urusan sebagai berikut:
a.Kurikulum
1)Menyusun dan menjabarkan kalender pendidikan
2)Menyusun pembagian tugas guru dan jadwal pelajaran
3) Mengatur penyusunan program pengajaran (program semesteran, program satuan pelajaran dan persiapan mengajar, penjabaran dan penyesuaian kurikulum).
4) Mengatur pelaksanaan kurikuler dan ekstra kurikuler .
5) Mengatur pelaksanaan program penilaian criteria kenaikan kelas, criteria kelulusan, dan laporan kemajuan belajar siswa, serta pembagian rapor dan STTB.
6) Mengatur pelaksanaan program perbaikan dan pengajaran.
7) Mengatur pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar. 8) Mengatur pengembangan MGMP dan coordinator mata pelajaran.
9) Mengatur mutasi siswa
10) Melakukan supervise administrasi dan akademis
11) Menyusun laporan

b. Kesiswaan
1) Mengatur program dan pelaksanaan bimbingan dan konseling
2) Mengatur dan mengkoordinasikan pelaksanaan 7K (keamanan, kebersihan, ketertiban, keindahan,kekeluargaan, kesehatan dan kerindangan).
3) Mengatur dan membina program kegiatan OSIS meliputi Kepramukaan, PMR, KIR,UKS, PKS dan Paskibra.
4) Mengatur program pesantren kilat.
5) Menyusun dan mengatur pelaksanaan pemilihan siswa teladan sekolah.
6) Menyelenggarakan cerdas cermat, olahraga prestasi.
7) Menyeleksi calon untuk di usulkan mendapat beasiswa.

c. Sarana prasarana
1) Merencanakan kebutuhan sarana dan prasarana untuk menunjang proses belajar mengajar
2) Merencanakan program pengadaannya.
3) Mengatur pemanfaatan sarana prasarana.
4) Mengelola perawatan, perbaikan dan pengisian
5) Mengatur pembakuannya.
6) Menyusun laporan.

d. Hubungan masyarakat
1) Mengatur dan mengembangkan hubungan dengan Komite sekolah dan peran Komite sekolah.
2) Menyelenggarakan bakti social, karyawisata.
3) Menyelenggarakan pameran hasil pendidikan di sekolah (gebyar pendidikan)
4) Menyusun laporan.

3 Guru
Dengan dikoordinasi oleh Wakil kepala sekolah Urusan Kurukulum, guru harus mampu menguasai pengelolaan Program Pengajaran yang meliputi : Program tahunan, Program Semester, Analisis Materi Pelajaran, Pengayaan dan lain-lain yang berkenaan dengan proses belajar mengajar.
Guru tidak hanya dituntut untuk meningkatkan ilmu pengetahuan anak didiknya, tetapi juga harus mampu membekali diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada sekarang. Dalam hal ini kepala sekolah harus mendorong dan memberi kesempatan kepada para guru untuk mengikuti penataran ,seminar, simposium, musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Sehingga dapat meningkatkan pengetahaun seorang guru dalam melkasanakn kegiatan belajar mengajar.Undang-undang Guru dan Dosen, menyebutkan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. (Pasal 1, UUGD No. 14 tahun 2005). Guru adalah figur seorang pemimpin. Guru adalah sosok aristektur yang dapat membentuk jiwa dan watak anak didik. Guru mempuayai kekuasaan untuk membentuk dan membangun kepribadian anak didik menjadi seorang yang berguna bagi agama, nusa, dan bangsa. Guru bertugas mempersiapkan manusia susila yang cakap yang dapat diharapkan membangun dirinya dn membangun bangsa dan negara.
Jabatan guru memiliki banyak tugas, baik yang terikat oleh dinas maupun di luar dinas dalam bentuk pengabdian. Syaiful Bahri Djamarah, menjelaskan bahwa tugas guru tidak hanya sebagai profesi, tetapi juga sebagai kemanusiaan dan kemasyarakatan. (Djamarah, 2000:37).
Tugas guru sebagai profesi menuntut kepada guru untuk mengembangkan profesionalitas diri sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Mendidik, mengajar, dan melatih anak didik adalah tugas guru sebagai profesi. Tugas guru sebagai pendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup kepada anak didik.
Tugas guru sebagai pengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada anak didik. Tugas guru sebagai pelatih berarti mengembangkan keterampilan dan menerapkannya dalam kehidupan demi masa depan anak didik.
Tugas kemanusiaan salah satu segi dari tugas guru. Sisi ini tidak bisa guru abaikan, karena guru harus terlibat dengan kehidupan di masyarakat dengan interaksi sosial. Guru harus menanamkan nilai-nilai kemanusiaan kepada anak didik. Dengan begitu anak didik dididik agar mempunyai sifat kesetiakawanan sosial.
Di bidang kemasyarakatan merupakan tugas guru yang juga tidak kalah pentingnya. Pada bidng ini guru mempunyai tugas mendidik dan mengajar masyarakat untuk menjadi warga negara Indonesia yang bermoral pancasila.
Guru bertanggung jawab kepada kepala sekolah dan mempunyai tugas melaksanakan kegiatan proses belajar mengajar secara efektif dan efisien ;
Tugas dan tanggungjawab guru meliputi :
1) Membuat perangkat program pengajaran.
a. AMP
b. Program Tahunan
c. Program satuan pelajaran
d. Program rencana pengajaran
e. Program mingguan guru
f. LKS
2) Melaksanakan kegiatan pembelajaran.
3) Melaksanakan kegiatan penilaian proses belajar, ulangan harian, ulangan umum, ujian akhir.
4) Melaksanakan analisis hasil ulangan harian.
5) Menyusun dan melaksanakan program perbaikan dan pengayaan.

6) Mengisi daftar nilai siswa.
7) Melaksanakan kegiatan membimbing (pengimbasan pengetahuan) kepada guru lain dalam proses kegiatan belajar mengajar 8) Membuat alat pelajaran/alat peraga.
9) Menumbuh kembangkan sikap menghargai karya seni.
10) Mengikuti kegiatan pengembangan dan pemasyarakatan kurikulum.
11) Melaksanakan tugas tertentu di sekolah.
12) Mengadakan pengembangan program pengajaran yang menjadi tanggung jawabnya.
13) Membuat catatan tentang kemajuan hasil belajar siswa.
14) Mengisi dan meneliti daftar hadir siswa sebelum memulai pengajaran.
15) Mengatur kebersihan ruang kelas dan ruang praktikum.
16) Mengumpulkan dan menghitung angka kredit untuk kenaikan pangkatnya.

4 Staf Tata Usaha
Kepala Sekolah mendelegasikan tugas ketatausahaan kepada Kepala Urusan Tata Usaha sebagai koordinator, yang selanjutnya mengkoordinasikan kepada anggota tugas tentang uraian tugas yang harus dilaksanakan. Kemudian tugas bendahara adalah membantu Kepala Sekolah dalam pengelolaan administrasi keuangan sekolah yang mempunyai fungsi ; mengambil, menyimpan,membayarkan dan mempertanggung jawabkan secara administrasi keuangan (SPJ) tepat waktu.
Kepala Tata Usaha sekolah mempunyai tugas melaksanakan ketatausahaan sekolah dan bertanggung jawab kepada kepala sekolah dalam kegiatan – kegiatan sebagai berikut :
1) Penyusunan program kerja tata usaha sekolah.
2) Pengelolaan keuangan sekolah.
3) Pengurusan administrasi ketenagaan dan siswa.
4) Pembinaan dan pengembangan karir pegawai serta tata usaha sekolah.
5) Penyusunan administrasi perlengkapan sekolah.
6) Penyusunan dan penyajian data / statistik sekolah.
7) Mengkoordinasikan dan melaksanakan 7K. 8) Penyusunan laporan pelaksanaan kegiatan pengurusan ketatausahaan secara berkala.

5. BP / BK
Dismping wali kelas yang mengururi tindak tanduk siswa BP / BK memberikan pelayanan tentang salah-masalah yang dihadapi nya. Kasus-kasus yang tidak mampu untuk diselesaikan sendiri agar dikonsultasikan atau dialih tugaskan kepada petugas Bimbingan dan Konseling sekolah. Pada prinsipnya senakal apapun anak masih ada sisi baiknya, jika perlu dikonsultasikan dengan orang tua/wali murid untuk solusinya.

6. Komite Sekolah
Peran orang tua sangat penting dan paling efektif adalah oarng tua sebagai penyedia lingkungan belajar efektif, sehingga pelajar dapat belajar dengan baik.

7. Wali Kelas
Disamping sebagai petugas pengelola kelas dan penyelenggara administrasi kelas, Wali kelas harus mampu berperan sebagai pengganti orang tua murid di sekolahnya. Mengetahui perkembangan akademik anak didiknya secara konfrehensif, membuat catatan-catatan khusus.
Kasus-kasus yang tidak mampu untuk diselesaikan sendiri agar dikonsultasikan atau dialih tugaskan kepada petugas Bimbingan dan Konseling sekolah. Pada prinsipnya senakal apapun anak masih ada sisi baiknya, jika perlu dikonsultasikan dengan orang tua/wali murid untuk solusinya.
Wali kelas membantu kepala sekolah dalam kegiatan – kegiatan sebagai berikut :
1) Pengelolaan kelas
2) Penyelenggaraan administrasi kelas meliputi :
a. Denah tempat duduk siswa
b. Papan absensi siswa
c. Daftar pelajaran kelas
d. Daftar piket kelas
e. Buku absensi siswa
f. Buku kegiatan pembelajaran / buku kelas
g. Tata tertib siswa
3) Penyusunan pembuatan statistik bulanan siswa
4) Pengisian daftar kumpulan nilai siswa (Legger)
5) Pembuatan catatan khusus tentang siswa
6) Pencatatan mutasi siswa.
7) Pengisian buku laporan penilaian hasil belajar 8) Pembagian buku laporan penilaian hasil belajar

8. Pustakawan
Buku adalah sebagai salah satu sarana sumber ilmu pengetahuan dan teknologi, semakin banyak buku yang dibaca akan terasa semakin kecil pengetahuan seseorang. Disamping sebagai petugas yang bertanggung jawab atas pengelolaan perpustakaan, Pustakawan berkoordinasi dengan seluruh guru mata pelajaran untuk memotivasi anak agar gemar membaca.
Arahkan waktu senggang anak untuk pergi ke perpustakaan untuk mencari informasi dari tugas yang diberikan oleh gurunya, kegiatan tersebut dilaksanakan secara rutin dan berkelanjutan, niscaya budaya membaca dapat ditanamkan sehingga dapat menjadi salah satu kebutuhan hidupnya.
Pustakawan sekolah membantu kepala sekolah dalam kegiatan – kegiatan sebagai berikut :
1) Perencanaan pengadaan buku/bahan pustaka/media elektronika.
2) Pengurusan pelayanan perpustakaan.
3) Perencanaan pengembangan perpustakaan
4) Pemeliharaan dan perbaikan buku – buku/bahan pustaka/media elektronika.
5) Inventarisasi dan pengadministrasian buku–buku/bahan pustaka/media elektronika.
6) Melakukan layanan bagi siswa, guru, dan tenaga kependidikan lainnya, serta masyarakat.
7) Penyimpanan buku – buku perpustakaan /media elektronika 8) Menyusun tata tertib perpustakaan
9) Menyusun laporan pelaksanaan kegiatan perpustakaan secara berkala.

9. Osis / siswa
Disini peran utamanya adlah siswa sebagai pelaksana dan dikoordinasi oleh waka kesiswaan .mengenai kegiatan atau agenda yang diterapkan sebagai organisasi intra sekolah (osis ).

Berdasarkan penerapan administrasi pendidikan disekolah dapat disimpukan bahwa dengan adanya administrasi pendidikan khusunya yang diterapkan disekolah ini bertujuan untuk mempermudah proses pmbelajaran atau pendidikan dan perlu ditekankan bahwa fungsi pokok administrasi pendidikan sangat erat hubungannya satu sama lain, dan kesemuanya merupakan suatu proses keseluruhan yang tidak bias dipisahkan dengan yang lain dikarenakan rangkaian kegiatan yang kontinyu.

PEPNUTU

1 Kesimpulan
Administrasi pendidikan adalah suatu kegiatan kerja sama atau proses pengintegrasian segala sesuatu baik personal maupun material yang tergabung dalam orgaisasi pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan sebelumnya agar efektif dan efisien.
Administrasi pendidikan juga memiliki sebuah fungsi, diantara fungsi administrasi pendidikan adalah:
• perencanaan(planning) adalah aktivitas memikirkan dan memilih rangkaian tindakan-tindakan yang tertuju pada tercapainya maksu-maksud dan tujuan pedndidikan”.
• pengorganisasian adalah aktivitas-aktivitas menyusun dan membentuk hubungan-hubungan sehingga terwujudlah kesatuan usaha dealam mencapai maksud-maksud dan tujuan-tujuan pendidikan”.
• koordinasi adalah aktivitas membawa orang-orang, material, pikiran-pkiran, teknikk-teknik dan tujuan-tujuan kedalam hubungan yang harmonis dan produktif dalam mencapai suatu tujuan”
• komunikasi dalam setiap bentuknya adalah suatu proses yang hendak mempengaruhi sikap dan perbuatan orang-orang dalam struktur organisasi”.
• supervise sebagai fungsi administrasi pendidikan berarti aktivitas-aktivitas untuk menentukan komdisi-kondisi/syarat-syarat yang esensial yang akan menjamin tercapainya tujuan-tujuan pendidikan”.dalam kepegawaian yang menjadi titik penekanan ialah personal itu sendiri. Aktivitas yang dilakukan di dalam kepegawaian antara lain : menentukan, memilih, menempatkan dan membimbing personel.
• Biaya/pambiayaan merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam sebuah organisasi karena biaya ini sangat menentukan bagi kelancaran jalannya sebuah organisasi, tanpa biaya yang mencukupi tidak mungklin terjamin kelancaran jalannya suatu organisasi.
• Evaluasi sebagai fungsi administrasi pendidikan adalah aktivitas untuk meneliti dan mengetahui sampai di mana pelaksanaan yang dilakukan di dalam proses keseluruhan organisasi mencapai hasil sesuai denhan rencana atau program yang telah di tetapkan dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan.
Adapun tujuan dari administrasi pendidikan adalah:
1. efektifitas produksi
2. efesiensi
3. kemampuan menyesuaikan diri (adaptivenes)
4. kepuasan kerja
administrasi pendidikan juga memiliki sebuah ruang lingkup (bidang garapan) didalam pengelolaannya. Diantara administrasi pendidikan adalah:
a. administrasi tata laksana sekolah
b. administrasi personel guru dan pegawai sekolah
c. administrasi peserta didik
d. supervisi pengajaran
e. pelaksanaan dan pembinaan kurikulum
f. pendirian dan perencanaan bangunan sekolah
g. hubungan sekolah dan masyarakat
didalam administrasi pendidikan terdapat pulasebuah prinsip-prinsip yang dapat menunjang kegiatan administrasi dan mencapai tujuan administrasi pendidikan karena prinsip ini merupakan sesuatu yang dijadikan sebagai pengayaan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Diantara prinsip-prinsip administrasi pendidikan adalah:
1. Adanya kerja sama sekelompok orang
2. Adanya penataan dan pengaturan dari kerja sana tsb
3. Adanya SDM (sumber daya manusia/personal) yang harus ditata
4. Adanya peralatan dan perlengkapan (non manusia ) yang harus ditata
5. Adanya tujuan yang hendak dicapai bersama dari kerjasama tersebut
a. Kepala Sekolah adalah seorang pemimpin sekaligus seorang manager yaitu orang yang memimpin dan mengelola management sekolah yang harus memiliki dasar-dasar dan syarat kepemimpinan serta harus memahami fungsi-fungsi dasar management.
b. Tugas-tugas yang telah didelegasikan kepada petugas yang telah ditunjuk, dikoordinasikan dengan anggota kelompok tugasnya sehingga terbentuk Team Work yang kompak sebagai partner kerja kepala sekolah untuk melaksanakan program kerja yang telah di gariskan.
c. Dengan penerapan fungsi-fungsi dasar management, diharapkan sekolah dapat menghasilkan prestasi yang berkualitas dan berkualitas dalam prestasi.

2. Saran
Untuk meningkatkan mutu pendidikan dan kualitas sumber daya manusia hendaknya setiap kepala pimpinan agar dapat membuat Program Kerja Sekolah atau pendidikan yang efesien sebagai pedoman untuk pelaksanaan kegiatan operasional sekolah dan sebagai alat kontrol dalam memutuskan kebijakan-kebijakan yang diambil.

DAFTAR PUSTAKA

Drs.M. ngalim purwanto, MP, administrasi dan sepervisi pendidikan,PT Remaja Rosdakarya,Bandung, 1987, 2009.
Drs.The Liang Gie, pengertian, kedudukan dan perincian ilmu administrasi, edisi ke dua, direvisi oleh Drs,sutarto Karya kencana, Yogyakarta,1978,p.9
Drs.sidid A. kuntoro, M.Ed, Administrasi pendidikan sebagai ilmu dan sebagai karir, Yogyakarta, 1979.
Robert E. Wilson, education administration, Charles E. Merril Books, Inc, colombus, ohio,1966.,
Moh. Rifai, M.A., administrasi dan supervise pendidikan, percetakan sekar Djaja, Bandung
Good Carter,v Dectionary of education , second Edition,1959
Oteng Sutina, M.Sc.Ed.,Prof.Dr.,Administrasi pendidikan, Dasar teoritis untuk praktek profesional, penerbit Angkasa, Bandung, 1985
DEP.P dan K, materi dasar pendidikan program akta v, buku II C ,Administrasi pendidikan, Ditjen pendidikan tinggi, proyek pengembangan Institusi pendidikanTinggi, 1981.
Sianipar,Drs,T., Hubungan sekolah dengan masyarakat”’ Makalah jurusan administrasi pendidikan , FKIP-IKIP Jakarta,1984
Linn,Henry H., (Ed.) school businiss Administration, The Ronald press Company, NEW York,1956.
Burhanudin, Drs. Yusak. Administrasi Pendidikan, Pustaka Setia, Bandung: 2005
Daryanto, Drs. H.M. Administrasi Pendidikan, Rekaka Cipta: 2001
Nawawi, DR. Hadari. Administrasi Pendidikan, Gunung Agung, Jakarta: 1997

LOKASI OBSERVASI

Kecamatan : Wanadadi
Kabupaten : Banjar Negara
Kelurahan : Karang Kemiri

h

TAMPAK DEPAN
Skematik

• Tampak bawah : konstruksi rangka batang pada jembatan ini dapat kita lihat konstruksinya dengan tepi atas dan bawah sejajar
• konstruksi rangka batang dengan diagonal naik turun..yaitu diantarany :batang tepi atas, batang tepi bawah, batang diagonal, dan batang vertical. Konstruksi baja yang digunakan pada jembatan ini berbentuk canal.

Tampak pondasi :P ondasi yang digunakan dalam konstruksi ini adalah mengunakan pondasi batu kali, konstruksi tumpuan yang digunakan berupa tumpuan engsel. Konstruksi bentang jembatan ini mengunakan balok, perletakan balok berada pada daiatas lantai kerja yang terbuat dari baja dengan konstruksi rangka batang dengan diagonal naik turun. Sejajar yang di ikat dengan tali seling.
Pasda sepanjang bentang jembatan ini konstruksi rangka batang dipasang dengan jarring yang terdiri dari segitiga – segitiga dan dua batang dengan titik simpul, persamaan ini akan mendapatkan konstruksi rangka batang statis dan stabil.

 konstruksi tumpuan jepitdan perletakan sambungan nya
 suatu titik simpul pada konstruksi rangka batang, diapit dengan plat bahul. (Tumpuan jepit)

Konstruksi rangka batang ini mengunakn sambungan dengan baut, dengan pola segitiga dan segi empat. Dan ada yang membentuk trapezium.Baut yang digunakan dalam sambungan ini yaitu baut tidak mengunqkqn cicin, sehingga jika diputar keras mur akan rawan londot, karena tidak mengunakan cicin, karena cicin berfungsi jika pegas muatan berat tidak akan lepas

• konstruksi tumpuan pada bentang rangka jembatan ini mengunakan tumpuan jepit, perletakan balok pada konstruksi tumpuan nya dijepit pada baja dengan sambungan baut dan titik akhir sambungan mengunakan tumpuan engsel yang ada didalam sambungan pada titik simpul.. tumpuan engsel ini utuk menjaga kestabilan beban agar tidak terjadi retak atau patahn karena bentang mengunakan balok yang di tumpu dengan baja yang sisambung dengan baut.
• Pada konstruksi ini beban yang diterima yaitu beban :
a. Beban angin
b. Beban rangka batang itu sendiri

• tali seling yang terdapat pada setiap titik simpul rangka batang yang dihubungkan pada tali seling yang terpasang pada bentaangan yang terpasang pada kedua tower pada titik simpul. Seling ini dirancang autuk dapat menahan konstruksi dari beban-beban rangka jembatan itu sendiri maupun beban yang ada pada jembatan dan untuk menjaga keseimbanga lengkungan pada konstruksi jembatan agar beban dapat terbagi rata.
• Karena konstruksi jembatan ini tidak mengunakan pondasi dibawahnya , maka seling sebagai tumpuan pondasi dengan mengikat rangka batang jembatan .

TUGAS STRUKTUR BAJA

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Konstruksi Baja
Dosen Pengampu : Anis Rahmawati ST,MT

Disusun Oleh
:
Makmur Khasani
K1508013

PENDIDIKAN TEKNIK SIPIL / BANGUNAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2010

MANUSIA KESERAGAMAN DAN KESEDERAJATAN
MAKALAH
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar
Dosen Pengampu : Siti Rochani

Disusun Oleh :

KELOMPOK V

M . KHASANI K1508013
MAHFUDZ NUR. R K1508040
SRI LESTARI K1508048
RINA NUR LIANTI K1508019

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNIK SIPIL/BANGUNAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2009

DAFTAR ISI
Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I Manusia Keseragaman dan Kesederajatan
A. Pendahuluan
B. Keseragaman Manusia
C. Manusia sebagai Subjek dan Objek
D. transformasi Budaya dan Sasaranyya.
BAB II Faktor-faktor pengaruh keseragaman dan kesederajatan manusia
A. Pengetahuan yang positif dan produktif.
B. Keadilan Manusia dan Keadilan Tuhan
C. Melestarikan Keseragaman dan kesederajatan
D. Masalah keseragaman dan kesederajatan
BAB III Penutup
Kesimpulan dan Saran
Daftar Pustaka

KATA PENGANTAR

Dalam Undang-Undang NO. 2 Tahun 1989 tentang system pendidikan Nasional, bahwa tujuan pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur,memiliki pengetahuan dan keterampilan, kepribadian, mandiri serta bertanggunga jawab.
Keseragaman manusia dan Kesederajatan merupakan masalah yang sangat rumit, salah satu pandangan filsafat mengatakan bahwa manusia makhluk monodualis jiwa raga, dari aspek jiwa manusia memiliki cipta, rasa, dan karsa sehinga dalam tingkah lakunya mampu mempertimbangkan. Nilai-nilai yang terkandung dalam keseragaman dan kesederajatan manusia akan membawa manusia pada potensi sebagai makhluk yang piling sempurna, dengan keistimewaan manusia menyebabkan manusia perlu keseragaman dan kesederajatan agar dapat memikul amanah sebagai kholifah yang bermoral dimuka bumi ini.
Perbedaan dari kelompok masyarakat satu dengan kelompok masyarakat yang lain ini akan menyebabkan lemahnya mental dalam kehidupan sehari-hari oleh karena itu, manusia dilengkapi oleh potensi-potensi yang berupa kekuatan fisik, potensi mental meliputi akal bentuknya,kelebihan akal fikirnya, kewajiban berbakti dengan Tuhan dan potensi berupa qolbu hal ini menjadikan manusia bermoral, merasakan keindahan, kenikmatan beriman dan kehadiran Tuhan secara spiritual.

Surakarta,Oktober 2009

Penulis

BAB 1
MANUSIA KESERAGAMAN DAN KESEDERAJATAN

A. PENDAHULUAN
Masalah keseragaman dan kesederajatan manusia sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari hal ini erat kaitanya dengan kebudayaan-kebudayaan yang ada di Indonesia yang bermacam jenisnya dan bentuknya, mereka menyadari bahwa keseragaman sangat diperlukan guna mencapai masyarakat yang sehat, damai, tentram,dan aman dan untuk mewujudkan ini semua perlu adanya pendekatan baik melalui ekternal maupn internal, Hakekat manusia merupakan masalah yang sangat rumit maka perlu adanya kesedaran yang tinggi untuk membentuk manusia yang bermoral mengingat potensi-potensi yang ada pada manusia sebagai mahkluk yang semprrna,maka kesederajatan sebagai manusia akan mudah tercapai.

B. KESERAGAMAN MANUSIA
Hakekat manusia sama berasal dari Tuhan pencipta segala mahkluk dan alam semesta. Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, manusia diberi akal perasaan dan kehendak yang menyatakan kesempurnaannya sebagai makhluk budaya. Makhluk yang sifatnya menginginkan yang benar, dan yang bermanfaat bagi kehidupan bersama sesuai dengan kemampuannya. Sifat ini manusiawi semua manusia diciptakan sama memiliki kodrat. Kesamaan tersebut menunjukan eksistensiuniversal manusia dimana saja, oleh karena itu hakekat manusia itu sama. Namun dalam menhadapi lingkungan alam dan social manusia tadak hanya mewujudkan kesamaan tetapi juga ketidaksamaan dan ketidakseragaman, yang diungkapkan dalam berbagai bentuk dan corak fikiran, perasaan, perbuatan dan hasil fikiran serta perbuatannya.
Karena manusia itu makhluk social yang menharuskannya hidup bermasyarakat, maka corak fikiran , perasaan, dan perbuatan yang tidak sama atau tidak seragam akan menhasilkan penilaian dan nilai-nilai yang disatu sisi bermanfaat dan menguntungkan sedangkan dilain sisi tidak bermanfaat dan merugikan kehidupan bersama. Untuk mengontrol corak pikiran, perasaan dan perbuatan mana yang manusiawi dan mana yang tidak manusiawi, manusia sebagai makhluk budaya berupaya menciptakan kesatuan pandangan. Kesatuan pandangan merupakan kesepakatan bersamadan diakui sebagai nilai-nilai kemanusiaan yang dijadikan pedoman hidup bersama.

C. MANUSIA SEBAGAI SUBJEK DAN OBJEK
Dalam pengkajian masalah keseragaman, manusia menempati posisi ganda,artinya manusia tidak hanya sebagai subjek(pelaku) tetapi juga sebagai objek (sasaran). Masalah ini diarahkan pada :
• diri manusia sendiri dan nilai-nilai kemanusiaan.
• hubungan manusia manusia, hubungan manusia dengan alam, dan hubungan manusia dengan Tuhan sang pencipta.
Atas dasar terbut akan dapat dipahami sikap dan perbuatan manusiawi dan tidak manusiawi, sesuai dengan etika pergaulan dan sesuai dengan hokum.Beranjak dari diri manusia sendiri akan terunkap gambaran berbagai macam pola hidup manusia untuk mencapai keseragaman dan kesederajatan, penkajian diri manusia sendiri juga akan mengungkapkan berbagai aspek kehidupan manusiawi. Aspek kehidupan manusiawi ini diungkapkan melalui sikap dan perbuatan yang sesuai dengan system nilai budaya sebagai pedoman hidup, yakni saling menyayangi, melindungi, menghargai, menguntungkan, menyenangkan, dan membahagiakan yang dirasakan sebagai keindahan hidup.

D. TRANSFORMASI BUDAYA DAN SASARANNYA
a. Transformasi budaya
Dalam tinjauan pendidikan dimaknakan sebagai fungsi penerus budaya tentang beberapa hasil kehidupan maupun akumulasi budaya , tagas manusia dalam hal ini dalah melengkapkan diri dengan material budaya agar dapat hidup dimasyarakat. Sebagai proses untuk mengarahkan dan mengatur manusia agar dapat mentranspormasikan diri dan dapat menerima budaya-budaya yang lain dengan menghargai nya. Diakui dalam masyarakat yang didalam nya terdapat keragaman budaya akan sangat sulit untuk menumukan keseragaman, namun dengan perkembangan yang ada sekarang ini pendidikan yang brtfungsi sebagai transmisi budaya sehingga nilai- nilai budaya dapat diselaraskan dengan norma-norma yang ada.

b. Klasifikasi Sasaran
Lingkungan merupakan salah satu unsure dalam menentukan keseragaman dan kesederajatan. Memahami lingkungan tidak dapat dipisahkan dari pemahaman akan konsepsi pendidikan itu sendiri, mengapa demikian ? pendidikan merupakan proses untuk membentuk manusia menjadi manusia yang beradap, bermoral dan bertaqwa. Dari sini manusia akan berjalan untuk menghadapi berbagai macamjenis kehidupan untuk mencapai taraf hidup seimbang dari masyarakat satu dengan masyarakat yang lain, mengingat manussia adalah makhluk tang paling sempurna yang diciptakan oleh Tuhan untuk saling menyayangi,memahami,dan menghormati satu sama lain. dimana untuk mencapai keseragaman dapat dimulai dari :
• diri sendiri sebagai manusia
• lingkungan keluarga
• lingkungan sekolah,kelompok,organisasi dan instansi lainnya
lingkungan masyarakat /umum

a. diri sendiri sebagai manusia
Sebelum melangkah lebih jauh manusia sebagai subjek( pelaku ) mampu menyesuaikan diri sebagai manusia dalam bentuk pendekatan- pendekatan diantaranya hubungan manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan alam, dan hubugan terhadap Tuhan ( agama ) terutama tentang keagamaan nya agar dapat mencetak pribadi yang baik, pribadi yang mampu membedakan diri kita sebagai manusia dengan ciptaan nya lain. Karna dalam diri manusia terdapat unsure-unsur yang teriri dari jasmani dan rohani.
b. Lingkungan keluarga
keluaga merupakan linkungan pertama bagi manusia dalam memproses prilaku, dilingkungan keluargalah pengaruh-pengaruh akan muncul tergantung pada bimbingan dalam keluaga, karena keluaga merupakan lembaga tertua yang bersifat informa dan kodrati. Lingkungan keluarga berfungsi :
• membentuk dasar moral
•menanamkan dasar sosial
• mencetak pribadi yang beriman dan bertaqwa ( agama )

c. Lingkungan Sekolah
Sekolah sebagai lembaga pendidikan resmi dalam meyelanggarakan secara berencana, sengaja, terarah, sistematis yang dikemas secara terprogram. Disekolah inilah akan Nampak keseragaman dan kesederajatan manusia sebagai makhluk yang berakal, dengan aturan atau norma-norma yang diberlakukan disekolah yang berfungsi menyeratakan dan tidak membeda-bedakan yang satu dengan yang lainnya, misalnya ekonomi tinggi dengan ekonomi rendah. Contohnya dalam berpakaian sekolah dan administrasi lainya. Peranan dan fungsi sekolah ini untuk:
• membantu keluarga dalam mendidik.
• memberikan pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap secara lengkap sesuai yang dibetuhkan.

d. Lingkungan masyarakat
masyarakat sebagai lembaga ketiga setalah lembaga pendidikan formal (sekolah ) akan memberikan sumbangan yang sangat berarti dalam proses pembentukan kepribadian manusia.Lingkungan masyarakat berperan sebagai pematangan apa yang telah di terima dalam lingkungan sekolah dan keluarga, kegiatan ini meliputi:
• perkembangan rasa social dalam komunikasi dengan orang lain
• pembinaan sikap dan kerja sama dengan anggota masyarakat
• pembinaan ketrampilan dan kecakapan khusus yang belum didapat

BAB II
FAKTOR-FAKTOR PENGARUH KESERAGAMAN
DAN KESEDERAJATAN MANUSIA

A. PENGETAHUAN YANG POSITIF DAN PRODUKTIF

a. Pengetahuan yang Positif dan produktif
Tentukan dahulu pengetahuan dan tujuan yang akan diproses, setelah itu tetapkan tijuan hidup serta sasaran sebagai acuan hidup yang setiap manusia menginginkan keseragaman atau kesamaan dalam menjalani kehidupan karena manusia itu sama derajat dan martabatnya jadi memiliki keinginan yang sama, misi dan visi yang sama pula . tetapi untuk memperoleh keseragaman dan kesederajatan ini memerlukan proses tersendiri.mengingat budaya global yang sekarang ini semakin mengglobal ini rasanya sulit bagi manusia untuk berdiri sendiri.
Kemajuan teknologi berperan dalam mengubah budaya yag terus mengglobal, banyak alat-alat yang dibuat dibeberapa tempat sebelum menjadi produk yang kita gunakan. Dalam waktu yang tidak lama lagi dipredisikan bahwa tidak aka ada lagi budaaya yang murni budaya setempat, hal-hal yang berpengaruh besar terbentuk nya budaya global diantaranya pengunaan alat komunikasi dan elektronik seperti: televise, flim, video, dan internet yang dapat menyebarkan suatu berita dengan cepat dan masih banyak yang lain nya seperti munculnya organisasi dunia dibidang ekonomi seperti :APEC, WTO, OPEC dan kebudayaan lainnya yang memicu keseragaman dan kesederajatan manusia.

Dalam mencapai pengetahuan yang positif akan lebih sulit dari pada pengetahuan yang negative, ini dapat kita pelajari melalui :

• belajar dari pengalaman diri sendiri
• belajar dari pengalaman orang lain
• belajar dari buku, audio book dan internet
• pergaulan yang positif

b. Displin Diri Memproses Kesederajatan Hidup

seperti diuraikan diatas memang tidak mudah untuk bisa disiplin dengan mengalahkan ego diri sendiri dan memelihara kedisplinan hidup. Padahal displin diri menunjukan sikap bahwa manusia itu rendah dan jika kita dapat mengendalikan ego kita sendiri bersrti manusia memproses dirinya bahwa sebenarnya manusia sama derajatnya dalam kehidupannya, ini dapat kita rasakan walaupun berbeda-beda suku,ras,budaya dan bangsa tetapi derajat kita sama sebagai manusia. Jadikanlah disiplin diri menjadi kebiasaan hidup kita sehari-hari maka keseragaman hidup dan kesederajatan manusia dapat kita rasakan dengan adanya Tuhan yang menciptakan manusia.

c. Unsur-unsur yang mendorong manusia dan kesederajatannya
keseragaman dan kesederajatan ini merupakan suatu keadaan pikiran, oleh karena itu harus bisa dikembangkan. Seperti semua keadaan pikiran, keseragaman dan kesederajatan akan tumbuh dari satu sebab yang pasti diantaranya :

• kepastian tujuan
Mengetahui apa tujuan manusia dalam hidup yang akan dicapai, jika motif terhadap tujuan kita untuk mewujudkan keseragaman dan kesederajatan sangat kuat tentunya akan memaksa seseorang selalu mampu mengatasi kesulitan.
• keinginan
Untuk memelihara keseragaman dan kesederajatan dalam mengejar sasaran, diperlukan hasrat yang membara dan terus menerus dipelihara sehingga ia bisa menjadi keinginan yang besar.
• kemandirian
Keyakinan terhadap kemampuan diri kita sendiri untuk melaksanakan rencana serta mendorong seseorang mencapai tujuan ini sangat diinginkan pada setiap manusia sebagai makhluk sosial, kesadaran yang dimiliki nantinya akan membawa keseragaman, saling meghargai satu dengan yang lainnya dan kesederajatan manusia adalah hasil dari pola hidup yang sehat yang mampu memahami keadaan.
• pengetahuan
Bagaimana mengetahui rencana yang mantap berdasarkan pengalaman atau pengamatan ini juga merupakan salah satu pendorong keseragaman manusia untuk membentuk pribadi yang mampu untuk mengambil suatu tindakan ini meliputi setrategi dan sasaran.
• kerjasama
Kerjasama degan lajur yang positif akan cendrung mengembangkan keuletan, ini berarti manusia mampu menerima dan mampu memberikan dengan pola pikir yang cocok sehingga akan mudah menghadapi kesulitan yang dihadapi, proses kerjasama ini adalah awal dari keseragaman dan bahwa manusia itu sama-sama memiliki potensi untuk menciptakan yang terbaik.
• keimanan ( keyakinan )
Dalam kehidupan manusia iman mempunyai kedudukan yang sangat penting, kerena semata-mata hamper seluruh aspek kehidupan manusiadan segala yang menjadi tindakannya selalu dilandaskan kepada iman (keyakinan, kepercayaan ). Memang sebagian manusia ada yang tidak percaya akan adanya sesuatu yang tidak dapat merasakannya. Bagi golongan manusia seperti itu, akan sulit menerima kehidupan. Meraka tidak akan penah merasa puas apa yang mereka capai.

B. KEADILAN MANUSIA DAN KEADILAN TUHAN
A. keadilan manusia
setiap manusia memiliki beberapa kebutuhan di antaranya kebutuhan tersebut ada yang hanya dapat dipenuhi sempurna apabila berhubungan lasung dengan manusia. Dalam hubungan itu timbul kewajiban dan hak masing-masing pihak yang sifatnya seimbang, tidak berat sebelah. Pihak-pihak memenuhi kewajibannya dan hak nya secara seimbang pula dan juga tidak berat sebelah atau tidak sewenang-wenang. Keadilan manusia dalam hubungan atara sesame manusia, dan keadilan manusia itu bersifat relative.

a. konsep adil dan rasa keadilan
adil dalah sifat manusia, menurut artinya. “adil “artinya tidak sewenang-wenang kepada diri sendiri maupun kepada pihak lain, pihak lain itu sendiri meliputi anggota masyarakat, alam lingkungan, dan Tuhan sang pencipta. Jadi konsep adil berlaku kepada diri sendiri sebagai individu, dan kepada pihak lain sebagai anggota masyarakat, alam lingkungan, dan Tuhan sang pencipta.
Tidak sewenang-wenang dapat berupa :
• Sama ( seimbang ) nilai bobot yang tidak berbeda.
• tidak berat sebelah, perlakuan yang sama, tidak pilih kasih.
• Wajar, seperti apa adanya, tidak menyimpang, tidak lebih dan tidak kurang.
• patut/layak, dapat diterima karena sesuai, harmonis, dan propesional.
• Perlakuan terhadap diri sendiri, sama seperti perlakuan terhadap pihak lain dan sebaliknya.

Dalam konsep adil berlaku tolak ukur yang sama kepada pihak yang berbuat dan kepada pihak yang lain terhadap kemana perbuatan itu ditujukan implikasanya, prilaku kepada dirii sendiri seharusnya sama pula dengan perlakuan terhadap pihak lain. Misalnya pada pakaian seragam sekolah semuanya disamakan baik itu dari ekonomi tinggi maupun ekonomi rendah dan aturan-aturan yang berlaku baik itu dalam lingkungan sekolah maupu dalam msyarakat, ada norma-norma yang mengatur kehidupan manusia akan tetapi ada oknum-oknum tertentu yang tidak mematuhi sehinga dapat menimbulkan kesenjangan social.

b. Perlakuan adil
setiap manusia dapat melihat perlakuan adil itu dari sudut pandang masing-masing, sehingga tanggaapannya mungkin sama dan mungkin juga tidak sama antara satu dengan yang lainnya. Kemungkinan ketidaksamaan itu terletak pada nilai bobot kualitas perlakuannya berbeda, maka timbullah gradasi peerlakuan dari perlakuan adil keperlakuan yang kurang adil sampai keperlakuan yang tidak adil. Banyak contoh yang dapat kita ambil dari prilaku adil, dalam kehidupan sehari-hari kita telah melakukan ibadah menurut keyakinan nya masing-masing ini juga merupakan penyataan adil kita terhadap waktu dalam artian kita dapat membagi waktu dengan baik karena perlakuan adil itu bermula dari kesadaran kita sendiri.

c. Prilaku tidak adil
sebaliknya, apabila perlakuan manusia tidak disadari oleh rasa keadilan yang akan terjadi adalah perlakuan tidak adil. Akibat perlakuan sewenang-wenang adalah penderitaan dan ketidakpastian kehidupan manusia menjadi tidak menentu, tidak tentram, dan gelisah bahkan mungkin kematian. Banyak contoh perlakuan tidak adil baik yang terungkap dalam kehidupan nyata maupun dalam karya cipta.

Pada tanggal 8 januari 1987, dalam harian suara karya Jakarta diberitakan tentang perlakuan tdak adil seorang presiden terhadap rakyatdan pejabat tinggi negaranya. Presiden yang dimaksud adalah diktato jean Bedel Bokasa, sebagaimana dikutip sebagai berikut:
Presiden Afrika tengah jean bedel bokasa ketika masih berkuasa memerintahkan membunuh seorang wanita bernama Monique yimale, karena wanita ini memiliki empat buah dada.
Keadilan manusia yang terjadi dalam hubungan antara sesama manusia dapat dibedakan menjadi 3 ( tiga) macam , yaitu keadilan koordinatif, subordinatif, dan superordinatif. Ketiga macam keadilan ini mempuyai arti tersendiri diantaranya:
• keadilan koordinatif
Keadilan koordinatif terjadi dalam hubungan antara sesama anggota masyarakat (anggota kelompok ). Dalam hunungan tersenut kedudukan pihak-pihak tersebut setara, sejajar, dan tidak melebihi sata sama lain. Menurut prof. Djojodigoeno (1956) hubungan koordinatif dibedakan dua tipe yaitu: hubungan pamrih dan hubungan pengutuban. Dalam hubungan pamrih tiap pihak dibebani kewajiban dan diberi hak yang seimbang, dan harus saling memenuhi kewajiba untuk memperoleh hak nya. Ukuran keadilan biasanya sudah ditetapkan berupa nilai atau harga yang sama antara kewajiban dan haknya

• keadilan subordinatif
Keadilan subordinatif terjadi dalam hubungan dengan penguasa atau warga negara dengan pemerintah. Anggota rakyat telah memilih dan mengangkat pemimpinnya sebagai penguasa, penguasa wajib memenuhi tuntutan rakyat secara wajar, berarti adil. Apabila penguasa menjadi dictator dan memerintahkan semaunya sendiri, ini tidak adil. Keadilan subordinate dapat terjadi karena rakyat telah bersedia melaksanakan kewajiban atau pengabdian terhadap negara, tentunya saling memahami sebagai penguasa dan rakyat atas tugasnya atau kedudukannya masing-masing.

• keadilan superordinstif
Keadilan superordinatif terjadi dalam hubungan penguasa dengan rakyat atau pemerintah dengan warga negaranya,dalam hubungan superordinatif inisiatif pelaksanaan memenihi kebutuhan rakyat dimulai dari penguasa terhadap rakyat. Pemenuhan kebutuhan rakyat oleh penguasa merupakan realisasi janji penguasa terhadap rakyat ketika akan diangkat sebagai penguasa, apabila penguasa telah melaksanakan program dengan baik mulai dari pembangunan, kesehatan ,dan kesejahteraan rakyat, keseragaman hidup dalam masyarakat akan tejamin dan tingkat kesedaran manusia lebih baik sehingga nilai kesederajatan manusia mudah di cerna dan diterima dalam kehidupan sehari-hari.

d. keadilan Tuhan
Keadilan Tuhan terjadi dalam hubungan manusia dengan Tuhan, keadilan Tuhan bersifat mutlak. Tuhan adalah pencipta segalanya, karena manusia itu adalah makhluk ciptaannya sudah adil apabila dalam hubungan manusia dengan Tuhan itu manusia harus mengabdi kepada Tuhan. Prof. Dr. Harun Nasution menyatakan bahwa keadilan ajaran yang sangat penting dalam agama, keadilan disini adalah kehendak atau kekuasaan Tuhan. Manusia hidup sesuai dengan kekuasaan Tuhan. Manusia bebas mengunakan akalnya untuk mewujudkan kehendaknya baik atau pun buruk.

C. MELESTARIKAN KESERAGAMAN DAN KESEDERAJATAN

• Kesadaran sebagai manusia
sebagai manusia kita sadar akan apa yang dihrapkan oleh mesip manusia, apa bila kita dapat melestarikan keseragaman dan kesederajatan manusia dalam kehidupan sehari-hari tentunya akan membawa keharmonisan, perdamaian, dan suasana yang sehat.

• Tanggung Jawbab sebagai Manusia
Seorang mau bertanggung jawab karena ada kesadaran atau pengertian atas segala perbuatan dan akibnyab bagi diri sediri dan bagi kepentingan pihak lain, atau bagi alam lingkungan atu bagi Tuhan. Tanggung jawab adalah salah satu agar keseragaman dan kesederajatan dapat menjadi cuan kita.

Atas dasr hubungn dengn pihak lain atau alam lingkungan dan Tuhan, dapat dikenal dan diinventarisasikan beberapa ragam tipe tanggung jwab :
• tanggung jawab kepada diri sendiri
• tanggung jawab kepda keluarga
• tanggug jawbab kepada sesame manusia
• tanggnug jawab kepada lingkungan / alam
• tanggung jawab kepada Tuhan
Tipe-Tipe ini yang nantinya membwa manusia menuju kesadaran bahwa manusi saling membutuhkan satu sama lain.

D. MASALAH KESERAGAMAN DAN KESEDERAJATAN
• Banyak manusia yang tahu tentang peraturan dan hukum akan tetapi masih banyak yang belum mengetahui dan masih banyak yang belum mempunyai kesadaran untuk menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini manusia sangat berpengaruh pada linngkungan tempat tinggalnya. Dalam menjalani kehidupan sehari-hari manusia telah diatur dengan pancasila dan undang-undang daras 1945 yang menjadi landasan hidup. Namun masih banyak yang belum dapat memahami dan menerapkan dalam kehidupan.
Ada beberapa factor antara lain:
1. Faktor keturunan
Faktor yang mengatakan bahwa sifat dan bakat anak itu diturunka dari orang tuanya atau pembawaan anak yang dibawa sejak lahir.

2. Faktor lingkungan
Faktor ini mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap kepribadian anak. Faktor lingkugan itulah dari pengalaman-pengalaman yang memperkaya pengetahuan manusia.

3. Faktor diri (Self)
Merupakan factor yang berasal dari diri sendiri. Faktor ini dapat berupa motivasi dari diri manusia sendiri berupa hal-hal yag unik dari manusia sendiri, misalnya:kecerdasan yang berbeda, sikap yang berbeda, watak atau tabiat, dan lain-lain.

4. Faktor religi.
Keyakinan terhadap pencipta membuat manusia berusaha untuk memahami perbedaaan, serta menyeimbangkan factor-faktor diatas. Sehingga, tercapailah kesederajatan dalam hidup.

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN

Keseragaman dan kesederajatan merupakan keinginan dan tujuan setiap manusia dalam menjalani kehidupan agar tercipta suasana yang harmonis, aman, tentram, dan damai. Menciptakan suasana yang indah adalah tujuan kita bersama, Tanggung jawab manusia untuk melakukan introspeksi diri dalam menjalani kehidupannya,Tanpa keseragaman dan kesederajatan alangkah meruginya kita sebagai mnusia yang didalam nya terdapat potensi-potensi yang tidak dimiliki ciptaan Tuhan selain manusia.

DAFTAR PUSTAKA

Alisyahbana, Sultan Takdir, prof. Dr. S.H. 1981. Kebudayaan dan peradaban.

2000, Pendidikan, kebudayaan madani Indonesia, Bandung:Remaja rosda karya .

HAR Tilaar, 1999, pendidikan, kebudayaan dan masyarakat madani Indonesia, strategi Reformasi pendidikan Nasional, Bandung: Remaja rosda karya.

Koentjaraningrat, prof. Dr. 1982, kebudayaan, mentalitas dan pembangunan. penerbitGramedia. Jakarta.

Darmono, Sapardi Djoko, prof. Dr. 1981. Tanggung Jawab.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Suatu proses belajar ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku.Berhasil tidaknya proses belajar mengajar tergantung dari faktor-faktor dan kondisi yang mempengaruhi proses belajar siswa. Faktor dan kondisi yang mempengaruhi proses belajar sesungguhnya banyak sekali macamnya, baik yang ada pada diri siswa sebagai pelajar,pada guru sebagai pengajar,metode mengajar,bahan materi pelajaran harus diterima siswa, maupun sarana dan prasarana.

1.2. Identifikasi Masalah

Pokok permasalahan penelitian ini adalah kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa dalam belajar akuntansi. Untuk mempelajari materi akuntansi diperlukan cara dan metode belajar yang berbeda bila dibandingkan dengan ilmu sosial lainnya.
Faktor kesulitan belajar yang bersumber dari siswa,misalnya motivasi, kemauan,perhatian,metode belajar yang kurang tepat,waktu belajar yang terbatas,kurangnya sumber belajar yang diperlukan.Disamping itu metode mengajar yang kurang tepat serta kurang mampunya siswa menerima materi pelajaran dapat juga sebagai faktor penyebab kesulitan siswa belajar akuntansi.

1.3. Perumusan Masalah

a) Faktor-faktor kesulitan apakah yang dihadapi siswa dalam belajar akuntansi.
b) Bagaimana pemecahannya agar kesulitan belajar siswa dapat di atasi.

1.4. Tujuan

Tujuan umum untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui proses belajar mengajar (siswa,guru,materi pelajaran dan fasilitas)secara tepat guna di sekolah.

1.5. Kegunaan

a) Memberi sumbangan terhadap ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan mata pelajaran akuntansi.

b) Sebagai pedoman dalam mengatasi dan menanggulangi permasalahan yang timbul dalam pengajaran akuntansi.

c) Memperbaiki proses belajar mengajar terutama pada pelajaran akuntansi sehingga dapat memperkecil kesulitan yang dihadapi siswa.

BAB II
PEMBAHASAN

1. Pengertian Kesulitan Belajar

Aktivitas belajar bagi setiap individu, tidak selamanya dapat berlansung secara wajar. Kadang – kadang lancar, kadang – kadang tidak, kadang – kadang dapat cepat menangkap apa yang dipelajari, kadang terasa amat sulit. Dalam hal semangat terkadang semangat tinggi, tetapi terkadang juga sulit untuk mengadakan konsentrasi. Dalam hal dimana anak didik/ siswa tidak dapat belajar sebagaimana mestinya, itulah yang disebut dengan kesulitan belajar. Kesulitan belajar ini tidak selalu disebabkan karena faktor intelgensi yang rendah (kelainan) mental akan tetapi dapat juga disebabkan oleh faktor – faktor non intelgensi. Dengan demikian, IQ yang tinggi belum tentu menjamin keberhasilan belajar.

Macam – macam kesulitan belajar dapat dikelompokkan menjadi empat bagian :
1. dilihat dari jenis kesulitan belajar :
- ada yang berat
- ada yang sedang
2. dilihat dari bidang studi apa yang dipelajarinya :
- ada yang sebagian bidang studi dan
- ada yang keseluruhan bidang studi
3. dilihat dari sifat kesulitannya :
- ada yang sifatnya permanen/ menetap dan
- ada yang bersifat hanya sementara
4. dilihat dari faktor penyebabnya
- ada yang karena faktor intelgensi dan
- ada yang karena faktor non intelgensi

2. Faktor – Faktor Penyebab Kesulitan Belajar

Faktor – faktor yang menyebabkan kesulitan belajar dapat digolongkan ke dalam dua golongan yaitu :
1) Faktor intern
a) Sebab Yang Bersifat Fisik :
1. Karena sakit
Seseorang yang sakit akan mengalami kelemahan fisiknya, sehingga saraf sensoris dan motorisnya lemah.
2. Karena kurang sehat
Anak yang kurang sehat dapat mengalami kesulitan belajar, sebab ia mudah capek, mengantuk, pusing, daya konsentrasinya hilang, kurang semangat, pikiran terganggu.
3. Sebab karena cacat tubuh
- Cacat tubuh yang bersifat ringan seperti kurang pendengaran, kurang penglihatan, ganguan psikomotor.
- Cacat tubuh yang tetap seperti buta, tuli, isu, hilang tangannya dan kakinya. Bagi golongan yang serius, maka harus masuk pendidikan yang khusus seperti SLB, bisu tuli, TPAC-SROC.

b) Sebab – Sebab Kesulitan Belajar Karena Rohani :
1. Intelgensi
Anak yang IQ-nya tinggi dapat menyelesaikan segala persoalan apa yng dihadapi.
2. Bakat
Bakat adalah potensi/ kecakapan dasar yang dibawa sejak lahir
3. Minat
Tidak adanya minat seseorang anak terhadap sesuatu pelajaran akan timbul kesulitan belajar.
4. Motivasi
Motivasi sebagai faktor yang inner (batin) berfungsi menimbulkan, mendasari, mengarahkan perbuatan belajar
5. Faktor kesehatan mental
Dalam beljar tidak hanya menyangkut segi intelek, tetapi juga menyangkut segi kesehatan mental dan emosional.

6. Tipe – tipe khusus seorang pelajar
- Seorang yang bertipe visual, akan lebih cepat mempelajari bahan – bahan yang disajikan secara tertulis, bagan, grafik, gambar.
- Anak yang bertipe auditif mudah mempelajari bahan yang disajikan dalam bentuk suara.
- Individu yang betipe motorik, mudah mempelajari yang berupa tulisan – tulisan, gerakan – gerakan dan sulit mempelajaribahan yang berupa suara dan penglihatan.

2) Faktor Orang Tua
a) Faktor Keluarga
1. Faktor Orang Tua
a. Cara mendidik anak
Orang tua yang tidak / kurang memperhatikan pendidikan anak – anaknya, mungkin acuh tak acuh, tidak memperhatikan kemajuan belajar anak –anaknya
b. Hubungan Orang Tua Dan Anak
Sifat hubungan orang tua dan anak sering dilupakan. Yang dimaksud hubungan adalah kasih sayang penuh pengertian atau kebencian, sikap keras,acuh tak acuh, memanjakan dan lain – lain.
c. Contoh / bimbingan dari orang tua
Orang tua merupakan contoh terdekat dari anak – anaknya. Segala yang diperbuat orangtua tanpa disadari akan ditiru oleh anaknya.
2. Suasana rumah / keluarga
Suasana keluarga yang sangat ramai/ gaduh, tidak mungkin anak dapat belajar dengan baik. Anak akan selalu terganggu konsentrasinya, sehingga sulit untuk belajar.
3. Keadaan ekonomi keluarga
Keadaan ekonomi digolongkan dalam :
a. keadaan yang kurang/miskin
b. ekonomi yang berlebihan

b) Faktor Sekolah
yang dimaksud sekolah, antara lain adalah ;
1. Guru
Guru dapat menjadi sebab kesulitan belajar, apabila :
a. Guru tidak berkualtas
b. Hubungan guru dengan murid kurang baik
c. Guru – guru yang menuntut pelajaran diatas kemampuan anak
d. Guru tidak cakap dalam uasaha diagnosis kesulitan belajar
e. Metode pengajaran guru yang dapat menimbulkan kesulitan belajar
2. Faktor alat
Alat pelajaran yang kurang lengkap membuat penyajian pelajaran yang tidak baik. Terutama pelajaran yang bersifat pratikum..
3. Kondisi Gedung
Terutama ditujukanpada ruan kelas / ruangan tepat belajar anak.
4. Kurikulum
Kurikulum yang kurang baik misalnya :
a. Bahan – bahannya terlalu tinggi
b. Pembagian pelajaan tidak seimbang
c. Adanya pendataan materi
5. Waktu sekolah dan disiplin kurang

c) Faktor Mass Media Dan Lingkungan Sosial
1. Faktor mass media meliputi : bioskop, TV, surat kabar, majalah, buku – buku komik yang ada di sekeliling kita.
2. Lingkungan sosial
a. Teman bergaul
b. Lingkungan tetangga
c. Aktivitas dalam masyarakat

3. Cara mengenal murid yang mengalami kesulitan belajar
Beberapa gejala sebagai pertanda adanya kesulitan belajar, misalnya :
1. menunjukkan prestasi yang rendah dibawah rata –rata yang dicaai oleh kelompok kelas.
2. hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan. Ia berusaha dengan keras tetapi nilainya selalu rendah
3. lambat dalam melakukan tugas – tugas kelas
4. menunjukkan sikap yang kurang wajar
5. menunjukkan tingkah laku yang berlainan

Dari gejala yang tampak itu, guru bisa menginterpretasi bahwa ia kemungkinan mengalami kesulitan belajar. disamping melihat gejala – gejala yang tampak, guru pun bisa mengadakan penyeledikan antara lain dengan :
1. Obsevasi : cara memperoleh data dengan lansung mengamati terhadap objek.
2. Interview : cara mendapatkan data dengan cara wawancara lansung terhadap orang yang diselidiki atau orang lain yang dapat memberikan informasi tentang orang yang diselidiki.
3. Tes diagnosis : suatu cara mengumpulkan data dengan tes.
4. Dokumentasi : cara mengetahui sesuatu dengan melihat catatan – catatan, arsip – arsip, dokumen – dokumen yang berhubungan dengan orang yang diselidiki.

4. Usaha Mengatasi Kesulitan Belajar
Langkah – langkah yang yang perlu ditempuh dalam rangka mengatasi kesulitan belajar, dapat dilakukan melalui enam tahap, yaitu :
1) Pengumpulan data
Untuk menemukan sumber penyebab kesulitan belajar, diperlukan banyak informasi.
2) Pengolahan data
Data yang telah terkumpul dari kegiatan tahap pertama tersebut, tidak ada artinya jika tidak diadakan pengolahan secara cermat.
3) Diagnosis
Diagnosis adalah keputusan penentuan mengenai hasil dari pengolahan data.
4) Prognosis
Prognosis artinya ramalan. Apa yang telah ditetapkan dalam tahap diagnosis, akan menjadi dasar utama dalam menyusun dan menetapkan ramalan mengenai apa yang harus diberikan kepadanya untuk membantu mengatasi masalahnya.

5) Treatment (perlakuan)
Perlakuan disini maksudnya adalah pemberian bantuan kepada anak yang bersangkutan (yang mengalami kesulitan belajar) sesuai dengan program yang telah pada tahap prognosis tersebut.
6) Evaluasi
Evaluasi disini dimaksudkan untuk mengetahui apakah treatment yan telah diberikan diatas berhasil dengan baik, artinya ada kemajuan, atau bahkan gagal sama sekali.

KESULITAN BELAJAR SISWA DAN BIMBINGAN BELAJAR
Oleh : Akhmad Sudrajat
A. Kesulitan Belajar.
Dalam kegiatan pembelajaran di sekolah, kita dihadapkan dengan sejumlah karakterisktik siswa yang beraneka ragam. Ada siswa yang dapat menempuh kegiatan belajarnya secara lancar dan berhasil tanpa mengalami kesulitan, namun di sisi lain tidak sedikit pula siswa yang justru dalam belajarnya mengalami berbagai kesulitan. Kesulitan belajar siswa ditunjukkan oleh adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar, dan dapat bersifat psikologis, sosiologis, maupun fisiologis, sehingga pada akhirnya dapat menyebabkan prestasi belajar yang dicapainya berada di bawah semestinya.
Kesulitan belajar siswa mencakup pengetian yang luas, diantaranya : (a) learning disorder; (b) learning disfunction; (c) underachiever; (d) slow learner, dan (e) learning diasbilities. Di bawah ini akan diuraikan dari masing-masing pengertian tersebut.
1. Learning Disorder atau kekacauan belajar adalah keadaan dimana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan. Pada dasarnya, yang mengalami kekacauan belajar, potensi dasarnya tidak dirugikan, akan tetapi belajarnya terganggu atau terhambat oleh adanya respons-respons yang bertentangan, sehingga hasil belajar yang dicapainya lebih rendah dari potensi yang dimilikinya. Contoh : siswa yang sudah terbiasa dengan olah raga keras seperti karate, tinju dan sejenisnya, mungkin akan mengalami kesulitan dalam belajar menari yang menuntut gerakan lemah-gemulai.
2. Learning Disfunction merupakan gejala dimana proses belajar yang dilakukan siswa tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya siswa tersebut tidak menunjukkan adanya subnormalitas mental, gangguan alat dria, atau gangguan psikologis lainnya. Contoh : siswa yang yang memiliki postur tubuh yang tinggi atletis dan sangat cocok menjadi atlet bola volley, namun karena tidak pernah dilatih bermain bola volley, maka dia tidak dapat menguasai permainan volley dengan baik.
3. Under Achiever mengacu kepada siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat potensi intelektual yang tergolong di atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah. Contoh : siswa yang telah dites kecerdasannya dan menunjukkan tingkat kecerdasan tergolong sangat unggul (IQ = 130 – 140), namun prestasi belajarnya biasa-biasa saja atau malah sangat rendah.
4. Slow Learner atau lambat belajar adalah siswa yang lambat dalam proses belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama.
5. Learning Disabilities atau ketidakmampuan belajar mengacu pada gejala dimana siswa tidak mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil belajar di bawah potensi intelektualnya.
Siswa yang mengalami kesulitan belajar seperti tergolong dalam pengertian di atas akan tampak dari berbagai gejala yang dimanifestasikan dalam perilakunya, baik aspek psikomotorik, kognitif, konatif maupun afektif . Beberapa perilaku yang merupakan manifestasi gejala kesulitan belajar, antara lain :
1. Menunjukkan hasil belajar yang rendah di bawah rata-rata nilai yang dicapai oleh kelompoknya atau di bawah potensi yang dimilikinya.
2. Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan. Mungkin ada siswa yang sudah berusaha giat belajar, tapi nilai yang diperolehnya selalu rendah
3. Lambat dalam melakukan tugas-tugas kegiatan belajarnya dan selalu tertinggal dari kawan-kawannya dari waktu yang disediakan.
4. Menunjukkan sikap-sikap yang tidak wajar, seperti: acuh tak acuh, menentang, berpura-pura, dusta dan sebagainya.
5. Menunjukkan perilaku yang berkelainan, seperti membolos, datang terlambat, tidak mengerjakan pekerjaan rumah, mengganggu di dalam atau pun di luar kelas, tidak mau mencatat pelajaran, tidak teratur dalam kegiatan belajar, dan sebagainya.
6. Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar, seperti : pemurung, mudah tersinggung, pemarah, tidak atau kurang gembira dalam menghadapi situasi tertentu. Misalnya dalam menghadapi nilai rendah, tidak menunjukkan perasaan sedih atau menyesal, dan sebagainya.
Sementara itu, Burton (Abin Syamsuddin. 2003) mengidentifikasi siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar, yang ditunjukkan oleh adanya kegagalan siswa dalam mencapai tujuan-tujuan belajar. Menurut dia bahwa siswa dikatakan gagal dalam belajar apabila :
1. Dalam batas waktu tertentu yang bersangkutan tidak mencapai ukuran tingkat keberhasilan atau tingkat penguasaan materi (mastery level) minimal dalam pelajaran tertentu yang telah ditetapkan oleh guru (criterion reference).
2. Tidak dapat mengerjakan atau mencapai prestasi semestinya, dilihat berdasarkan ukuran tingkat kemampuan, bakat, atau kecerdasan yang dimilikinya. Siswa ini dapat digolongkan ke dalam under achiever.
3. Tidak berhasil tingkat penguasaan materi (mastery level) yang diperlukan sebagai prasyarat bagi kelanjutan tingkat pelajaran berikutnya. Siswa ini dapat digolongkan ke dalam slow learner atau belum matang (immature), sehingga harus menjadi pengulang (repeater)
Untuk dapat menetapkan gejala kesulitan belajar dan menandai siswa yang mengalami kesulitan belajar, maka diperlukan kriteria sebagai batas atau patokan, sehingga dengan kriteria ini dapat ditetapkan batas dimana siswa dapat diperkirakan mengalami kesulitan belajar. Terdapat empat ukuran dapat menentukan kegagalan atau kemajuan belajar siswa : (1) tujuan pendidikan; (2) kedudukan dalam kelompok; (3) tingkat pencapaian hasil belajar dibandinngkan dengan potensi; dan (4) kepribadian.
1. Tujuan pendidikan
Dalam keseluruhan sistem pendidikan, tujuan pendidikan merupakan salah satu komponen pendidikan yang penting, karena akan memberikan arah proses kegiatan pendidikan. Segenap kegiatan pendidikan atau kegiatan pembelajaran diarahkan guna mencapai tujuan pembelajaran. Siswa yang dapat mencapai target tujuan-tujuan tersebut dapat dianggap sebagai siswa yang berhasil. Sedangkan, apabila siswa tidak mampu mencapai tujuan-tujuan tersebut dapat dikatakan mengalami kesulitan belajar. Untuk menandai mereka yang mendapat hambatan pencapaian tujuan pembelajaran, maka sebelum proses belajar dimulai, tujuan harus dirumuskan secara jelas dan operasional. Selanjutnya, hasil belajar yang dicapai dijadikan sebagai tingkat pencapaian tujuan tersebut. Secara statistik, berdasarkan distribusi normal, seseorang dikatakan berhasil jika siswa telah dapat menguasai sekurang-kurangnya 60% dari seluruh tujuan yang harus dicapai. Namun jika menggunakan konsep pembelajaran tuntas (mastery learning) dengan menggunakan penilaian acuan patokan, seseorang dikatakan telah berhasil dalam belajar apabila telah menguasai standar minimal ketuntasan yang telah ditentukan sebelumnya atau sekarang lazim disebut Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Sebaliknya, jika penguasaan ketuntasan di bawah kriteria minimal maka siswa tersebut dikatakan mengalami kegagalan dalam belajar. Teknik yang dapat digunakan ialah dengan cara menganalisis prestasi belajar dalam bentuk nilai hasil belajar.
2. Kedudukan dalam Kelompok
Kedudukan seorang siswa dalam kelompoknya akan menjadi ukuran dalam pencapaian hasil belajarnya. Siswa dikatakan mengalami kesulitan belajar, apabila memperoleh prestasi belajar di bawah prestasi rata-rata kelompok secara keseluruhan. Misalnya, rata-rata prestasi belajar kelompok 8, siswa yang mendapat nilai di bawah angka 8, diperkirakan mengalami kesulitan belajar. Dengan demikian, nilai yang dicapai seorang akan memberikan arti yang lebih jelas setelah dibandingkan dengan prestasi yang lain dalam kelompoknya. Dengan norma ini, guru akan dapat menandai siswa-siswa yang diperkirakan mendapat kesulitan belajar, yaitu siswa yang mendapat prestasi di bawah prestasi kelompok secara keseluruhan.
Secara statistik, mereka yang diperkirakan mengalami kesulitan adalah mereka yang menduduki 25 % di bawah urutan kelompok, yang biasa disebut dengan lower group. Dengan teknik ini, kita mengurutkan siswa berdasarkan nilai nilai yang dicapainya. dari yang paling tinggi hingga yang paling rendah, sehingga siswa mendapat nomor urut prestasi (ranking). Mereka yang menduduki posisi 25 % di bawah diperkirakan mengalami kesulitan belajar. Teknik lain ialah dengan membandingkan prestasi belajar setiap siswa dengan prestasi rata-rata kelompok. Siswa yang mendapat prestasi di bawah rata – rata kelompok diperkirakan pula mengalami kesulitan belajar.
3. Perbandingan antara potensi dan prestasi
Prestasi belajar yang dicapai seorang siswa akan tergantung dari tingkat potensinya, baik yang berupa kecerdasan maupun bakat. Siswa yang berpotensi tinggi cenderung dan seyogyanya dapat memperoleh prestasi belajar yang tinggi pula. Sebaliknya, siswa yang memiliki potensi yang rendah cenderung untuk memperoleh prestasi belajar yang rendah pula. Dengan membandingkan antara potensi dengan prestasi belajar yang dicapainya kita dapat memperkirakan sampai sejauhmana dapat merealisasikan potensi yang dimikinya. Siswa dikatakan mengalami kesulitan belajar, apabila prestasi yang dicapainya tidak sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Misalkan, seorang siswa setelah mengikuti pemeriksaan psikologis diketahui memiliki tingkat kecerdasan (IQ) sebesar 120, termasuk kategori cerdas dalam skala Simon & Binnet. Namun ternyata hasil belajarnya hanya mendapat nilai angka 6, yang seharusnya dengan tingkat kecerdasan yang dimikinya dia paling tidak dia bisa memperoleh angka 8. Contoh di atas menggambarkan adanya gejala kesulitan belajar, yang biasa disebut dengan istilah underachiever.
4. Kepribadian
Hasil belajar yang dicapai oleh seseorang akan tercerminkan dalam seluruh kepribadiannya. Setiap proses belajar akan menghasilkan perubahan-perubahan dalam aspek kepribadian. Siswa yang berhasil dalam belajar akan menunjukkan pola-pola kepribadian tertentu, sesuai dengan tujuan yang tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Siswa diakatan mengalami kesulitan belajar, apabila menunjukkan pola-pola perilaku atau kepribadian yang menyimpang dari seharusnya, seperti : acuh tak acuh, melalaikan tugas, sering membolos, menentang, isolated, motivasi lemah, emosi yang tidak seimbang dan sebagainya.
B. Bimbingan Belajar
Bimbingan belajar merupakan upaya guru untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam belajarnya. Secara umum, prosedur bimbingan belajar dapat ditempuh melalui langkah-langkah sebagai berikut
1. Identifikasi kasus
Identifikasi kasus merupakan upaya untuk menemukan siswa yang diduga memerlukan layanan bimbingan belajar. Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2003) memberikan beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk mendeteksi siswa yang diduga mebutuhkan layanan bimbingan belajar, yakni :
1. Call them approach; melakukan wawancara dengan memanggil semua siswa secara bergiliran sehingga dengan cara ini akan dapat ditemukan siswa yang benar-benar membutuhkan layanan bimbingan.
2. Maintain good relationship; menciptakan hubungan yang baik, penuh keakraban sehingga tidak terjadi jurang pemisah antara guru dengan siswa. Hal ini dapat dilaksanakan melalui berbagai cara yang tidak hanya terbatas pada hubungan kegiatan belajar mengajar saja, misalnya melalui kegiatan ekstra kurikuler, rekreasi dan situasi-situasi informal lainnya.
3. Developing a desire for counseling; menciptakan suasana yang menimbulkan ke arah penyadaran siswa akan masalah yang dihadapinya. Misalnya dengan cara mendiskusikan dengan siswa yang bersangkutan tentang hasil dari suatu tes, seperti tes inteligensi, tes bakat, dan hasil pengukuran lainnya untuk dianalisis bersama serta diupayakan berbagai tindak lanjutnya.
4. Melakukan analisis terhadap hasil belajar siswa, dengan cara ini bisa diketahui tingkat dan jenis kesulitan atau kegagalan belajar yang dihadapi siswa.
5. Melakukan analisis sosiometris, dengan cara ini dapat ditemukan siswa yang diduga mengalami kesulitan penyesuaian sosial
2. Identifikasi Masalah
Langkah ini merupakan upaya untuk memahami jenis, karakteristik kesulitan atau masalah yang dihadapi siswa. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar, permasalahan siswa dapat berkenaan dengan aspek : (a) substansial – material; (b) struktural – fungsional; (c) behavioral; dan atau (d) personality. Untuk mengidentifikasi masalah siswa, Prayitno dkk. telah mengembangkan suatu instrumen untuk melacak masalah siswa, dengan apa yang disebut Alat Ungkap Masalah (AUM). Instrumen ini sangat membantu untuk mendeteksi lokasi kesulitan yang dihadapi siswa, seputar aspek : (a) jasmani dan kesehatan; (b) diri pribadi; (c) hubungan sosial; (d) ekonomi dan keuangan; (e) karier dan pekerjaan; (f) pendidikan dan pelajaran; (g) agama, nilai dan moral; (h) hubungan muda-mudi; (i) keadaan dan hubungan keluarga; dan (j) waktu senggang.
3. Diagnosis
Diagnosis merupakan upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timbulnya masalah siswa. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar faktor-faktor yang penyebab kegagalan belajar siswa, bisa dilihat dari segi input, proses, ataupun out put belajarnya. W.H. Burton membagi ke dalam dua bagian faktor – faktor yang mungkin dapat menimbulkan kesulitan atau kegagalan belajar siswa, yaitu : (a) faktor internal; faktor yang besumber dari dalam diri siswa itu sendiri, seperti : kondisi jasmani dan kesehatan, kecerdasan, bakat, kepribadian, emosi, sikap serta kondisi-kondisi psikis lainnya; dan (b) faktor eksternal, seperti : lingkungan rumah, lingkungan sekolah termasuk didalamnya faktor guru dan lingkungan sosial dan sejenisnya.
4. Prognosis
Langkah ini untuk memperkirakan apakah masalah yang dialami siswa masih mungkin untuk diatasi serta menentukan berbagai alternatif pemecahannya, Hal ini dilakukan dengan cara mengintegrasikan dan menginterpretasikan hasil-hasil langkah kedua dan ketiga. Proses mengambil keputusan pada tahap ini seyogyanya terlebih dahulu dilaksanakan konferensi kasus, dengan melibatkan pihak-pihak yang kompeten untuk diminta bekerja sama menangani kasus – kasus yang dihadapi.
5. Remedial atau referal (Alih Tangan Kasus)
Jika jenis dan sifat serta sumber permasalahannya masih berkaitan dengan sistem pembelajaran dan masih masih berada dalam kesanggupan dan kemampuan guru atau guru pembimbing, pemberian bantuan bimbingan dapat dilakukan oleh guru atau guru pembimbing itu sendiri. Namun, jika permasalahannya menyangkut aspek-aspek kepribadian yang lebih mendalam dan lebih luas maka selayaknya tugas guru atau guru pembimbing sebatas hanya membuat rekomendasi kepada ahli yang lebih kompeten.
6. Evaluasi dan Follow Up
Cara manapun yang ditempuh, evaluasi atas usaha pemecahan masalah seyogyanya dilakukan evaluasi dan tindak lanjut, untuk melihat seberapa pengaruh tindakan bantuan (treatment) yang telah diberikan terhadap pemecahan masalah yang dihadapi siswa.
Berkenaan dengan evaluasi bimbingan, Depdiknas telah memberikan kriteria-kriteria keberhasilan layanan bimbingan belajar, yaitu :
• Berkembangnya pemahaman baru yang diperoleh siswa berkaitan dengan masalah yang dibahas;
• Perasaan positif sebagai dampak dari proses dan materi yang dibawakan melalui layanan, dan
• Rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh siswa sesudah pelaksanaan layanan dalam rangka mewujudkan upaya lebih lanjut pengentasan masalah yang dialaminya.
Sementara itu, Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2003) mengemukakan beberapa kriteria dari keberhasilan dan efektivitas layanan yang telah diberikan, yaitu apabila:
1. Siswa telah menyadari (to be aware of) atas adanya masalah yang dihadapi.
2. Siswa telah memahami (self insight) permasalahan yang dihadapi.
3. Siswa telah mulai menunjukkan kesediaan untuk menerima kenyataan diri dan masalahnya secara obyektif (self acceptance).
4. Siswa telah menurun ketegangan emosinya (emotion stress release).
5. Siswa telah menurun penentangan terhadap lingkungannya
6. Siswa mulai menunjukkan kemampuannya dalam mempertimbangkan, mengadakan pilihan dan mengambil keputusan secara sehat dan rasional.
7. Siswa telah menunjukkan kemampuan melakukan usaha –usaha perbaikan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya, sesuai dengan dasar pertimbangan dan keputusan yang telah diambilnya
Sumber bacaan :
Abin Syamsuddin, (2003), Psikologi Pendidikan, Bandung : PT Remaja Rosda Karya
Prayitno dan Erman Anti, (1995), Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling, Jakarta : P2LPTK Depdikbud
Prayitno (2003), Panduan Bimbingan dan Konseling, Jakarta : Depdikbud Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah
Seri Pemandu Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Sekolah,(1995), Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah Umum (SMU) Buku IV, Jakarta : IPBI
Winkel, W.S. (1991), Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan, Jakarta: Gramedia

MASALAH KESULITAN BELAJAR
 Kesulitan Belajar dan Alternatif Pemecahannya
Setiap siswa pada prinsipnya tentu berhak memperoleh peluang untuk mencapai kinerja akademik (Academic Performance) yang memuaskan. Namun dari kenyataan sehari-hari tampak jelas bahwa siswa itu memiliki perbedaan dalam hal kemampuan intelektual, kemampuan fisik, latar belakang keluarga, kebiasan dan pendekatan belajar yang terkadang sangat mencolok antara seorang siswa dengan siswa lainnya.
Sementara itu, penyelenggaraan pendidikan disekolah-sekolah kita pada umumnya hanya ditunjukkan kepada para siswa yang berkemampuan rata-rata sehingga siswa yang berkemampuan lebih atau yang berkemampuan kurang terabaikan. Dengan demikian, siswa-siswa yang berkategori “diluar rata-rata” itu (sangat pintar dan sangat bodoh) tidak mendapat kesempatan yang memadahi untuk berkembang sesuai dengan kapasitasnya. Dari sini kemudian timbullah apa yang disebut kesulitan belajar (learning difficulty) yang tidak hanya menimpa siswa berkemampuan rendah saja, tetap juga dialami oleh siswa yang berkemampuan tinggi.
1. Faktor-faktor kesulitan belajar
Secara garis besar, factor-faktor penyebab timbulnya kesulitan belajar terdiri atas dua macam :
1). Faktor Intern siswa, yakni hal-hal atau keadaan-keadaan yang muncul dari dalam diri siswa sendiri.
2). Faktor ekstern siswa, yakni hal-hal atau keadaan-keadaan yang dating dari luar diri siswa.
A. Faktor Intern Siswa
Faktor intern siswa meliputi gangguan atau kekuran mampuan psiko-fisik siswa, yakni :
1) Yang bersifat kognitif (ramah cipta), antara lain seperti rendahnya kapasitas intelektual / intelegensi siswa.
2) Yang bersifat efektif (ramah rasa), antara lain seperti labilnya emosi dan sikap.
3) Yang bersifat psikomotor (ramah karsa), antara lain seperti terganggunya alat-alat indera penglihatan dan pendengar (mata dan telinga)
B. Faktor Ekstern Siswa
Faktor eksern siswa meliputi semua situasi dan kondisi lingkungan sekitar, yang tidak mendukung aktifitas belajar siswa. Factor ini dibagi tiga macam :
1) Lingkungan keluarga
2) Lingkungan perkampungan / masyarakat
3) Lingkungan sekolah
Selain faktor-faktor umum diatas, ada pula faktor-faktor lain yang juga menimbulkan kesulitan belajar siswa. Diantara faktor-faktor yang dapat dipandang sebagai factor khusus ini adalah sindrom psikologis berupa Learning disability (ketidakmampuan belajar) sindrom (Syndrome) yang berarti satuan gejala yang muncul sebagai indicator adanya keabnormalan psikis (Reber, 1988) yang menimbulkan kesulitan belajar itu.
1. Disleksia (dyslexia) : ketidakmampuan belajar membaca
2. Disgrapia (dysgraphia) : ketidakmampuan belajar menulis
3. Diskalkulia (dyscalculia) : ketidakmampuan belajar matematika
2. Diagnosis Kesulitan Belajar
Banyak langkah-langkah diagnostic yang dapat ditempuh guru, antara lain yang cukup terkenal adalah prosedur Weener & Sent ( 1982) sebagaimana yang dikutip Wardani (1991) sebagai berikut :
1. Melakukan observasi kelas untuk melihat perilaku menyimpang siswa ketika mengikuti pelajaran.
2. Memeriksa penglihatan dan pendengaran siswa khususnya yang diduga mengalami kesulitan belajar.
3. Mewawancarai orang tua atau wali siswa untuk mengetahui hal-hal keluarga yang mungkin menimbulkan kesulitan belajar.
4. Memberikan tes diagnostic bidang kecakapan tertentu untuk mengetahui hakikat kesulitan belajar yang dialami siswa.
5. Memberikan tes kemampuan intelegensi (IQ) khususnya kepada siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar.
3. Alternatif Pemecahan Kesulitan Belajar
Sebelum memilih alternatif tertentu guru sangat diharapkan untuk terlebih dahulu melakukan beberapa langkah penting sebagai berikut :
1. Menganalisa hasil diagnosis, yakni menelaah bagian-bagian masalah dan hubungan antar bagian tersebut untuk memperoleh pengertian yang benar mengenai kesulitan belajar yang dihadapi siswa.
2. Mengidentifikasi dan menentukan bidang kecakapan tertentu yang memerlukan perbaikan.
3. Menyusun program perbaikan, khususnya program remedial teaching (pengajaran perbaikan).
Setelah langkah-langkah di atas selesai, barulah guru melaksanakan langkah keempat, yaitu melaksanakan program perbaikan
A. Analisis Hasil Diagnosis
B. Menentukan Kecakapan Bidang Bermasalah
Bidang-bidang kecakapan bermasalah ini dapat dikategorikan menjadi tiga macam :
1. Bidang kecakapan bermasalah yang dapat ditangani oleh guru sendiri.
2. Bidang kecakapan bermasalah yang dapat ditangani guru dengan bantuan orang lain.
C. Menyusun Program Perbaikan
Dalam hal menyusun program pengajaran perbaikan (remedial teaching), sebelumnya guru perlu menetapkan hal-hal sebagai berikut :
1. Tujuan pengajaran remedial
2. Materi pengajaran remedial
3. Metode pengajaran remedial
4. Alokasi waktu pengajaran remedial
5. Evaluasi kemajuan siswa setelah mengikuti program pengajaran remedial.
D. Melaksanakan Program Perbaikan
Program pengajaran remedial ini lebih cepat dilaksanakan tentu saja akan lebih baik. Tempat penyelenggaraannya bisa di mana saja, asal tempat itu memungkinkan siswa klien (siswa yang memerlukan bantuan) memusatkan perhatiannya terhadap proses pengejaran perbaikan tersebut.

Jun
5

Hello world!

Welcome to Blog.com.

This is your first post, produced automatically by Blog.com. You should edit or delete it, and then start blogging!